Arsip untuk November, 2007

Muhammad Al-Fatih: The Cocqueror (2)

November 24, 2007

Dalam bahasa Turki, Muhammad sering disebut dengan Fatih Sultan Mehmet. Beliau lahir 30 Maret 1432 dan wafat 3 Mei 1481.

Pribadi Shalih

Dari sisi keshalihannya, Muhammad Al-Fatih disebutkan tidak pernah meninggalkan tahajud dan shalat rawatib sejak baligh hingga saat wafat. Dan kedekatannya kepada Allah SWT ditularkan kepada tentaranya. Tentara Sultan Muhammad Al-Fatih tidak pernah meninggalkan solat wajib sejak baligh. Dan separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan solat tahajud sejak baligh.

Itulah barangkali kunci utama keberhasilan beliau dan tentaranya dalam menaklukkan kota yang dijanjikan nabi SAW. Rupanya kekuatan beliau bukan terletak pada kekuatan pisik, tapi dari sisi kedekatan kepada Allah, nyata bahwa beliau dan tentaranya sangat menjaga hubungan kedekatan, lewat shalat wajib, tahajjud dan sunnah rawatib lainnya

Sang Penakluk atau Sang Pembebas?

Karena prestasinya menaklukkan Konstantinopel, Muhammad kemudian mendapat gelar “Al-Fatih”. Artinya sang pembebas. Barangkali karena para pelaku sejarah sebelumnya tidak pernah berhasil melakukannya, meski telah dijanjikan nabi SAW.

Namun orang barat menyebutkan The Conqueror, Sang Penakluk. Ada kesan bila menggunakan kata “Sang Penakluk” bahwa beliau seolah-olah penguasa yang keras dan kejam. Padahal gelar yang sebenarnya dalam bahasa arab adalah Al-Fatih. Berasal dari kata: fataha – yaftahu. Artinya membuka atau membebaskan. Kata ini terkesan lebih santun dan lebih beradab. Karena pada hakikatnya, yang beliau lakukan bukan sekedar penaklukan, melainkan pembebasan menuju kepada iman dan Islam.

Beliau merupakan seseorang yang sangat ahli dalam berperang dan pandai berkuda. Ada yang mengatakan bahwa sebagian hidupnya dihabiskan di atas kudanya.

Yang lebih menarik, meski beliau punya kedudukan tertinggi dalam struktur pemerintahan, namun karena keahlian beliau dalam ilmu strategi perang, hampir seluruh perjalanan jihad tentaranya ia pimpin secara langsung. Bahkan ia tetap berangkat berjihad kendati sedang menderita suatu penyakit.

Tata Negara dan Administrasi

Selain sebagai ahli perang dan punya peran besar dalam hal perluasan wilayah Islam, beliau juga ahli di bidang penataan negara, baik secara pisik maupun dalam birokrasi dan hukum. Kehebatan beliau dalam menata negerinya menjadi negeri yang sangat maju diakui oleh banyak ilmuwan. Bahkan secara serius belaiu banyak melakukan perbaikan dalam hal perekonomian, pendidikan dan lain-lain.

Dalam kepemimpinannya, Istambul dalam waktu singkat sudah menjadi pusat pemerintahan yang sangat indah dan maju di samping sebagai bandar ekonomi yang sukses.

Beliau juga dikenal sebagai pakar dalam bidang ketentaraan, sains, matematika. Beliau memenguasai 6 bahasa sejak berumur 21 tahun. Seorang pemimpin yang hebat namun tawadhu’.

Mentarbiyah Tentara Satu hal yang jarang diingat orang adalah proses pembentukan pasukan yang sangat profesional. Pembibitan dilakukan sejak calon prajurit masih kecil. Ada team khusus yang disebarkan ke seluruh wilayah Turki dan sekitarnya seperti Balkan dan Eropa Timur untuk mencari anak-anak yang paling pandai IQ-nya, paling rajin ibadahnya dan paling kuat pisiknya. Lalu ditawarka kepada kedua orang tuanya sebuah kontrak jangka panjang untuk ikut dalam tarbiyah (pembinaan) sejak dini.

Bila kontrak ini ditandatangani dan anaknya memang berminat, maka seluruh kebutuhan hidupnya langsung ditanggung negara. Anak itu kemudian mulai mendapat bimbingan agama, ilmu pengetahuan dan militer sejak kecil. Mereka sejak awal sudah dipilih dan diseleksi serta dipersiapkan.

Maka tidak heran kalau tentara Muhammad Al-FAtih adalah tentara yang paling rajin shalat, bukan hanya 5 waktu, tetapi juga shalat-shalat sunnah. Sementara dari sisi kecerdasan, mereka memang sudah memilikinya sejak lahir, sehingga penambahan ilmu dan sains menjadi perkara mudah.

Konstantinopel Menjadi Istanbul

Setelah ditaklukan nama Konstatinopel diubah menjadi Islambul yang berarti “Kota Islam”, tapi kemudian penyebutan ini bergeser menjadi Istambul seperti yang biasa kita dengar sekarang.

Sejak saat itu ibu kota khilafah Bani Utstmani beralih ke kota ini dan menjadi pusat peradaban Islam dan dunia selama beberapa abad. Sebab kota ini kemudian dibangun dengan segala bentuk keindahannya, percampuran antara seni Eropa Timur dan Arab.

Gereja dan tempat ibadah non muslim dibiarkan tetap berdiri, tidak diutak-atik sedikit pun. Sementara khalifah membangun gedung dengan arsitektur yang tidak kalah cantiknya dengan gedung-gedung sebelumnya. Sepintas kalau kita lihat gedung peninggalan peradaban masehi sama saja dengan bangunan masjid. Tetapi ternyata tetap ada perbedaan mendasar. Selain masalah salib yang menjadi ciri gereja, bangunan dari peradaban Islam punya dominasi lingkaran dan setengah lingkaran.

Seorang rekan dari Maghrib (Maroko) bercerita bahwa ada nilai falsafah di balik bentuk-bentuk lingkaran atau kubah ang kita lihat dari bentuk masjid, yaitu bahwa Islam itu masuk ke semua dimensi.

Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan bayak kawan dan lawan kagum dengan kepimpinannya serta taktik strategi peperangannya yang dikatakan mendahului zamannya.

Ia jugalah yang mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (Islam keseluruhannya). Kini nama tersebut telah diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul. Untuk memperingati jasanya, Masjid Al-Fatih telah dibangun di sebelah makamnya. (bersambung) < 1 2 >

Muhammad Al-Fatih: The Conqueror

November 24, 2007

Saat tulisan ini dibuat, penulis masih berada di jantung kota Istanbul dalam rangka mengikuti dan meliput langsung Multaqa Al-Quds Ad-Dauli (A-Quds International Forum)

Sejak mendarat di bandara Istanbul, kesan kemegahan khilafah Islamiyah terakhir dan sisa-sisa peradabannya langsung mencuat. Begitu banyak situs yang menjadi saksi sejarah kebesaran Islam di bawah pimpinan para khalifah Bani Utsmani untuk menembus jantung Eropa membawa agama Islam.

Kota ini memang unik, penuh dengan sejarah yang besar dan menentukan arah peradaban. Tokohnya adalah Muhammad II atau lebih dikenal sebagai Sultan Muhammad Al-Fatih.

Menerima Jabatan Khalifah Sejak Belia

Usia beliau masih sangat muda, boleh dibilang masih kanak-kanak tatkala ayahandanya, Sultan Murad II, pensiun dini dari mengurus khilafah. Sang Ayah berniat untuk beruzlah di tempat yang sepi dari keramaian politik. Roda kepemimpinan diserahkan kepada puteranya, Muhammad, yang sebenarnya saat itu masih belum cukup umur. Mengingat saat itu wilayah Islam sudah membentang luas dari Maroko sampai Marouke.

Namun kebeliaannya tidak membuat prestasinya berkurang. Justru sejarah mencatat bahwa di masa kepemimpinan beliau, silsilah khilafah Bani Utsmani mencapai kejayaan terbesarnya, yaitu menaklukkan benua Eropa sebagaimana yang dijanjikan sebelumnya oleh Rasulullah SAW.

Kecakapan Muhammad cukup masuk akal, mengingat sejak kecil beliau telah mendapatkan berbagai macam pembinaan diri dan pendalaman ilmu-ilmu agama. Sang Ayah memang secara khusus meminta kepada para ulama untuk mendidiknya, karena nantinya akan menjadi khalifah tertinggi. Mulai dari bahasa Arab, tafsir, hadits, fiqih sampai ke ilmu sistem pengaturan negara, telah beliau lahap sejak usia diri. Bahkan termasuk ilmu strategi perang dan militer adalah makanan sehari-hari.

Siapa Yang Jadi Khalifah?

Sultan Murad II berhenti dari jabatannya di tengah begitu banyak problem, baik internal maupun eksternal. Sementara khilafah sedang menghadapi serangan bertubi-tubi dari tentara kerajaan Romawi Timur.

Sebagai khalifah yang masih sangat belia, Muhammad Al-Fatih kemudian berinisiatif untuk mengirim utusan kepada ayahandanya dengan membawa pesan. Isinya cukup unik untuk mengajak sang ayahanda tidak berdiam diri menghadapi masalah negara.

“Siapakah yang saat ini menjadi khalifah: saya atau ayah? Kalau saya yang menjadi khalifah, maka sebagai khalifah, saya perintahkan ayahanda untuk datang kemari ikut membela negara. Tapi kalau ayahanda yang menjadi khalifah, maka seharusnya seorang khalifah berada di tengah rakyatnya dalam situasi seperti ini”

Menembus Eropa

Setiap pahlawan Islam selalu bercita-cita untuk menjadi orang yang dimaksud Rasulullah SAW dalam haditsnya sebagai panglima yang terbaik dan tentaranya tentara yang terbaik dan membebaskan Konstantinopel agar terbebas dari kekuasaan Romawi.

Sudah sejak Rasulullah SAW masih hidup, beliau sudah berupaya menjadikan penguasa di Konstatinopel menjadi muslim. Selembar surat ajakan masuk Islam dari nabi SAW telah diterima Kaisar Heraklius di kota ini.

Dari Muhammad utusan Allah kepada Heraklius raja Romawi.

Bismillahirrahmanirrahim, salamun ‘ala manittaba’al-huda, Amma ba’du,

Sesungguhnya Aku mengajak anda untuk memeluk agama Islam. Masuk Islam lah Anda akan selamat dan Allah akan memberikan Anda dua pahala. Tapi kalau Anda menolak, Anda harus menanggung dosa orang-orang Aritsiyyin.”

Dikabarkan bahwa saat menerima surat ajakan masuk Islam itu, Kaisar Heraklius cukup menghormati dan membalas dengan mengirim hadiah penghormatan. Namun dia mengakui bahwa dirinya belum siap untuk memeluk Islam.

Di masa shahabat, tepatnya di masa pemerintahan khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu, Khalid bin Walid dikirim sebagai panglima perang menghadapi pasukan Romawi. Khalid memang mampu membebaskan sebagian wilayah Romawi dan menguasai Damaskus serta Palestina (Al-Quds). Tapi tetap saja ibukota Romawi Timur saat itu, Konstantinopel, masih belum tersentuh.

Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, pahlawan yang merebut Al-Quds sekalipun, ternyata masih belum mampu membebaskan Konstantinopel. Padahal beliau pernah mengalahkan serangan tentara gabungan dari Eropa pimpinan Richard The Lion Heart dalam perang Salib. Ternyata membebaskan kota warisan Kaisar Heraklius bukan perkara sederhana. Dibutuhkan kecerdasan, keuletan dan tentunya, kekuatan yang mumpuni untuk pekerjaan sebesar itu.

Dan ternyata Sultan Muhammad Al-Fatih orangnya. Beliau adalah sosok yang telah ditunggu umat Islam sepanjang sejarah menunggu-nunggu realisasi hadits syarif Muhammad SAW.

Tidak mudah memang untuk membebaskan Istanbul yang sebelumnya bernama Konstantinopel ini. Kotanya cukup unik, karena berada di dua benua, Asia dan Eropa. Di tengah kota ada selat Bosporus yang membentang, ditambah benteng-benteng yang cukup merata.

Tetapi Sultan Muhammad Al-Fatih tidak pernah menyerah. Sejarah mencatat beliau telah memerintahkan para ahli dan insinyurnya untuk membuat sebuah senjata terdahsyat, yaitu sebuah meriam raksasa. Suaranya saja mampu menggetarkan nyali lawan dan berpeluru logam baja. Meriam ini mampu menembak dari jarak jauh serta meluluh-lantakkan benteng Bosporus.

Inilah barangkali meriam terbesar yang pernah dibuat manusia. Sebelumnya dari sejarah para penakluk, belum pernah ada tentara manapun yang punya meriam raksasa sebesar ini. (bersambung) < 1 2 >

Jumanah Alaa, “Ya Annapolis, Aku Ingin Ayahku…”

November 24, 2007

“Aku tak berpanjang kata kepadamu, Annapolis. Aku tahu, kamu pasti sibuk menerima tamu. Dari kakek dan guruku, aku mendengar bahwa kamu akan membawa damai. Aku ingin ayahku, ya Annapolis…Ibuku sudah tidak ada.”

“Harusnya penjara tidak boleh lagi mengurung ayahku. Aku sangat rindu belaian tangan ayah. Orang-orang mengatakan, masalah yang akan kamu inginkan itu adalah masalah paling penting untuk Palestina. Dan damai itulah yang akan engkau perjuangkan. Tolong sampaikan kepada Israel.. lepaskanlah ayahku… juga para tawanan yang lain yang begitu menderita seperti mati seribu kali dalam satu hari. Aku minta kepadamu Annapolis.. jangan lupakan masalahku dan rintihanku ini..”

Kata-kata ini diucapkan seorang anak perempuan bernama Jumanah Alaa, yang usianya baru menginjak enam tahun. Air matanya menitik. Jiwanya tak kuasa menahan sedih yang berbalur kepahitan hari-hari hidupnya tanpa ayah dan ibu. Ia mengungkapkan deru gelisah di hatinya itu untuk semua delegasi yang akan duduk dalam perundingan Annapolis, yang disebut-sebut menentukan sejarah ke depan Palestina setelah selama lebih dari separuh abad dijajah Israel.

Jumanah Alaa- tidak terlalu mengerti apa itu Annapolis. Ia menganggap Annapolis seperti halnya nama orang yang mungkin dalam benaknya adalah sosok pahlawan yang akan memberinya kedamaian. Sambil terus menitikkan air mata, ia pun mengatakan, “… damai artinya aku bisa kembali memeluk ayah… aku bisa ditemani ayah saat hari raya.. aku bisa mendengar ceritanya sebelum tidur sambil memelukku.. aku dibelikan permen.. damai yang juga ingin dirasakan teman-temanku tentang ayah mereka yang selama ini tidak boleh berada di dekat mereka… “

Ibunda Jumanah meninggal karena sakit paru-paru yang akut. Sedangkan ayahnya ditangkap begitu saja oleh Israel saat pulang dari bekerja. Ia sendiri kini hidup di bawah asuhan kakeknya yang sudah sakit sejak tahun 2001. Ayahnya, dijatuhi vonis hukuman 18 tahun penjara oleh Israel. Usai dijatuhkan vonis, Israel pernah mengizinkan Jumanah dan ibunya yang ketika itu masih hidup, untuk berkunjung ke penjara. Jumanah kala itu masih sangat kecil dan tidak paham apa yang terjadi di hadapannya. Ia hanya bisa menatap ayahnya di balik sebuah kaca pemisah.

Dalam kunjungan kedua, nenek Jumanah terkejut karena pihak penjara tidak mengizinkan mereka masuk dan bertemu dengan ayah Jumanah. Setelah itu, mereka pun melewati tahun-tahun sulit dan keras karena hingga kini, Jumanah sudah beberapa tahun tidak pernah lagi melihat ayahnya.

Menurut Kementerian Urusan Tawanan, saat ini ada lebih dari 117. 000 tahanan Palestina mendekam di penjara Israel. Menurut data mereka, ada sekitar 213 tahanan yang telah melewati usia tahanan 15 tahun. Ada 65 tahanan yang sudah ditahan lebih dari 20 tahun. Dan ada 8 orang tahanan yang sudah mendekam di penjara selama seperempat abad. Jumlah tahanan terus menerus bertambah. Dari total tahanan itu ada 8.495 orang yang belum menikah, sedangkan sisanya, sekitar 3.200 orang tahanan telah berkeluarga. (na-str/iol)

Komandan Brigade Al-Quds, Sayap Militer Fatah, Kecewa dengan Otoritas Palestina

November 24, 2007

Dari Nablus, Kantor Berita Maan News Agency, Kamis (22/11), melaporkan bahwa Komandan Brigade Al-Quds, sayap militer kelompok Fatah, menolak peranan Penasehat Keamanan AS Jend. Keith Dayton dalam mendiskusikan masalah keamanan Palestina di Nablus, seperti yang diinginkan Zionis Israel.

Mahdi Abu Ghazala, Komandan Brigade Al-Quds yang namanya masuk dalam target orang APlestina yang paling dicari ini mengatakan bahwa dirinya kehilangan respek pada Otoritas Palestina yang dilihatnya semakin akrab dengan pihak penjajah Israel. Padahal dari ke hari penjajah Israel terus saja melakukan penangkapan, penyerangan, penculikan, dan pembunuhan terhadap warga sipil Palestina yang sama sekali tidak berdosa.

Abu Ghazala menyatakan bahwa perlawanan terhadap Zionis-Israel harus terus dikobarkan sampai penajajah Israel angkat kaki dari Tanah Palestina. “Saya meragukan segala bentuk perundingan dengan pihak penjajah!” tegasnya.

Perkembangan politik di Palestina memang kian menunjukkan siapa pihak yang memang pelayan Zionis dan siapa yang benar-benar pejuang kemerdekaan sejati rakyat Palestina. Tidak semua anggota Fatah setuju dengan langkah Presiden Mahmud Abbas yang juga merupakan pimpinan tertinggi Fatah dalam hal berunding dengan Zionis-Israel.

“Abbas dan kelompok kecilnya merupakan orang-orang yang dibayar oleh Zionis-Israel agar mau menjual rakyat Palestina dengan harga murah. Dia itu pengkhianat cita-cita kami, ” ujar seorang sumber dari Fatah.(Rizki)

TV Inggris Akan Tayangkan Reality Show “Mengenalkan Islam Pada Non-Muslim”

November 21, 2007

Stasiun televisi Inggris Channel Four,  mulai bulan depan rencananya akan menayangkan program reality show. Program yang belum diberi nama itu, akan menampilkan bagaimana sejumlah non-Muslim dari beragam karakter dan berbagai latar belakang profesi, akan hidup di tengah kondisi “Islami” selama tiga minggu.

Lokasi acara itu mengambil tempat di kota Harrogate, sebuah kota terpencil North Yorkshire. Di mana jumlah warga Muslimnya sangat di kota ini hanya sekitar 311 orang dari total populasi 60. 000 jiwa.

Produser Eksekutif acara baru ini Narinder Minhas pada surat kabar Guardian mengatakan, dalam acara tersebut ia ingin mengeksplorasi bagaimana orang-orang kulit putih bersentuhan dengan ajaran agama yang selama ini hanya mereka dengar. Seorang imam Muslim akan mengajarkan para peserta acara itu, bagaimana menjadi seorang Muslim yang taat.

Di antara peserta acara reality show itu adalah seorang gay yang berprofesi sebagai penata rambut, seorang atheis yang bekerja sebagai sopir taxi dan seorang model yang gayanya glamor. Dalam acara itu, mereka misalnya akan diberitahu bahwa alkohol, homoseksual dan hubungan sex sebelum menikah, dilarang dalam agama Islam dan mereka harus mematuhinya.

Editor Channel Four bidang acara keagamaan Aaqil Ahmed tentang acara itu mengatakan, “Kita akan melihat apakah Islam bisa memberikan manfaat bagi setiap orang atau hanya akan menjadi pelengkap semata. “

“Kami tidak bermaksud untuk mengolok-ngolok seseorang dan kami tidak bermaksud mempermainkan agama. Tak ada seorang pun yang bisa menuduh kami melecehkan Islam, ” ujarnya.

Pihak Channel Four belum menemukan kata yang tepat sebagai judul acara ini. Tapi sudah ada beberapa pilihan judul antara lain “Make Me A Muslim” dan “Shariah Street. “

Meski belum ditayangkan, acara ini sudah memicu kontroversi apakah Channel Four menayangkan kondisi yang sebenarnya dalam acara tersebut. Apalagi acara itu terkait dengan ajaran Islam dan umat Islam.

Salah seorang peserta acara tersebut Haylie Winter, 33, seorang konsultan kesehatan kulit di sebuah salon di Harrogate yakin para peserta dalam acara itu akan berpura-pura, karena mereka sedang difilmkan.

“Ada banyak argumen yang bodoh yang seharusnya tidak perlu terjadi. Saya merasa mereka melakukannya karena mereka ada di depan kamera. Kebanyakan peserta adalah orang-orang yang agresif dan konfrontatif. Mereka sebenarnya tidak terlalu mau mendengarkan apa yang diajarkan imam, ” tukas Winter pada Guardian.

Di tengah kontroversi itu, para produser meyakinkan bahwa apa yang akan tampil di televisi adalah kejadian yang sebenarnya, dan bukan pura-pura. “Apa yang akan Anda saksikan akan ditampilkan apa adanya. Tidak ada rekonstruksi, ” ujar Ahmed.

Di sisi lain, Winter mengakui bahwa ia mendapatkan pengalaman yang bermanfaat setelah selesai mengikuti acara reality show itu. Ia belajar banyak dari para mentor yang Muslim dan ia merasa lebih dekat dengan mereka dibandingkan dengan rekan-rekan peserta lainnya.

Meski menyatakan belum siap untuk masuk Islam, lewat acara itu ia mengakui bahwa agama memegang peranan penting untuk kehidupan. “Jika setiap orang memiliki pandangan yang lebih relijius dan bermoral dalam kehidupan ini, di mana mereka tidak minum minuman keras, berdoa dan selalu merenung, mungkin hidup akan lebih baik bagi setiap orang, ” tandasnya. (ln/iol)

Dua Maling Itu Ternyata Anggota Kelompok Fatah

November 21, 2007

Kantor Berita Maan News Agency hari Senin kemarin (19/11) melaporkan, polisi di Jalur Gaza telah menangkap dua anggota Kelompok Fatah yang telah terbukti mencuri senjata-senjata milik Brigade Al-Qassam, sayap militer HAMAS.

Dua anggota Kelompok Fatah itu tertangkap basah dengan senjata-senjata milik Brigade Al-Qassam dalam suatu operasi penyergapan yang dilakukan Brigade Al-Qassam sendiri yang telah lama mencurigai tindak-tanduk kedua anak buah Mahmud Abbas tersebut.

Sumber kepolisian Gaza menyatakan akan menahan dan mengadili kedua maling dari Kelompok Fatah tersebut dengan tuduhan telah melakukan tindakan pencurian. Mungkin inilah bukti pepatah kuno, “Bersahabat dengan tukang minyak wangi kita akan ikut harum, dan bersahabat dengan tukang ikan kita akan ikut amis. ”

Presiden Mahmud Abbas selama ini dikenal sebagai pelayan setia kepentingan Zionis-Israel, berdekat-dekatan dan mesra dengan Israel maupun Amerika, sebab itu tingkah laku anak buahnya pun dengan sendirinya mengikut tingkah-laku kaum Zionis tersebut: Menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai. Pun jika harus jadi maling sekali pun.(Rizki/MNA)

Laporan Miris Tawanan Perempuan di Penjara Zionis

November 21, 2007

Laporan sebuah Lembaga Pembelaan HAM para tahanan mengungkap cerita lain yang makin menggoreskan luka dalam hati umat Islam. Laporan lembaga itu berisi sejumlah fakta yang terjadi dan menimpa para tahanan perempuan Palestina di penjara-penjara Israel. Bagaimana penderitaan mereka, baik secara fisik maupun psikis?

Aljazeera melansir sebagian dari naskah laporan tersebut, yang diambil dari kunjungan singkat ke sejumlah tahanan perempuan Palestina di penjara Hesharon ruang 12, yang berisi 12 tahanan perempuan Palestina, ditambah dua orang bayi laki-laki yang masih menyusu.

Disebutkan dalam laporan tersebut ungkapan seorang tawanan bernama Nade Aljayusi, kepada pengacara Lembaga HAM, terkait sakit yang dideritanya selama di penjara. Juga tahanan perempuan bernama Fathema Al-Haj yang mengalami sakit diabetes serta Noura Alhashlemun yang mengalami sejumlah penyakit. Mereka umumnya mengatakan, bahwa para sipir penjara berpura-pura tidak tahu dan mengabaikan permintaan para tahanan untuk mendapat perawatan yang layak.

Menurut para tawanan, makanan penjara yang diberikan adalah bahan makanan yang buruk dan kotor, hingga bisa menyebabkan sakit lambung. Di sisi lain, makanan itu juga sangat sedikit terlebih setelah tidak dibolehkannya kantin penjara sehingga para tawanan sangat menderita sejak bulan Juni lalu.

Sementara itu, seorang tawanan perempuan yang sudah dibebaskan bernama Ikram Thawel menyebutkan bahwa di penjara Talmound Israel di kota Al-Khalil menyebar penyakit yang diderita hampir seluruh tawanan perempuan. Menurut Thawel dalam wawancara dengan Aljazeera, “Sejak saya dibebaskan, saya berusaha menjalin hubungan dengan para tawanan. Saya berusaha mengikuti apa yang terjadi pada mereka secara rutin. Mereka umumnya mengalami sakit rambut rontok yang banyak, antara lain karena air minum yang tidak sehat. Selain itu, mereka juga hidup sangat jauh dari kelayakan di mana banyak tikus berkeliaran dan banyak serangga lain yang hidup di dalam ruang penjara. ”

Thawel juga menceritakan bahwa Israel yang mengelola penjara menolak izin masuknya para dokter spesialis dan hanya mencukupi dengan seorang perawat di penjara, yang jelas bukan seorang spesialis. Tapi ketika ada situasi yang mendesak adanya dokter, tawanan harus menunggu satu bulan lebih. Pihak perawat penjara, juga hanya memberikan satu jenis obat saja untuk mengobati semua penyakit yang diderita.

Thawel menyebutkan pula bahwa sejumlah tawanan perempuan di penjara Zionis Israel mengalami penyiksaan fisik dan mental. Penyakit kulit, gatal-gatal, dan luka-luka di berbagai tempat di tubuh mereka, sakit gula, hingga kanker terjadi di kalangan mereka. Bahkan ada tawanan yang tidak bisa bergerak sama sekali selama satu minggu karena proses interogasi yang demikian melelahkan secara fisik selama berjam-jam dan juga pemukulan.

Ada lebih dari 1.500 tawanan perempuan di penjara Israel. Dan mereka umumnya menderita sakit beragam. Menurut Aljazeera, ada sekitar 120 orang tawanan perempuan yang sudah menikah dan mempunyai anak di luar penjara. Sementara ada dua orang perempuan yang melahirkan di penjara, dan menyusui anaknya di penjara. Mereka semuanya sangat menderita lahir dan bathin. (na-str/aljzr)

Adzan dan Shubuh Berjamaah di Negeri Sekuler

November 21, 2007

Sebuah paradoks yang mengharukan kalau kita melihat kehidupan sehari-hari masyarakat muslim Turki. Akibat gerakan sekulerisme yang sistimatis dengan didukung kekuatan yahudi international, meski masih berstatus muslim, namun implementasi ajaran Islam sehari-hari sangat jauh dari mencukupi.

Di jalan-jalan umum kota Istanbul, meski di sana-sini nampak menara masjid peninggalan khilafah Utsmaniyah, namun pemandangan yang kita lihat memang jauh dari akhlak Islam.

Para wanita dan pria nampak bebas berjalan berduaan layaknya pemandangan di negeri non Islam. Muda mudi di tempat publik merasa bebas untuk berjalan sambil berangkulan, bahkan tidak jarang mereka saling berciuman. Tidak sedikit pun terdapat kesan merasa canggung dilihat orang. Justru kita sebagai tamu yang merasa risih kelakuan mereka.

Tempat-tempat hiburan malam nyaris tersebar di setiap jalan, menyediakan minuman keras dan wanita-wanita penghibur. Bahkan bioskop yang memutar film-film Turki cukup banyak jumlahnya, siap merusak moral generasi bangsa ini.

Foto tokoh sekuler Turki, Mustafa Kemal tetap masih terpampang di mana-mana, meski jumlahnya sudah agak berkurang dibandingkan dengan 12 tahun yang lalu, saat penulis pertama kali mengunjungi negeriini. Masih dipajangnya gambar sang dewa sekuler menunjukkan bahwa sekulerisme masih menjadi mainstream, meski tercatat beberapa perkembangan yang menggembirakan akhir-akhir ini.

Meski sekarang ini sudah muai ada angin pencerahan dan gerakan kembai ke-pada Islam, namun sampaikepemimpinan PM Mesut Yilmaz yang mulai berkuasa akhir Juni 1997, kebijakan anti-Islam yang diterapkannya masih cukup banyak, dan selalu mengundang protes berbagai kalangan. Misalnya berupa:

1. Memecat Gubernur, Walikota dan birokrat lainnya yang dinilai pro-Islam.
2. Memperketat pembangunan Masjid.
3. Memberikan sanksi keras kepada wanita pekerja dan pelajar putri yang berjilbab.
4. Melarang laki-laki Turki memelihara jenggot.

Mencari Masjid

Kami diinapkan oleh panitia penyeleggara Al-Quds International Forum di Grand Star, sebuah hotel di bilangan Taksim, tepat di jantug kota Istanbul. Rupanya daerah ini memang termasuk daerah wisata dan turisme. Beberepa deret hotel berjejer di kanan kiri hotel tempat kami menginap.

Satu hal yang menarik adalah saat kami berupaya mencari masjid untuk melakukan kebiasaan shalat shubuh berjamaah. Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya kami menemukan satu masjid kuno peninggalan zaman khilafah Utsmani.

Alhamdulillah, kami bersyukur akhirnya dapat mendengar kembali suara bacaan ayat Quran yang dilantunkan oleh Imam masjid. Suaranya enak dan mantab, hafalannya sangat baik.

Sayangnya, meski bacaan Qurannya sangat fasih dan suaranya sangat ‘garing’, beliau tidak bisa berbahasa Arab apalagi Inggris. Akhirnya komunikasi kami kembali menggunakan bahasa primata, alias bahasa Tarzan, hanya kode dan isyarat.

Kami dari Indonesia dan Malaysia yang ikut menjadi makmum di belakangnya sepakat untuk mengagumi kemampuan sang imam. Namun yang disayangkan lagi, ternyata kami baru sadar bahwa jamaah shubuh ini hanya sekitar 2 shaf, dan ternayta semuanya rombongan kami dari Indonesia dan Malaysia. Jadi yang orang asli Istanbul hanya 3 orang saja, si Imam, petugas masjid dan seorang pemuda. Kami tidak bisa membayangkan kalau di hari-hari lain.

Satu catatan lagi, masjdi ini dikunci rapat di luar jam-jam shalat, termasuk ketika kami tiba waktu adzan shubuh tadi, kami harus antri menunggu di depan pintu sampai petugas datang membukakannya. Dan selesai shalat, kami sempat berfoto bersama dengan imam dan petugas masjid, namun saat keluar gedung masjid, imam pun langsung mengunci pintu gedung dan begitu keluar pagar halaman, petugas masjid pun langsung menggemboknya. Jadilah masjid itu terkunci di luar waktu shalat di awal waktu.

Namun pengalaman kami shalat shubuh di masjid ini sangat berharga. Bagaimana sebuah peradaban Islam terbesar dan terkuat di masa lalu, nyaris hanya hanya menyisihkan beberapa orang yang masih setiap shalat shubuh berjamaah di masjid. Selebihnya, entah pada ke mana 20 juta penduduk Istanbul ini. Mereka adalah anak keturunan bangsa muslim terkuat di dunia yang mampu menaklukkan Eropa.

Mungkin mereka shalat di rumah karena udzur syar’i, lantaran suhu mencapai 14 derajat celsius. Cukup sejuk memang untuk keluar rumah dan ke masjid di waktu shubuh. Semoga Allah SWT mengembalikan kesadaran beragama rakyat Turki dan mengembalikan izzah umat seperti kakek moyang mereka dahulu.

Tembok Pemisah di Palestina Dua Kali Tinggi Tembok Berlin

November 21, 2007

Imperium Komunisme di Eropa Timur telah lama hancur. Kebesaran ‘Beruang Merah’ Uni Soviet pun telah tumbang. Tembok Berlin yang sangat legendaris, yang dibangun pasca Perang Dunia II membelah Kota Berlin jadi dua: Berlin Jerman Barat dan Berlin Jerman Timur, juga sudah diruntuhkan. Oleh Barat, Amerika Serikat dan Sekutunya, peristiwa-peristiwa di atas dianggap sebagai kemenangan Dunia Bebas, Demokrasi dan HAM, terhadap kediktatoran, penindasan, dan rezim represif. Benarkah demikian?

Kenyataannya tidak. Boleh jadi Imperium Komunisme di Eropa Timur dan Uni Soviet memang tiada lagi berdaya. Boleh jadi Perestroika memang telah menghancurkan sendi-sendi Marxisme di Soviet. Namun Barat, yakni Amerika Serikat dan Sekutunya, setelah itu malah meniru habis kelakuan rezim represif, kediktatoran, tiranik, dan kekejaman, dengan membangun Tembok Pemisah, lewat tangan Zionis-Israel, yang berdiri angkuh membelah Tanah Palestina.

Tembok pemisah dengan ketinggian delapan meter ini, dua kali tinggi Tembok Berlin, dibangun secara illegal di atas negara berdaulat bernama Negara Palestina, membujur sepanjang 730 kilometer.

Tembok pemisah yang dibangun teroris Zionis-Israel ini memakan biaya yang sangat besar yang tidak pernah diumumkan ke publik jumlah total biaya pembangunannya. Hanya saja, sekadar untuk biaya perawatannya, perkilometer tembok menghabiskan dana sebesar US$4. 7 juta (lebih dari Rp 42. 5 miliar!).

Jadi, keseluruhan dana yang dibutuhkan untuk perawatan tembok pemisah sepanjang 730 kilometer tersebut adalah sebesar US$3. 4 miliar! Jika Anda mencoba menghitung jumlah uang ini dan dikurskan ke rupiah dengan kalkulator biasa, maka kalkulator Anda tidak akan sanggup menghitungnya karena sangat besar jumlahnya.

Darimana sumber pembiayaan yang begitu fantastis tersebut berasal?

Mengingat Zionis-Israel merupakan satu-satunya negeri yang tidak terlalu mementingkan pertumbuhan perekonomian dan terlalu sibuk dengan pertumbuhan kekuatan militer, maka Israel lewat jaringan perusahaan-perusahaan Zionisnya yang tersebar di seluruh dunia, termasuk Indonesia, merayu warga dunia agar mau membelanjakan uangnya membeli produk-produk pendukung Zionisme (silakan lihat daftar produk pendukung Zionisme di www.inminds. Co. Uk). Dengan membeli produk pendukung Zionis tersebut, kita telah ikut menghidupi Zionis-Israel secara aktif.

Silakan Anda pilih jalan hidup Anda: Tetap membeli produk-produk pro Zionis yang berarti Anda ikut menghidupi Zionis-Israel dan membunuhi rakyat Palestina, atau mulai detik ini juga menyatakan STOP membeli produk-produk tersebut yang berarti Anda telah turut berjihad membantu kemerdekaan rakyat Palestian dalam mengusir penjajah Zionis-Israel. Inilah kenyataan yang terjadi di depan hidung kita. Silakan pilih dan kita akan mempertanggungjawabkan segalanya masing-masing di akhirat kelak.(Rizki)

George Galloway, Anggota Parlemen Inggris: Dunia Islam Harus Segera Menolong Palestina!

November 21, 2007

Persatuan Palestina merupakan hal yang vital yang harus dicapai, sebelum mereka berbegosiasi dengan pihak-pihak lain. Ini ditekankan anggota Parlemen Inggris sekaligus pimpinan dari Respect Party, George Galloway, yang hadir dalam konferensi Al-Quds Internasional di Istanbul, Turki. Galloway menyerukan Presiden Mahmud Abbas agar mementingkan persatuan antara Fatah dengan HAMAS terlebih dahulu sebelum mau diajak berunding dengan Zionis-Israel dalam Pertemuan di Annapolis akhir November ini yang disponsori Amerika Serikat.

Berikut petikan wawancara yang dilakukan panitia acara dengannya seputar isu Al-Quds yang menurut Galloway sendiri tengah berada di dalam kondisi berbahaya.

Bagaimana pandangan Anda soal penggalian terhadap pondasi kompleks Masjid Al-Aqsha dan proses Yahudisasi Kota al-Quds yang dilakukan penjajah Israel?

Kita ketahui bersama, Yerusalem dikenal sebagai kota suci bagi tiga agama yang saat ini tengah dirusak dan digangsir oleh penjajah Israel. Selain pembersihan dan penghilangan identitas asli tersebut, penjajah Israel juga tengah melakukan pembasmian etnis terhadap warga Palestina yang kini kelaparan dan setiap saat berada dalam bahaya. Satu-satunya yang tengah kami serukan dari Istanbul ini adalah menyerukan kepada dunia internasional, kepada warga dunia yang masih memiliki rasa kemanusiaan dan hati nurani, agar mau menoleh dan menunjukkan simpatinya pada rakyat Palestina. Rakyat Palestina sungguh-sungguh memerlukan uluran tangan dari kita semua.

Penjajahan Israel harus diakhiri secepatnya. Kita juga menyerukan kepada pemimpin-pemimpin negeri-negeri Islam yang sekarang bersikap diam terhadap nasib rakyat Palestina dan juga kota al-Quds yang tengah dirusak. Mereka harus bangkit. Atau jika tidak, maka saya yakin Yerusalem akan hilang, dan ini akan menjadi suatu kehilangan terbesar sepanjang sejarah manusia. Mudah-mudahan ini tidak akan terjadi.

Apa yang sebenarnya harus kita semua lakukan, terutama komunitas dunia internasional, agar hal yang menakutkan tersebut bisa diakhiri?

Sudahlah, jangan berharap terlalu banyak pada dunia internasional. Kita semua tahu siapa di belakang semua lembaga yang mengatasnamakan dunia internasional. Mereka tidak akan berbuat banyak. Yang paling penting adalah mewujudkan persatuan di antara semua komponen perjuangan di Palestina sendiri. Ini yang paling penting.

Sebelum melakukan perundingan dengan siapa saja, persatuan Palestina merupakan modal yang utama. Tinggalkan konferensi Annapolis, itu merupakan suatu acara yang sama sekali tidak lucu, suatu lawakan yang tidak lucu. Semua negeri Arab dan umat Islam jangan percaya pada pertemuan itu, yang sama saja dengan perundingan Camp David beberapa tahun lalu yang tidak bermanfaat bagi rakyat Palestina.

Saya heran, di dunia ini ada 1, 7 miliar Muslim, yang tersebar di seluruh dunia. Tetapi mengapa ada kelaparan dan kemiskinan yang akut seperti yang terjadi dan menimpa saudara-saudara kita di Gaza? Ke mana saja umat Islam dunia? Dunia Islam seharusnya membuka matanya dan melakukan aksi yang benar-benar nyata untuk menolong saudara-saudara kita semua di Palestina, terutama Gaza. Saya yakin, Dunia Islam tidak kekurangan uang, tenaga, dan segalanya, jika saja mereka mau menolong.

Mengapa Anda katakan kita jangan terlalu berharap pada komunitas dunia internasional?

Saya katakan, jika negara-negara Arab dan Dunia Islam sendiri tidak perduli pada Palestina, mengapa pula Dunia Internasional harus perduli pada Palestina? Jika Dunia Islam dan Arab tidak bisa atau tidak mau bersatu untuk memerdekakan Palestina, alasan apa yang membuat kita berharap terlalu banyak kepada Belanda atau Belgia?

Secara sendiri-sendiri, sebenarnya warga dunia bisa saja melindungi Al-Quds, itu jika dilakukan dengan sepenuh hati. Dunia Internasional tidak akan bisa berbuat banyak untuk itu. Percayalah. Kita semua tahu siapa di belakang dunia internasional, yakni Amerika Serikat dan juga Israel. Itu kepentingan mereka.

Apa yang Anda harapkan dari Konferensi Al-Quds Internasional di Turki ini?

Pertemuan di Istanbul ini merupakan pertemuan yang sungguh-sungguh penting. Ini terjadi setelah lebih dari 100 tahun putusnya Turki dengan Dunia Arab. Yang kedua, Anda bisa menegaskan dari pertemuan ini bahwa negara-negara Arab sudah saatnya, sekarang juga, harus memperbaharui diri dan jangan terlena seperti yang terjadi sekarang ini. Anda lewat konferensi ini bisa menyerukan dunia agar bisa berbuat yang nyata bagi identitas asli Yerusalem. Kita wajib sesegera mungkin menolong Yerusalem dan rakyat Palestina.

Ketiga, pertemuan ini merupakan jawaban kita terhadap konferensi di Annapolis yang tidak lebih sebagai lawakan yang sama sekali tidak lucu dan bodoh. Kita semua, orang-orang Islam dan Kristen, yang datang di Turki ini, bersatu dan menunjukkan kekuatan bahwa kita di sini berdiri dengan gagah untuk mewujudkan dunia yang lebih berkeadilan dan menentang penjajahan yang dilakukan Zionis-Israel terhadap rakyat Palestina.(Rizki/quds forum)