Arsip untuk Maret, 2007

Perancis Selatan, Sarang Kabbalah (Bag.1)

Maret 28, 2007

Kabbalah atau Qibil dalam bahasa Ibrani awalnya adalah istilah yang netral, yang secara harfiah memiliki arti sebagai ‘lisan’. Namun belakangan, ketika kaum Yahudi menggunakan istilah ini untuk menyembunyikan dan memelihara kepercayaan mistis-esoteris kelompok mereka, maka istilah ini menjadi sangat politis.

Encarta Encyclopedia (2005) menuliskan bahwa istilah Kabbalah berasal dari bahasa Ibrani yang memiliki pengertian luas sebagai ilmu kebatinan Yahudi atau Judaism dalam bentuk dan rupa yang amat beragam dan hanya dimengerti oleh sedikit orang.

Kabbalah ini mempelajari arti tersembunyi dari Taurat dan naskah-naskah kuno Judaisme. Walau demikian, diyakini bahwa Kabbalah sesungguhnya memiliki akar yang lebih panjang dan merujuk pada ilmu-ilmu sihir kuno di zaman Fir’aun yang biasa dikerjakan dan menjadi alat kekuasaan para pendeta tinggi di sekitar Fir’aun.

Kabbalah ini sarat dengan berbagai filsafat esoteris dan ritual penyembahan serta pemujaan berhala, bahkan penyembahan iblis, yang telah ada jauh sebelum Taurat-Musa dan telah menyebar luas bersama Judaisme, yang seluruhnya berurat-berakar pada praktek-praktek kebatinan serta penyembahan dewa-dewi di zaman Mesir Kuno.

Hal tersebut diutarakan pakar sejarah Yahudi Fabre d’Olivet. “Kabbalah merupakan suatu tradisi yang dipelajari oleh sebagian pemimpin Bani Israil di Mesir Kuno, dan diteruskan sebagai tradisi dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, ” jelas d’Olivet. Banyak kalangan percaya, Kabbalah adalah induk dari segala induk ilmu sihir yang ada di dunia hingga hari ini.

Dianutnya Kabbalah oleh orang-orang Yahudi mengundang tanda tanya besar pada diri seorang Harun Yahya. “Ini sungguh aneh. Jika kita memandang Yahudi sebagai sebuah agama monoteistik, yang diawali dengan turunnya Taurat kepada Nabi Musa a. S. Tapi kenyataannya, di dalam agama ini ada sebentuk sistem yang disebut Kabbalah, yang mengadopsi praktik-praktik dasar sihir yang sebenarnya bertentangan dengan Taurat. Hal ini memperkuat apa yang telah disebutkan sebelumnya, dan menunjukkan bahwa Kabbalah sebenarnya merupakan elemen jahat dari luar yang menyusup ke dalam Yudaisme. ”

Merunut akar Kabbalah bukanlah hal yang mudah dilakukan. Para sejarawan Barat menyepakati bahwa Kabbalah merupakan kepercayaan inti dari kelompok mistis tertua dunia yang dikenal dengan sebutan Broterhood of the Snake (Kelompok Persaudaraan Ular). Rezim Raja Namrudz di Babilonia dan Firaun di Mesir merupakan tonggak-tonggak awal yang amat penting bagi perjalanan kepercayaan ini.

Di masa-masa pra dan awal Perang Salib, sekitar abad ke-11 Masehi, Kabbalah mulai menampakkan diri di daerah Perancis Selatan. Peneliti Kabalah Barat, Olivia Prince dan Lynn Picknet, yang kemudian menulis The Templar Revelation, menyatakan bahwa pembawa ajaran ini salah satunya adalah kedatangan sepasukan ksatria Yohanit dari Calabria, Belgia, ke sebuah wilayah yang dikuasai Mathilda de Tuscany dan Godfroi de Boullion.

Ksatria-ksatria Yohanit ini tidak lama tinggal di Perancis. Mereka pergi dan meninggalkan Peter si Pertapa (Peter The Hermit) yang kemudian menjadi “murabbi” bagi Godfroi de Bouillon. Peter ini kemudian menyusup ke Vatikan dan menjadi provokator bagi Paus Urbanus II yang kemudian mengobarkan perang salib guna merebut Yerusalem dari kekuasaan umat Islam.

Dalam serangan Tentara Salib pertama di tahun 1099, baik Peter maupun Godfroi menjadi panglima bagi pasukannya masing-masing. Di hari kejatuhan Yerusalem, Godfroi mendirikan Ordo Biarawan Sion dan 20 tahun kemudian membentuk ordo militer Knights Templar, yang kemudian pada 1307 di Skotlandia mengganti namanya menjadi Freemasonry.

Terusir Dari Yerusalem

Tahun 1188 Salahuddin Al-Ayyubi berhasil membebaskan Yerusalem dan mengusir pasukan Salib dari seluruh wilayah Palestina. Semua tentara Salib kembali ke Eropa. Walau tidak ada catatan tertulis, sebagian besar Ksatria Templar dan Ordo Sion diyakini sejumlah peneliti-antara lain Picknett dan Prince—memilih Perancis Selatan sebagai rumah baru mereka.

Seperti yang telah disinggung di atas, di wilayah ini telah berdiri banyak gereja yang didedikasikan kepada Santo Yohanes dan Maria Magdalena. Gereja-gereja ini tidak menginduk kepada Vatikan, tetapi memiliki kultur dan keyakinannya sendiri yang secara mendasar bertentangan dengan Tahta Suci Vatikan. Mereka juga dikenal sebagai Kaum Yohanit.

Salah satu keyakinan kaum Yohanit adalah gereja warisan Yesus itu sendiri. Vatikan meyakini bahwa Yesus mewariskan gerejanya kepada Santo Petrus yang kemudian menjadikan Tahta Suci Vatikan—sebuah pusat kerajaan Roma Paganistis—sebagai pusat religi bagi umat Kristen dunia.

Namun klaim Vatikan ini ditolak oleh kaum Yohanit yang meyakini Yesus tidak mewariskan gerejanya kepada Santo Petrus, melainkan kepada Maria Magdalena, seorang perempuan yang setia mengikuti Yesus hingga diperisterinya dalam satu pesta perkawinan di Qana, sebuah wilayah yang kini masuk dalam wilayah Lebanon.

Kaum Yohanit juga tidak menganggap Yesus sebagai Tuhan, melainkan Rasul biasa yang hanya meneruskan ajaran Tuhan yang tidak tampak. Dan di akhir zaman, Sang Messiah (The Christ) yang akan turun ke bumi bukanlah Yesus, melainkan Yohannes The Christ. Ini menurut keyakinan kaum Yohanit asli.

Hanya saja, kaum yang semula Unitarian ini menjadi tercampur-aduk dengan ajaran paganis-mistis Kabbalah. Sesungguhnya ini suatu perpaduan yang aneh. Namun benar-benar terjadi. Harun Yahya dan pengkaji masalah Kabbalah meyakini, awal pembelokkan ajaran Unitarian menjadi Kabbalis terjadi ketika Samiri—salah seorang tokoh Broterhood of the Snake—menipu Bani Israil ketika mereka ditinggalkan Musa saat Musa pergi ke Bukit Thursina.

Samiri membuat sebuah patung sapi betina yang dibuat sedemikian rupa sehingga bisa mengeluarkan suara ketika angin bertiup mengenainya. Patung sapi itu pun disembah Bani Israil dan mengacuhkan Nabi Musa a. S.

Bermillenium tahun berjalan, ajaran Kabbalah berkembang dan merasuk ke dalam Yudaisme dan juga Taurat. Para pendeta Kabbalis bahkan membuat ayat-ayat palsu yang membuat Talmud—sebuah kitab yang awalnya sebagai penafsir Taurat dianggap lebih suci ketimbang Taurat.

Dan sebagian besar kaum Yahudi pun menjadi kaum yang mendewakan Talmud. Mereka menjadi kaum yang begitu gandrung dengan Kabbalah dan merasa menjadi bangsa terpilih dengan adanya Kabbalah yang diwariskan secara turun-temurun dengan lisan. Dan ketika mereka berkumpul di Perancis Selatan di abad ke-12 inilah, ajaran Kabbalah dibukukan. Ini terjadi di Aix en Provence.

Rennes Le Chateau

Salah satu desa terpenting di Perancis Selatan yang memiliki banyak petilasan Kabbalah bernama Rennes le Chateau. Nama Pastor Berenger Sauniere tidak bisa dipisahkan dari nama Rennes le Chateau ini.

Tidak terlalu sulit jika suatu waktu Anda ingin berkunjung ke desa ini. Sejak histeria novel The Da Vinci Code, di Paris dan juga di beberapa negara Eropa dan juga Amerika, sejumlah biro perjalanan wisata telah memasukkan nama desa ini menjadi satu tujuan wisata unggulan. Tak heran jika desa ini yang sebelumnya sepi, kini menjadi sebuah desa yang begitu ramai dipenuhi turis.

Jika Anda ingin bepergian sendiri, maka terbanglah ke Bandara Charles de Gaulle di Paris. Dari The City of The Light Paris, tataplah matahari yang bersinar pada siang hari bolong. Ambillah jalan lurus ke selatan, menyusuri garis bujur, melewati Burgundy, Saint Philibert de Tournus, Sungai Rheine, Vienne dan katedralnya di mana pada tahun 1312 di tempat itu berawal gerakan penumpasan terhadap Ksatria Templar, lewat Carcassonne, terus berjalan ke selatan hingga Limoux dan Lembah Aude.

Di lembah ini Anda akan menjumpai Kastil Kathari yang terkenal dalam peristiwa Perang Salib Albigensian (Pembantaian yang dilakukan pasukan Paus terhadap orang-orang Kristen Kathar di Albi), lalu menyusuri jalan yang diapit pegunungan Pyrennes, dan tibalah di sebuah dataran tinggi, maka sampailah Anda di Rennes Le Château.

Perjalanan dari Paris ke desa ini bagaikan sebuah perjalanan sejarah, napak tilas dari sejarah Eropa di abad pertengahan. Semua kisah dan misteri berawal dari desa ini, namun entah mengapa, Dan Brown sama sekali tidak menyinggung nama desa ini secuil pun dalam novel The Da Vinci Code. (Rizki Ridyasmara, bersambung)   < 1 2 3 >

Islam Masuk ke Nusantara Saat Rasulullah SAW Masih Hidup (Bag.1)

Maret 28, 2007

Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.

Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam? Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.

Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.

Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.

Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.

Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.

Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.

Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.

Temuan G. R Tibbets

Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.

“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.

Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).

Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.

Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara

Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.

Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.

Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.

Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.

Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.

Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.

Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai (Rz, Bersambung)   < 1 2 >

Reese Erlich: AS Danai Kelompok Bersenjata untuk Tumbangkan Pemerintah Iran

Maret 28, 2007

Reese Erlich, penulis buku dan wartawan freelance yang selama hampir 20 tahun meliput di kawasan Timur Tengah mengungkapkan fakta penting mengenai peran AS untuk menumbangkan pemerintahan Negara Republik Islam Iran yang sedang berkuasa saat ini. Ia mengungkapkan bahwa AS memanfaatkan kelompok-kelompok perlawanan Kurdi di Irak dan Iran serta secara resmi mendanai kelompok-kelompok bersenjata itu untuk menggulingkan pemerintahan Islam di Teheran.Erlich belum lama ini, memang baru menyelesaikan investigasinya selama tiga minggu terhadap kelompok-kelompok perlawanan Kurdi yang ada di Irak dan Iran. Hasil inevstigasi tersebut akan dituangkannya dalam sebuah buku berjudul The Iran Agenda: the Real Story of U. S. Policy and the Middle East Crisis, yang rencananya akan diterbitkan pada bulan September mendatang. Erlich juga pernah menulis buku berjudul Target Iraq pada tahun 2003.

Dalam wawancara dengan Omid Memarian-wartawan dan aktivis HAM asal Iran-yang dimuat di situs kantor berita Inter Press Service (IPS), edisi 16 Maret 2007, Erlich juga mengungkapkan strategi yang dilakukan AS untuk mencapai tujuannya itu. Antara lain dengan cara propaganda melalui media seperti situs internet, televisi satelit dan radio, juga dengan cara memberikan pelatihan militer secara sembunyi-sembunyi.

Apa yang diungkapkan Erlich bisa jadi benar, karena pemerintah Iran sendiri menuding kelompok-kelompok oposisi telah berupaya mengganggu stabilitas keamanan di perbatasan negara Iran. Belum lama ini, pemerintah Iran bahkan meminta para pejabat pemerintah Irak dari suku Kurdi untuk mengusir milisi-milisi Kurdi bersenjata dan kelompok-kelompok anti-Iran dari wilayahnya, atau Iran akan melakukan tindakan tegas.

Seperti diketahui, AS saat ini sedang geram dengan pemerintahan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad yang bersikeras tidak mau menghentikan program nuklirnya. Tapi sejauh mana sebenarnya keterlibatan AS dalam memanfaatkan kelompok-kelompok Kurdi anti-Iran ini untuk menumbangkan pemerintahan yang sekarang sedang berkuasa di Iran? Berikut fakta-fakta yang diungkapkan Reese Erlich dalam wawancara dengan IPS;

Bisa dijelaskan seperti apa sebenarnya kehidupan kelompok oposisi Kurdi itu?

Mereka tinggal dalam satu kompleks seperti sebuah desa-desa kecil. Mereka punya barak-barak khusus untuk kaum laki-laki yang disebut Peshmurga. Para kader politik tinggal bersama keluarganya dalam rumah-rumah kecil, mirip dengan kehidupan suku Kurdi di Irak. Kelompok ini juga membangun aula pertemuan dan kantor-kantor. Kehidupan kelompok PJAK (Partiya Jiyana Azad a Kurdistanê [Partai Pembebasan Kurdistan]) mirip dengan kehidupan kelompok gerilya, tinggal di pondok-pondok kecil di pegunungan-pegunungan yang dingin.

Seorang pemimpin PJAK menurut pandangan saya adalah “seorang jenderal gerilyawan yang sangat modern.” Dia punya handphone, akses internet dan teve satelit. Kelompok gerilyawan perempuan mengklaim mereka hanya nonton program-program berita. Tapi saya berhasil membuat mereka mengaku bahwa mereka juga nonton film-film yang dibintangi Brad Pitt dan Mel Gibson.

Apakah bantuan AS terbatas hanya bantuan media atau termasuk aktivitas-aktivitas lainnya, seperti operasi militer misalnya?

Secara rahasia, agen-agen intelejen AS juga mensponsori serangan-serangan bersenjata di wilayah Iran. Saya menemukan bahwa AS dan Israel memberi bantuan pada PJAK di Kurdistan. Bantuan juga diberikan oleh para mantan anggota dari kelompok yang disebut kelompok Mujahidin-e Khalq (MEK). AS menanyakan pada para mantan anggota MEK, apakah mereka sudah meninggalkan MEK dan apakah mereka mendukung demokrasi? Jika mereka menjawa “ya”, mereka akan dilatih dan dipersenjatai untuk operasi-operasi klandestin di wilayah Iran.

Saya percaya orang-orang Kurdi dan kelompok minoritas lainnya di Iran mengalami kehidupan yang tidak nyaman. Mereka tidak diizinkan sekolah dengan menggunakan bahasa lokal mereka dan menghadapi berbagai bentuk diskriminasi. Tapi AS telah menemukan sejumlah ekstrimis dari kelompok-kelompok minoritas itu dan berhasil merayu mereka untuk melakukan kekerasan.

Kelompok PJAK berafiliasi dengan Partai Buruh Kurdistan (PKK) dan sudah menjadi kelompok nasionalis yang fanatik, dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran tokoh Abdullah Ocalan. MEK betul-betul pemuja Ocalan, organisasinya dijalankan oleh pemimpin-pemimpin yang otoriter dan keberadaannya sangat dirahasiakan. Kedua kelompok itu menyebut diri mereka sebagai kelompok sosial demokrat, tapi ironisnya, mereka menerima hampir sebagian besar bantuan dari kelompok sayap kiri ekstrim di AS.

Bagaimana mereka mendapatkan bantuan dari para simpatisan mereka di Iran, sementara pemerintahan Iran secara luas telah menghentikan operasi-operasi mereka di wilayah barat Iran?

Saya bertemu dengan tiga orang Kurdi Iran dari kelompok oposisi yang berbasis di utara Irak. Kurdistan Democratic Party of Iran (KDPI) dan Komala mengatakan, mereka merekrut anggota-anggota baru dari Iran dan keduanya memiliki memiliki milisi-milisi yang ditempatkan di peshmurga. Tapi kedua kelompok itu tidak terlibat dalam aktivitas bersenjata di wilayah Iran. Sulit untuk mengetahui dukungan macam apa yang mereka dapatkan dari wilayah Iran, tapi secara historis mereka memiliki pendukung di wilayah-wilayah Kurdi. PJAK lebih kecil dan lebih terisolasi, tapi mereka mendapat dukungan dari kalangan anak muda yang marah atas penindasan yang mereka alami di Iran.

Sumber-sumber saya dari kalangan Kurdi mengungkapkan, ketiga kelompok itu melakukan pertemuan-pertemuan rahasia dengan para pendukungnya di Iran. Ketika terjadi aksi unjuk rasa besar-besaran di Kurdistan tahun 2006, ketiga kelompok itu ikut berdemonstrasi. PJAK lebih militan, mereka menyerukan perlawanan bersenjata dengan mengajaka kalangan anak-anak muda.

Di Iran sendiri terjadi reformasi politik yang cukup dinamis, apakah mereka mendapatkan keuntungan dari situasi itu?

Tiga kelompok tersebut sepakat dalam tiga hal. Mereka mendukung revolusi di Iran dengan tujuan utamanya membangun demokratisasi lewat sistem negara federal. Mereka menginginkan pemerintah pusat merespon isu-isu penting seperti masalah luar negeri, militer dan ekonomi. Sementara pemerintah lokal mengurusi isu-isu lokal seperti pendidikan, kesehatan, kepolisian dan persoalan lokal lainnya. Mereka tidak menyerukan separatisme. Yang bahaya, tentu saja, jika Kurdistan Irak menjadi wilayah yang independen dan pemerintah Iran melanjutkan kebijakan yang dijalankannya saat ini. Hal ini bisa mengarah pada seruan gerakan separatisme.

Apakah kelompok-kelompok oposisi di Iran yang mendapat bantuan dana dari AS mendukung bentuk-bentuk serangan militer terhadap Iran?

KDPI dan kelompok-kelompok yang berseberangan dengan pemerintah, sangat menentang serangan militer AS dengan alasan tindakan itu hanya membuat rakyat Iran menderita. PJAK tidak keberatan dengan bentuk serangan dengan harapan bisa menumbangkan pemerintah Iran. Komala bersikap abstain, tidak menyatakan mendukung atau menentang serangan. Mereka hanya mengatakan, serangan AS ke Iran mungkin bisa menumbangkan pemerintah, tapi Komala tidak menyarankan itu.

Para pejabat AS yang saya tanyai, membantah bahwa AS memberi dukungan pada PJAK. Para pejabat itu mengatakan, posisi pemerintahan Bush adalah memberikan dukungan pada rakyat Iran untuk membangun pemerintahan baru, tapi secara resmi tidak menyerukan “perubahan rejim.” Kenyataannya, AS melakukan apapun dengan kekuasaannya untuk menumbangkan pemerintah Iran yang ada sekarang dan ingin membangun pemerintahan baru di Iran yang lebih “bersahabat” dengan AS.

Apakah ada kontak langsung antara kelompok oposisi Kurdi dan pejabat pemerintah AS? Apakah ada pertemuan secara berkala?

Pada tahun 2006, para pemimpin puncak di Komala dan KDPI berkunjung ke AS dan bertemu dengan para pejabat tingkat menengah di departemen luar negeri dan lembaga intelejen AS. Pertemuan itu merupakan pertemuan resmi yang diliput wartawan. Mereka tidak mau menceritakan pada saya, apa hasil pertemuan itu dan hanya mengatakan bahwa pertemuan itu berlangsung dengan hangat.

Hejri berkunjung ke Washington pada tahun 2006 untuk bertemu dengan para pejabat departemen luar negeri dan pejabat pemerintah AS. Tapi Hejri dan pemimpin KDPI lainnya membantah telah menerima bantuan dana dari AS, meski mereka mengatakan bahwa KDPI akan menerima bantuan itu jika ditawarkan.

Morteza Esfandiari, perwakilan KDPI di AS pada saya mengatakan bahwa KDPI sudah mengajukan permohonan dana sebesar 85 juta dollar yang menurut mereka akan dialokasikan untuk mempercanggih stasiun teve satelit guna “mendorong demokratisasi” di Iran.

Meski demikian KDPI menentang rencana serangan AS atau Israel ke fasilitas nuklir Iran, karena dinilai akan kontra produktif.

Saya pikir, sulit bagi Iran untuk menghancurkan kelompok oposisi Kurdi. Orang-orang Kurdi adalah orang-orang yang sangat independen, tidak menyukai penindasan yang dilakukan pemerintahan pusat. Di samping itu, para gerilyawan Kurdi bisa mundur ke wilayah Irak dan suatu hari bisa kembali lagi. (ln/IPS)

Iran Kecewa Sikap Indonesia

Maret 28, 2007

Pemerintah Republik Islam Iran kecewa dengan keputusan yang diambil oleh Indonesia mendukung keputusan resolusi DK PBB 1747, di mana Indonesia yang sebelumnya bersikap abstain, akhirnya menyetujui sanksi atas Iran terkait program nuklir negara itu.

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Behrooz Kamalvandi menyatakan, negaranya semula berharap agar negara-negara anggota PBB dapat memberikan suara berdasarkan pada prinsip keadilan, terutama bagi negara yang menjadi sahabat Iran.

“Kalau seorang musuh melempar batu akan menyebabkan luka tubuh, tetapi kalau batu itu dilemparkan sahabat, bukan hanya menimbulkan luka tubuh tapi juga luka hati, luka tubuh setelah beberapa hari bisa sembuh, tetapi kalau luka hati membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh, ” ujarnya di sela-sela pertemuan dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan beberapa ormas Islam, di Kantor Sekretariat PP Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (27/3).

Ia mengaku, Iran sudah menganggap sanksi yang dijatuhkan pada negaranya adalah hal yang biasa, sebab hal itu sudah terjadi berpuluh tahun lamanya, bahkan tanpa bantuan dari negara manapun Iran bisa memperoleh kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Meskipun Indonesia sudah menunjukkan sikap yang berbeda pada saat pengambilan keputusan di DK PBB, Behrooz menegaskan, hubungan ekonomi antara Indonesia dengan Iran harus tetap dilanjutkan dan ditingkatkan, karena kedua negara memiliki potensi yang dapat memberikan manfaat antara satu sama lain.

Lebih lanjut Ia mengatakan, keputusan yang dikeluarkan oleh DK PBB akhir pekan lalu, tidak mempunyai dasar hukum yang kuat dan tidak adil, karena itu pihaknya tidak akan mundur dan tetap akan melanjutkan program pengembangan nuklir untuk tujuan damai.

“Sangat disayangkan sebagai instrumen internasional PBB telah memperalat negara didunia, ketika Israel menyerang dan berusaha menghancurkan Palestina, tidak dianggap mengancam keamanan internasional, ” tukasnya.

Kekecewaan terhadap Pemerintah Indonesia muncul dari kalangan organisasi pemuda, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Muhammad Izzul Muslimin menyatakan kecewa atas tidak konsistennya sikap pemerintah Indonesia, yang sejak awal ingin berusaha mengedepankan konsep dialog dalam penyelesaian isu nuklir Iran.

“Akhirnya Indonesia mengecewakan, kenapa tidak dari awal-awal saja, mestinya pemerintah bisa membedakan bahwa sikap abstain dan mendukung sangat berbeda, abstain justru bisa memberikan apresiasi, sepertinya Indonesia malu dengan sikapnya yang berbeda, ” imbuhnya.(novel)

Muslim Nigeria Minta Pemerintah Tolak Piagam yang Larang Poligami

Maret 28, 2007

Ormas-ormas Islam Nigeria kembali menyatakan penolakan total atas piagam hak-hak wanita tahun 2003 yang diratifikasi oleh Uni Afrika. Pasalnya, piagam itu melarang poligami dan menyamakan porsi pembagian waris antara wanita dan laki-laki.

Piagam itu juga membatasi usia minimum pernikahan menjadi 18 tahun dan memberikan hak kepada wanita untuk memilih tempat tinggal rumah tangganya.

Dalam beberapa hari ini ormas-ormas Islam Nigeria terus melakukan tekanan atas pemerintah setempat agar menolak ratifikasi piagam, yang kini tinggal menunggu voting anggota parlemen. Tahun lalu, kelompok Islam Nigeria berhasil menekan pihak eksekutif agar tak meratifikasi piagam tersebut.

Imam Malaam Al-Hajj, salah satu anggota ormas Islam setempat mengatakan, ”Kami menyerukan agar pemerintah menolak piagam ini, yang memberangus poligami dan melecehkan pembagian waris seperti yang telah ditetapkan Islam. ”

Sementara rekan Al-Hajj, Moha Khalil menegaskan, ”Kami akan menentang segala hal yang memojokkan kedaulatan Islam. ”

Sebelum pemungutan suara pada pemilu 2006 lalu, para aktifis Islam di negeri yang 90 persen penduduknya memeluk Islam itu pernah mengingatkan akan turunnya “laknat Tuhan” bagi siapa pun yang setuju atas piagam itu.(ilyas/aljzr)

Israel Kembali Serbu Tepi Barat, Dua Pejuang Palestina Gugur

Maret 28, 2007

Israel bikin onar lagi. Akibatnya, dua pejuang Al-Aqsha dari unit penjaga malam, gugur dalam kontak senjata yang sengit antara tentara penjajah Zionis Israel di kota tua, Nablus, utara Tepi Barat.Menurut laporan Palestine Information Center, mengutip penuturan sejumlah tenaga medis, dua orang yang meninggal dalam insiden ini adalah Mehand Marisy (24) dan Ala Zeyad (26).

Usai baku tembak tentara Israel melarang mobil bantuan medis menolong Marisy, yang terluka tembak di kepalanya. Marisy akhirnya tewas setelah selama dua jam terluka parah tanpa bantuan. Sementara Ala Zeyad juga terkena tembakan parah saat ia berupaya mendekati jasad Marisy untuk memberikan pertolongan.

Dr. Ghassan Hamdan, ketua pertolongan medis di Nablus mengatakan, “Sejumlah tenaga medis sudah berupaya berulangkali dari berbagai arah untuk bisa mendekati mereka yang tertembak. Tapi tentara Israel selalu melarang mereka dan menembakkan senjata secara membabi buta kepada siapa saja yang berani mendekat. ”

Peristiwa ini dimulai dengan datangnya puluhan panser militer Zionis yang memasuki di kota Nablus dari berbagai arah, sejak pagi dini hari. Di langit Nablus, sejumlah helikopter juga turut memantau keadaan. Lalu pasukan Israel diturunkan dan berkeliaran di berbagai tempat di Nablus diiringi tembakan-tembakan. Israel merangsek ke sejumlah kampung kota mati, Suq Hadaein dan Suq Bashal serta menghambur ke jalan Fathimiyah. Di sanalah terjadi kontak senjata yang cukup sengit antara pasukan perlawanan Palestina dengan Israel hingga menewaskan dua pejuang Palestina.

Komandan Batalyon Syuhada Al-Aqsha di Nablus, Mahdi Abu Ghazala mengatakan, pasukan Zionis melakukan penyerangan di kota lama, tepatnya di Suq Hadadin. “Kedatangan mereka disambut oleh kelompok penjaga malam, seorang pejuang Mehand Marisy tewas karena luka yang sangat parah. Dan ketika salah satu anggota berupaya menyelamatkan korban dari lokasi tembak menembak, pejuang lainnya Ala Ghaliz tertembak. ”

Menurut Abu Ghazala, dua orang yang gugur itu tergeletak tanpa ada pertolongan selama lebih dari dua jam. “Israel gagal dalam serangannya yang terakhir beberapa waktu lalu di kota Nablus karena mereka tidak berhasil menangkap para pejuang. Mereka keluar dari Nablus dengan hina dan kalah, ” kata Ghazala.

Batalyon Syuhada Al-Aqsha, dengan pengeras suara menyatakan duka cita atas dua korban yang gugur. Mereka juga mengingatkan bahwa pada bulan lalu, Israel pernah pula melakukan serangan massif ke kota Nablus untuk membunuh sejumlah pejuang Palestina yang diduga ada di kota lama. Tapi upaya itu gagal. (na-str/pic)

Indonesia Tunda Pertemuan dengan Hamas

Maret 28, 2007

Pertemuan tokoh Hamas yang sedianya akan digelar pada akhir Maret 2007, ditunda dengan alasan penyesuaian jadwal.

“Kita memang melemparkan tanggal, ada sebagian yang melihat tanggal itu tidak cocok dengan kesibukan dan jadwal mereka, kita mengerti karena kita menginginkan pertemuan itu dihadiri oleh semua yang kita undang dan hasilnya maksimal, “ujar Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda usai melantik pejabat eselon II, di Gedung Pancasila, Departemen Luar Negeri, Jakarta, Selasa (27/3).

Menurutnya, pertemuan yang sejak awal bertujuan untuk mempertemukan tokoh Hamas sendiri, dengan beberapa orang dari Uni Eropa dan AS ini dimaksudkan sebagai jembatan komunikasi Hamas dengan pihak Barat, sehingga timbul pengertian yang lebih baik tentang Hamas.

Hassan menilai, walaupun pemerintah persatuan Palestina telah diumumkan dua minggu lalu, tetapi terlihat belum efektif karena masih ada ganjalan dalam dialog dan negosiasi dengan Barat.

“Ada keperluan kita menghilangkan ganjalan itu, karena efektifitas unity goverment belum terlihat, ” ujarnya.

Untuk itu sebagai upaya meningkatkan eksistensi keberadaan Hamas, Indonesia akan tetap medorong terselenggaranya forum dialog sehingga diharapkan ada pengertian yang lebih baik dari pihak Barat tentang Hamas, dan pihak Hamas lebih membuka diri.(novel)

Susahnya Mendirikan Bangunan Bagi Warga Arab Al-Quds

Maret 22, 2007

Infopalestina-Al-Quds : Pusat Kajian Palestina mengklaim pemerintah Israel di Al-Quds telah menghancurkan sejumlah bangunan di Al-Quds dengan alasan pembangunanya tidak mendapat izin dari pemerintah Israel.

Pada saat yang sama mereka menerapkan peraturan berbelit-belit dan melelahkan bagi siapa yang mencoba meminta izin bengunan. Tak jarang mereka juga membatalkan izin bangunan yang sudah diberikan, jika terdapat kesempatan untuk menghancurkanya.

Pusat Pembahasan tanah Palestina yang bernaung di bawah Organisasi Kajian Arab di Al-Quds terjajah mengungkapkan, pemerintah distrik Israel tidak hanya membidik bangunan warga yang kedapatan tidak memiliki izin bangunan, tetapi sejumlah bangunan yang sudah memiliki izinpun tak luput dari incaran penghancuran dari dinas yang mengeluarkan surat izin bangunan.

Dinas yang suka memberi izin sekaligus penghancur bangunan adalah ‘Dinas Pembangunan dan Tata kota”. Sering kali mereka menghancurkan bangunan yang sudah mengantongi izin dari mereka, dengan alasan ada kesalahan dalam pemberian izin tersebut, atau izin tersebut palsu atau bangunan tersebut tidak sesuai dengan rencana pembangunan dan lain sebagainya.

Seperti kejadian beberapa waktu yang lalu, pemerintah distrik Israel mengeluarkan surat keputusan dari mahkamah distrik (mahkamah urusan local) yang membatalkan izin sejumlah bangunan yang dikeluarkan dari Dinas Bangunan dan Tata Kota secara resmi. Bangunan-bangunan tersebut ada yang sudah dihuni atau ada yang siap huni. Para pemilik rumah tersebut dilarang menggunakan rumah yang telah mereka bangun dengan keringat mereka. Sementara rumah yang baru setengah pembangunannya, dilarang dilanjutkan, dengan dalih surat izin bangunan yang dikeluarkan dinasnya ada kesalahan atau bangunan tersebut tidak sesuai dengan rencana.

Kajian dari sisi hukum

Pusat Kajian Palestina telah melakukan penanganan dan pembelaan secara hukum melalui pengacara Muhind Jabaroh.

Salah seorang wakil korban kezaliman Israel ini menuturkan pada pengacara Jabarah, “Dengan keputusan ini, pemerintah distrik Israel ingin memeberikan kesan bahwa kesalahan ada di pihak pemilik bangunan, padahal sebenarnya, kesalahan terjadi antara pegawai dinas dan pemerintahan distrik.

Jabarah mengungkapkan, sesuai dengan peraturan bangunan dan tata kota Israel menyebutkan, ada sejumlah syarat tertentu untuk membatalkan perizinan. Diantaranya pemerintah distrik bisa membatalkan perizinan tersebut bila mana surat itu belum mecapai 15 hari sejak dikeluarkan. Pemerintahan distrik harusnya menyampaikan hal kesalahan ini pada pemilik bangunan agar ia bisa mengajukan banding atas keputusan tersebut.

Terakhir dan ini yang paling penting, adalah jika pemilik bangunan sudah mendapatkan izin untuk mendirikan bangunan secara legal, maka siapa pun tidak bisa membatalkanya.

Jabarah menegaskan, budaya korupsi dan kolusi sudah mengakar di dinas tersebut. pemerintah Israel sebenarnya sudah tahu hal itu. Tetapi mereka sengaja membiarkan surat itu di tangan pemilik bangunan selama 15 hari, tidak ada panggilan atau apapun hingga lewat masa berlakunya. Setelah itu baru mereka datang untuk menghancurkannya.

Status Warga Krisyan al-Quds

Pengacara Jabarah, menjelaskan, perwakilan dari keluarga Krisyan Bani Munzala di Shaavet yang baru mau menempati rumah dua tingkat, terpaksa batal karena dilarang pemerintahan distrik Israel. Ada sepuluh klaim yang dikenakan pada keluarga Krisyan. Terakhir ia mengajukan izin bengunan pada pemerintahan distrik Israel pada tanggal 1/4/2004 dan baru memperoleh surat izin bangunan pada tanggal 20/9/2005. Kurang lebih 17 bulan ia menunggu tanpa kepastian, padahal ia telah membayar pajak perbaikan yang tidak ada undang-undangnya kecuali setelah tanah dan bangunanya diperiksa oleh pihak yang berwenang.

Setelah tanah dan rencana bangunan diperiksa dengan teliti barulah mereka mengeluarkan keputusan yang menegaskan bahwa tanah tersebut boleh didirikan bangunan. Keluarga Krisyan kemudian diwajibkan membayar tunggakan sebesar 192.000 dollar.

Perlu diketahui keluarga Krisyan telah mendapat surat izin bangunan ini sebanyak enam kali dari dinas pemantaun pemancangan beton. Dari awal pembuatan besi beton fondasi dan tiang bangunan Krisyan, pegawai dinas tata kota Israel bolak-balik memeriksa bangunan tersebut, setiap dua kali sehari.

Jabaroh menegaskan, pemerintah distrik Israel saat ini menutupi kerusakanya di sejumlah dinas dengan melemparkan kesalahanya pada penduduk Palestina, tanpa dasar hukum. Seperti membatalkan surat izin yang teleh dikeluarkan mereka sendiri. Hal ini juga berlaku bagi siapa saja yang telah mengantongi izin dari pemerintahan distrik. Setiap saat mereka terancam penggusuran dan pengusiran dari pemerintahan Israel.

Menurut laporan, pemerintahan Distrik Israel selama satu bulan Pebruari kemarin (2007) telah menghancurkan 21 rumah warga. Mereka telah mengeluarkan 9 surat peringatan dan menerapkan denda bagi sejumlah rumah Palestina. Mereka juga telah melakukan dua kali operasi penghancuran serta membuat tiga blockade militer di wilayah yang terkena penggusuran. Di samping itu, mereka juga menyegel sejumlah yayasan muslim dan melanjutkan pembangunan tembok rasial yang mengitari kota Al-Quds lebih luas lagi. (pi/asy)

Panggilan Al-Aqsha

Maret 22, 2007

Pertempuran kita dengan Yahudi tetap terbuka dan akan terus terbuka. Kita hidup di satu zaman penuh dengan kerusakan yang dilakukan oleh bangsa Yahudi untuk kedua kalinya. Sebagaimana diungkapkan ayat pertama dari Surat Al-Isra.

Menurut pendapat yang paling valid, kerusakan pertama yang dibuat Yahudi adalah, pada masa Rasulallah SAW di Madinah. Kerusakan yang pertama ini bermakna majazi (kerusakan akhlaq dan moral). Namun Rasulallah dan para sahabat waktu itu berhasil mengikis habis kebejatan yahudi bersama antek-anteknya.

Coba perhatikan kembali surat Al-Isra yang berbicara tentang dua kerusakan yang dimulai dengan membicarakan dua peristiwa dari dua masjid. Allah Ta’ala berfirman, “Maha Suci Allah yang telah mengisrakan hambanya pada suatu malam dari masjid Al-Haram menuju masjid Al-Aqsha yang kami berkahi sekelilingnya, untuk kami perlihatkan ayat-ayat kami”.

Ayat di atas menyebutkan hubungan yang sangat erat antara dua masjid yang diberkahi dan dua kerusakan yahudi pada ayat ke empat. kerusakan pertama menimpa masjid Al-Haram pada 14 abad yang lalu. Dan al-Hamdulillah kerusakan tersebut dapat dipadamkan oleh Rasulallah SAW. bersama para sahabatnya. Kemudian kerusakan kedua di sekitar Masjid Al-Aqsha yang akan dikikis habis oleh anak-anak bangsa ummat ini, para mujahid dan as-shidiqin, insya Allah.

Saat ini kita saksikan eskalasi peningkatan rencana makar syaithan Yahudi terhadap AL-Aqsha. Kita juga melihat sejumlah bulldozer Israel menghancurkasn gerbang al-Mugaribah. Pintu dimana Rasulallah SAW pernah masuk melewatinya. Kita juga dengar pembangunan terowongan di bawah bukit al-Aqsha, berikut sinagog peribadahan mereka di bawah tiang fondasi Al-Aqsha yang mengakibatkan kondisi Al-Aqsha semakin mengkhawatirkan.

Sebagian ikhwah bertanya pada saya, “Apakah Israel akan berhasil menghancurkan Al-Aqsha ?. Apakah ada keterangan dari al-Qur’an atau Sunnah yang menjelaskan hal tersebut ?. saya menjawab, tidak ada keterangan baik dari al-Qur’an maupun dari Hadits Nabi SAW yang menerangkan tentang keberhasilan atau kegagalan yahudi dalam menghancurkan masjid Al-Aqsha. Berarti masalah ini sesuatu yang didiamkan oleh agama Islam, kita tidak bisa mengklaim mereka akan gagal atau berhasil dalam menghancurkan al-Aqsha.

Bangsa Yahudi mungkin saja berhasil menghancurkan Al-Aqsha, jika terjadi maka itulah yang namanya “Kiamat”. Saat itu, ummat Islam akan tersadar atas kesalahanya. Inilah factor yang membangkitkan gerakan jihad di seluruh dunia, yang akan membawa kita semua pada kebebasan dan kemerdekaan. Kita berdo’a semoga mereka tidak berhasil dalam ushanya. Kita berharap al-Aqsha tetap berdiri tetap menjadi dalam daging mereka.

Allah telah menjadikan Al-Aqsha ini sebagai symbol ummat Islam yang sedang diuji dengan berbagai kejahatan Yahudi untuk kedua kalinya di dunia dan yang terbesar. Al-Aqsha merupakan moment perang antara kaum muslimin dan Yahudi. Kajahatan Yahudi yang kedua kalinya ini berupa perusakan Masjid Al-Aqsha dan penjajahan tanah yang diberkahi (Al-Quds). Dengan izin Allah, peristiwa ini akan menjadikan ummat Islam bersatu, hati-hati ummat Islam di Timur dan Barat akan terpanggil untuk menuju Masjid Al-Aqsha. Para mujahidin akan berkumpul di sekitar Masjid Al-Aqsha, mereka akan berbondong-bondong masuk al-Aqsha, sebagaimana dahulu kakek-kakek merka dari kalangan para sahabat Nabi masuk Al-Aqsha. Seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an surat AL-Isra ayat 7, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.

Perang dengan Yahudi adalah perang tentang Al-Aqsha. Sama saja apakah mereka berhasil menghancurkannya atau tidak. Karena Al-Aqsha akan tetap menjadi symbol abadi yang akan hidup di dalam lubuk hati setiap muslim, hingga nanti datangnya para mujahidin. Selamat wahai al-Aqsha, berapa banyak engkau akan bangkitkan ummat ini serta hidupkan semangat jihad mereka ?.(pi/asy)

Oleh ; Shaleh Al-Kholidi

harian Al-Sabil 28/2/2006

Tambah Bantuan, UNRWA Puji Pemerintah Persatuan Palestina

Maret 22, 2007

Infopalestina-Gaza: Komisaris Umum Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East), Karin Abu Zeid menegaskan pihaknya akan menambah bantuan untuk Palestina dan mengungkapkan pujiannya kepada pemerintah persatuan nasional Palestina. Dia menyatakan harapan ada perbaikan kondisi setelah pembentukan pemerintahan ini.

Menanggapi ketidakmauan pihak Zionis Israel untuk bekerjasana dengan pemerintah Palestina, Karin Abu Zeid mengatakan, “Sikap tercela Israel adalah tidak mau bekerjasama dengan pemerintah baru Palestina.” Dia menegaskan bahwa UNRWA akan terus melakukan kontak dengan pemerintah berkaitan dengan masalah kemanusiaan dan persoalan-persoalan tehnis.

Karin Abu Zeid menjelaskan bahwa para pengungsi Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza banyak mengalami penderitaan disebabkan oleh penjajah Zionis Israel, hal yang membuat mereka berada di bawah garis kemiskinan. Dia mengisyaratkan bahwa para pengungsi Palestina du Yordania dan Suriah mengalami penderitaan hidup sangat buruk akibat meningkatnya kebutuhan hidup. Sementara pengungsi Palestina di Libanon, meski pemerintah Libanon sudah memberikan meringanan aturan yang mengekang mereka, masih banyak menderita akibat kemiskinan dan pengangguran.

Senin (19/03), UNRWA mendapatkan sumbangan dana dari pemerintah Jepang untuk mendukung program bantuan pangan yang diberikan UNRWA kepada para pengungsi Palestina. Jumlah sumbangan ini mencapai 0,5 milyar yen Jepang, atau senilai 4,3 juta dolar.

Karin Abu Zeid mengatakan saat menerima sumbangan, “Sesungguhnya para pengungsi Palestina hari ini sangat membutuhkan tambahan dukungan masyarakat internasional dibandingkan dari waktu-saktu sebelumnya. Kami menghargai dukungan Jepang yang terus menerus keapda UNRWA.”

Dia menambahkan, “Bantuan pemerintah Jepang untuk anggaran UNRWA selama setahun yang lalu mencapai 13,4 juta dolar. Sementara jumlah bantuan yang diberikan Tokyo kepada UNRWA sejak meletus intifadhah al Aqsha tahun 2000 mencapai 102 juta dolar. Jumlah batuan Jepang kepada UNRWA sejak tahun 1953 mencapai 529 juta dolar, termasuk bantuan pangan sejak tahun 1970.”

Karin Abu Zeid menegaskan pentingnya program-program bantuan pangan yang harus diberikan UNRWA. Dia menegaskan bahwa praktek-praktek yang dilakukan penjajah Zionis Israel berupa penutupan jalan-jalan dan blockade yang berkelanjutan menjadi hambatan besar gerakan barang dan angkutan di Tepi Barat dan Jalur Gaza. (pic/seto)