Arsip untuk Desember, 2007

Umat Kristen: Bukan Hamas, Tapi Israel yang Merusak Semangat Natal di Ghaza

Desember 28, 2007

Umat Kristen di Jalur Ghaza mengungkapkan kebahagiannya, meski Jalur Ghaza kini dikuasai penuh oleh Hamas, mereka bisa merayakan natal dengan damai, tanpa adanya tekanan maupun tindakan diskriminatif dari kelompok Hamas.

Warga Kristen di Ghaza, bahkan menyatakan tidak menggelar perayaan natal yang berlebihan sebagai bentuk solidaritas mereka terhadap warga Muslim di Ghaza yang sedang mengalami penindasan baik dari dunia internasional maupun dari pemerintahan otoritas Palestina sendiri.

“Saya bisa saja meminta izin pada Perdana Menteri Ismail Haniyah untuk menggelar perayaan natal yang meriah dan meminta menteri dalam negeri untuk memberikan bantuan pengamanan, tapi kami memutuskan untuk tidak melakukan itu, ” kata Monsignor (gelar untuk pendeta Katolik Roma-red) Manuel Mussalam, ketua komunitas Katolik Roma di Ghaza.

Mussalam justru mengungkapkan kesedihannya atas agresi yang dilakukan pasukan militer Zionis Israel ke Ghaza, yang telah mengganggu kekhidmatan perayaan natal umat Kristiani di wilayah itu.

“Setiap ada yang meninggal dunia, terluka dan menjadi tawanan Israel. Pada hari raya Idul Adha, warga Muslim banyak yang menjadi martir dan ini sangat menyedihkan, kami tidak bisa mengabaikan bagaimana sedihnya perasaan mereka, ” kata Mussalam prihatin.

“Kegembiraan warga Muslim, kegembiraan kami juga. Kesedihan mereka, kesedihan kami juga. Kami mengalami krisis yang sama dan kami punya tujuan yang sama, ” sambungnya.

Mussalam mengungkapkan, seorang menteri asal Hamas, Dr Basem Na’eem adalah orang pertama yang menyampaikan ucapan selamat padanya dan warga Kristen di Ghaza pada hari Natal.

“Kami betul-betul merasakan kebebasan beribadah di bawah pemerintahan Hamas. Saya tidak pernah menerima keluhan apa pun dari umat Kristiani di Ghaza, tentang pemerintahan Hamas, ” tambah Monsignor Mussalam.

Pernyataan Mussalam dibenarkan oleh Attala, warga Kristen di Ghaza yang berprofesi sebagai dokter. “Kami tidak punya masalah karena Hamas. Kami merasakan persaudaraan dan toleransi antar umat beragama di sini, di Ghaza, ” tukas Attala.

Warga Kristen lainnya, Simon Tarazi juga menyatakan bahwa ia tidak pernah mengalami perlakuan diskriminatif dari orang-orang Hamas. “Saya tidak pernah merasa diganggu atau dilecehkan oleh warga Muslim, ” ujar Tarazi.

Sementara itu, Basem Ayyad mengaku kehidupannya lebih baik di bawah pemerintahan Hamas. Ayyad masih ingat bagaimana otoritas Hamas membantunya membayarkan uang yang ia pinjam dari seseorang.

Meski demikian, umat Kristiani merasakan natal tahun ini kurang bersemangat karena situasi ekonomi yang lesu akibat embargo ekonomi Israel dan dunia internasional terhadap wilayah Ghaza.

Ibrahim Ajab, penjual hiasan natal di Ghaza mengaku barang dagangannya tidak begitu laku pada natal tahun ini. Sedangkan Attala yang berprofesi dokter mengeluhkan ketiadaan obat-obatan untuk para pasiennya di rumah sakit.

“Bagaiamana kami bisa merayakan natal disaat kami tidak mendapatkan obat-obatan untuk para pasien, dan banyak pasien yang tidak dizinkan berobat ke luar Ghaza, ” tandas Attala.

Ia melanjutkan, “Sebagai umat Kristiani, kami tidak pernah bermasalah dengan Hamas. Sumber bencana sesungguhnya di sini (Ghaza) adalah penjajahan rejim Israel. “

Data Biro Statistik Palestina menyebutkan, jumlah warga Kristen di Ghaza sekitar 3. 000 orang dari 1, 5 juta total penduduk Ghaza. (ln/iol)

Catatan Haji Eramuslim 1428 H: Perpisahan Itu…

Desember 27, 2007

Airmata seringkali mengiringi sebuah perpisahan. Hanya saja Kami tidak tahu, apakah kali ini airmata yang mengembang membasahi mata adalah cerminan kesedihan atau kebahagiaan. Kami jelas sedih harus meninggalkan orang-orang yang tersayang. Namun Kami juga gembira karena sebentar lagi—insya Allah—akan bergabung dengan jutaan tamu Allah dalam suatu jamuan suci yang lebih kita kenal dengan istilah Ibadah Haji.

Bagi siapa pun yang pernah mengalami perpisahan ini, akan bisa merasakan hal yang sama dengan perasaan Kami. Betapa haru Kami harus meninggalkan anak-anak yang masih kecil, betapa sedih Kami akan meninggalkan isteri yang dicinta, betapa remuk-redam Kami harus berpisah dengan para orangtua di mana Kami merasa belum cukup berkhidmat melayani mereka.

“Ya Allah, janganlah Kau jadikan hari ini sebagai pertemuan terakhir Kami dengan orang-orang yang Kami kasihi… Masih banyak hak-hak mereka yang belum dapat Kami penuhi…”

Di hari itu, mata Kami yang memerah menatap lekat-lekat satu dengan lainnya. Seolah ini merupakan pertemuan terakhir sebelum pertemuan abadi nanti di Padang Masyar. Walau ibadah haji tidaklah lama, namun Kami tidak bisa menduga apakah Kami akan pulang dengan selamat ke tanah air, atau malah Kami akan pulang ke haribaan Allah SWT. Sudah banyak kisah betapa perpisahan haji di tanah air menjadi perpisahan terakhir bagi sanak-keluarga. Ibadah fisik yang tidak mustahil harus dibayar dengan jiwa. Kami menyadari. Kami memasrahkan segalanya pada Allah SWT. Walau begitu Kami tetap berdoa, “Jangan…jangan sekarang ya Allah…”

Bukan kali ini saja sebenarnya Kami meninggalkan keluarga dan orang-orang yang Kami cintai untuk beberapa waktu. Bahkan seringkali Kami bepergian ke tempat yang lebih jauh dan lama waktunya ketimbang Jakarta-Makkah. Namun kali ini sungguh-sungguh terasa berbeda. Hati Kami begitu damai, begitu syahdu dan haru. Kami merasakan betapa bumi Allah ini, langit dan awan-Nya, serta pasukan angin dan udara turut mengiringi kepergian kami menuju Baitullah.

Perpisahan ini bagai perpisahan terakhir. Orang-orang yang tercinta melepas Kami bagaikan melepas para mujahid Allah yang siap syahid dalam membela agama-Nya. Walau demikian masih sempat Kami lihat pada mata bening anak-anak dan isteri Kami satu pesan: ”Abi… Kami mendoakanmu selalu. Kembalilah nanti pada Kami dengan selamat… Mudah-mudahan Engkau menjadi haji yang mabrur, yang memperoleh berkah dan ganjarannya di sisi Allah SWT. Amien. ”

Begitulah nuansa perpisahan ini. Kami telah ikhlas Ya Allah. Mereka pun telah ikhlas Ya Allah. Inilah ujian terberat bagi Kami, meninggalkan orang-orang yang Kami cintai, tuk menggapai cinta-Mu yang lebih besar dan abadi…

Sembari berjalan bibir kami terus basah dengan dzikir. Kepala Kami tertunduk menekuri tanah air yang kian lama kian jauh. Airmata Kami menitik jatuh satu persatu. “Ya Allah, izinkanlah hamba Mu ini untuk bisa menikmati wajah-Mu kelak di akherat. Bukalah surga-Mu buat Kami… Berilah harum surga-Mu saat nyawa Kami Engkau ambil kembali, Ya Allah… Jadikan Kami sebagai bagian dari orang-orang yang senantiasa menjaga tegaknya agama-Mu, amin ya robbal alamin…’(m)

Catatan Haji Eramuslim 1428H: Keistimewaan Air Zam-Zam

Desember 27, 2007

Salah satu daya tarik ketika mengunjungi Masjidil Haram di Makkah al-Mukarramah adalah sumur zam-zam. Beberapa tahun lalu, sumur zam-zam di masjid ini masih berupa sumur yang terbuka, di mana setiap orang masih bisa menyaksikan secara visual sumur tersebut.

Namun sayangnya, banyak umat Islam yang tidak bersungguh-sungguh dalam menjaga ketauhidannya, sehingga mereka mencari keberkahan air zam-zam dengan cara yang salah. Ketika melihat sumur zam-zam, banyak di antara mereka dulu yang melemparkan barang-barang pribadi ke dalam sumur itu dan pada akhirnya sumur itu kotor.

Akhirnya pemerintah Saudi, melakukan proses pembersihan sumur zam-zam dengan menggunakan pompa besar serba modern. Banyak ditemukan barang-barang seperti sorban, peci, arloji, bahkan kalung emas, dan lain-lain di dalam sumur tersebut.

Setelah 1 pompa besar digunakan, sumur juga tidak kering, maka digunakan pompa kedua dan juga tidak kering, maka digunakan lagi pompa yang jauh lebih besar, dan tak kering pula. Tidak pernah sumur zam-zam airnya menyusut. Maka para ilmuwan dan ahli agama di sana menyatakan bila kita mengambil satu liter air zam-zam maka zam-zam itu segera mengalirkan satu liter lagi ke dalam sumur tersebut. Dan mereka berketetapan, insya Allah, sumur zam-zam tak kan pernah kering sampai dengan Dia mentakdirkan yang lain.

Keajaiban Zam-Zam

Ada beberapa keajabaiban terhadap manfaat air ini. Ada seorang wanita Maroko yang telah divonis kankernya tak akan bisa sembuh dan akan wafat 1 atau 2 bulan lagi, tak ada alternatif lagi. Maka ia mengajukan permintaan terakhir untuk umrah… sampai di sana setelah ia melakukan sholat tawaf, maka ia mengambil air zam-zam dari sumurnya dan meminumnya sambil berdoa:

“Ya Allah, jika kehidupan bagi saya adalah lebih baik, mohon sembuhkanlah Ya Allah… dan bila kehidupan ini menjadikan saya mendustakanMu, maka akhirilah dengan akhir yang baik, Ya Allah”. Doa itu diulang-ulang beberapa kali sambil meneguk zam-zam. Sepekan setelah itu, fisiknya kian membaik dan akhirnya sembuh. Pada saat itu semua ilmu kedoktrean sudah tak sanggup lagi. Itulah zam-zam.

Ada lagi kisah tentang artis sinetron Indonesia, Ferry Irawan. Dia terkena stroke, lalu dia melakukan umroh, tawaf di Kabah dan meminum air zam-zam. Ketika meminum, karena stroke, dia tak bisa menggunakan tangan kanan dan akan minum dengan tangan kiri… Saat itu banyak orang Arab yang menegurnya seraya mengatakan gunakanlah tangan yang kanan. Banyak di antara mereka yang berkata, “Bismillah… pakai tangan kanan, pakai tangan kanan…”

Akhirnya dengan sekuat tenaga Ferry mencoba menggerakkan tangan kanannya untuk meraih gelas berisi air zam-zam. Subhanallah! Seketika itu juga tangan kananya bisa digerakkan dan akhirnya Ferry bisa meminum air zam-zam dengan tangan kanannya. Tangannya yang lumpuh bisa kembali digerakkan seketika…

KIsah Zam-Zam

Air Zam-zam berasal dari mata air Zamzam yang terletak di bawah tanah, sekitar 20 meter di sebelah Tenggara Ka’bah. Mata air atau Sumur ini mengeluarkan Air Zam-zam tanpa henti. Diamanatkan agar sewaktu minum air Zam-zam harus dengan tertib dan membaca niat. Setelah minum air Zam-zam kita menghadap Ka’bah.

Sumur Zam-zam mempunyai riwayat yang tersendiri. Sejarahnya tidak dapat dipisahkan dengan isteri Nabi Ibrahim AS, yaitu Siti Hajar dan putranya Ismail AS. Sewaktu Ismail dan Ibunya hanya berdua dan kehabisan air untuk minum, maka Siti Hajar pergi ke Bukit Safa dan Bukit Marwah sebanyak 7 kali. Namun tidak berhasil menemukan air setetespun karena tempat ini hanya merupakan lembah pasir dan bukit-bukit yang tandus dan tidak ada air dan belum didiami manusia selain Siti Hajar dan Ismail.

Penjelasan tentang sejarah ini adalah sebagai berikut: Saat Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan Ismail tiba di Makkah, mereka berhenti di bawah sebatang pohon yang kering. Tidak berapa lama kemudian Nabi Ibrahim AS meninggalkan mereka. Siti Hajar memperhatikan sikap suaminya yang mengherankan itu lalu bertanya;” Hendak ke manakah engkau Ibrahim, aampai hatikah engkau meninggalkan kami berdua di tempat yang sunyi dan tandus ini? ” Pertanyaan itu berulang kali, tetapi Nabi Ibrahim tidak menjawab sepatah kata pun. Siti Hajar bertanya lagi, “Apakah ini memang perintah dari Allah?”

Barulah Nabi Ibrahim menjawab, “Ya.” Mendengar jawaban suaminya yang singkat itu, Siti Hajar gembira dan hatinya tenteram. Ia percaya hidupnya tentu terjamin walaupun di tempat yang sunyi, tidak ada manusia dan tidak ada segala kemudahan. Sedangkan waktu itu, Nabi Ismail masih menyusu.

Selang beberapa hari, air yang dari Nabi Ibrahim habis. Siti Hajar berusaha mencari air di sekeliling sampai mendaki Bukit Safa dan Marwah berulang kali sehingga kali ketujuh (terakhir). Ketika sampai di Marwah, tiba-tiba terdengar oleh Siti Hajar suara yang mengejutkan, lalu ia menuju ke arah suara itu. Alangkah terkejutnya, bahwa suara itu ialah suara air memancar dari dalam tanah dengan derasnya. Air itu adalah air Zam-zam.

Air Zam-zam yang merupakan berkah dari Allah SWT, mempunyai keistimewaan dan keberkatan dengan izin Allah SWT, yang bisa menyembuhkan penyakit, menghilangkan dahaga serta mengenyangkan perut yang lapar. Keistimewaan dan keberkatan itu disebutkan pada hadits Nabi, “Dari Ibnu Abbas r. A., Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik air di muka bumi ialah air Zamzam. Air Zamzam merupakan makanan yang mengenyangkan dan penawar bagi penyakit.”(m)

Catatan Haji Eramuslim 1428H: Keajaiban Medan Magnet di Madinah

Desember 27, 2007

Ada sebuah wilayah di utara Madinah yang merupakan tempat wisata warga sekitar, letaknya di balik Gunung Uhud, sekitar 25 kilometer utara pusat kota Madinah. Jalan raya di sana menuju kuldesak, jalan buntu. Banyak warga camping di sini. Jangan dibayangkan sama seperti di Indonesia, di mana tempat perkemahan biasanya merupakan lahan hijau nan penuh rumput dan pepohonan. Di utara Madinah ini, lahan tempat campingnya adalah sebuah tanah lapang tandus, padang pasir, dengan pohon dan semak sesekali dikelilingi oleh bukit batu. Daerah ini berada di luar batas tanah haram.

Warga Madinah yang ingin melakukan perkemahan atau sekadar jalan-jalan biasanya membawa tenda sendiri dan berkendaraan pribadi. Mereka juga membawa makanan sendiri. Persis tradisi rakyat Indonesia di era tahun 1970-an yang sering melakukan piknic di pinggir jalan dengan beralaskan tikar dan makan-makan seadanya, duduk bersama di bawah pohon.

Wilayah ini termasuk wilayah tersubur di Madinah, selain di Quba. Jalannya berkelak-kelok, berbeda dengan jalan-jalan raya kebanyakan di sini yang lurus-lurus. Yang tumbuh ditanahnya juga kurma terbaik di Jazirah Arab, kurma Nabi atau Kurma Ajwa. Dinamakan demikian karena diyakini pohon kurma tersebut dahulu langsung ditanam Rasulullah SAW. DI masa dahulu, wilayah ini merupakan tempat uzlah atau menyepi bagi mereka yang tengah berselisih pendapat agar bisa mendapat ketenangan.

Namun, yang membuat wilayah ini terkenal ke seantero jagad bukanlah karena wilayah yang disebut sebagai perkampungan putih (Mantheqa Baidha) ini dijadikan tempat wisata, melainkan keajaiban alamnya yang hanya ada di segelintir tempat di dunia. Banyak orang percaya bahwa di daerah ini terdapat sebuah medan magnetik yang sangat kuat dan besar.

Fenomena alam yang luar biasa ini bisa dirasakan sepanjang lima kilometer ruas jalan dari ujung aspal sampai pintu masuk ke daerah ini. Jalan ini sendiri berakhir di lima deret bukit yang mengelilingi wilayah tersebut. Jalannya turun naik. Namun kendaraan yang menuju perbukitan jalannya hanya bisa pelan, seolah ada yang menahan. Sebaliknya, dari arah perbukitan, walau jalannya tidak menurun tetapi turun naik, semua kendaraan akan berjalan dengan cepat bahkan bisa sampai 120km/jam walau persneling dibebaskan. Bahkan kendaraan dimatikan pun akan tetap melaju sekencang itu.

Ini tentu bukan isapan jempol. Beberapa jamaah Indonesia sempat membuktikan cerita itu. Eramuslim sendiri mencoba untuk mengetes apakah memang ada medan magnet atau sekadar tipuan mata. Dengan sebuah bus besar, rombongan kami melalui daerah ini. Sesaat menjelang masuk ke wilayah yang dikatakan ada medan magnetiknya, guide Kami menyerukan agar handphone yang ada segera dimatikan untuk menghindari hilangnya data. Semua penumpang mengeluarkan ponselnya dan mematikan. Kecuali ponsel milik Eramuslim. Kami ingin mengecek benar tidaknya himbauan guide kami tersebut.

Sesaat kemudian, guide kami berseru, “Inilah saatnya…”. TIba-tiba bus besar yang kami tumpangi memposisikan free pada roda gigi busnya…dan bus pun berhenti. Tak sampai beberapa detik, bus yang tadinya berhenti dan masih di free roda giginya tiba-tiba bergerak perlahan. Kian lama kian kencang. Hingga ajaib, kendaraan yang Kami tumpangi melaju dengan kecepatan 90 kilometer per jam sejauh tiga kilometer!

Sang pemandu perjalanan Kami mencoba menerangkan fenomena unik. Dia mengatakan bahwa kemungkinan besar bukit-bukit yang ada di sekitar mengandung magnet yang kuat, sehingga bisa menarik tiap logam ke arahnya.

Kami pun mengecek ponsel yang tidak Kami matikan. Ternyata benar. Ponsel Kami tidak bekerja dan bahkan banyak data hilang di dalamnya. Kami jelas sedih, tapi rasa takjubnya jauh lebih besar. Subhanallah… Allahu Akbar! Kami telah membuktikannya. Dan bagi siapa saja yang pergi haji atau umroh dan melalui wilayah ini, segera matikan ponsel Anda dan bersiap menikmati pengalaman yang tidak terlupakan. Jangan lupa, matikan ponsel Anda, atau data-data di dalam ponsel akan banyak yang hilang….

Kian Besar Kian Cepat

Menurut warga sekitar, kecepatan kendaraan yang bisa ditarik oleh medan magnet di wilayah ini bisa berbeda-beda. Semakin besar dan berat kendaraan yang melintas, maka akan semakin cepat magnet menariknya hingga bisa sampai 120 kilometer perjam sejauh lima kilometer! Sudah banyak yang membuktikan hal tersebut. Ada sejumlah orang yang datang dengan kendaraan berbeda dan membuktikannya.

Bukit Gravitasi

Tidak banyak tempat di seluruh dunia yang memiliki medan magnetic seperti di Madinah ini. Tempat serupa ada di Korea Selatan, Yunani, Australia, timur Amerika, dan juga di sekitar Gunung Kelud, Jawa Timur. Hanya saja, kekuatan magnet di daerah-daerah tersebut tidaklah sekuat yang ada di Madinah.

Siapa pun bisa mengalami hal ini dengan mengunjungi langsung wilayah tersebut. Namun bagi yang belum bisa merasakan sendiri, silakan menonton fenomena unik ini dengan mengklik situs youtube dengan menulis ‘Gravity Hills’ atau ‘Magnetic Hills’ di kolom pencariannya. Yang jelas, keajaiban ini seharusnya mampu menambah kecintaan kita kepada Allah SWT, yang telah menciptakan alam semesta seisinya dengan kesempurnaan yang tiada cela sedikit pun.(m)

Milad 20 Th HAMAS, Mengenal Lebih Dekat Abu Ubaidah, Jubir Izzuddin Al-Qassam (Tamat)

Desember 27, 2007

Menurut Abu Ubaidah, “Sebenarnya yang kami lakukan selama ini, sebagian besarnya adalah berdasarkan aksi pengamanan. Karenanya, berbagai sarana dan strategi kami akan tetap tidak diketahui. Tidak mungkin kami mengumumkan sarana yang kami miliki secara terang terangan. Kami hanya bisa mengatakan ada banyak sarana perang yang belum pernah kami gunakan sama sekali sebelum ini. “

“Kami juga mempunyai taktik strategi yang akan dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat. Israel tahu benar tentang kemampuan kami tersebut. Meski mereka terus menerus melakukan serangan, namun mereka tahu bahwa ada taktik dan strategi yang belum dilakukan oleh kami. Brigade Al-Qassam masih memiliki banyak strategi dan sarana yang akan digunakan di waktu yang tepat untuk mengejutkan Israel. ”

“Allah swt mengkaruniai kami barisan pejuang ahli yang mampu mengembangkan sarana perang untuk mengusir Israel. Setiap hari mereka menghasilkan produk perkembangan baru yang mereka lakukan dengan sarana sederhana dari tangan-tangan mereka. Mereka setiap hari mengembangkan kekuatan yang kami punya untuk menghadapi Israel. Ini merupakan salah satu keberhasilan perlawanan Palestina. “

“Itulah yang menyebabkan Israel harus berpikir ulang untuk melakukan serangan darat dan laut terhadap Ghaza karena mereka tahu ada kemampuan militer pejuang kami yang mampu menangkis bahkan mentargetkan pasukan Israel, tanpa diduga sebelumnya. “

Kami Terdidik dengan Al-Qu`ran

Bagaimana cara Al-Qassam mendidik kadernya, dijelaskan oleh Abu Ubaidah. “Kader Al-Qassam adalah bagian dari rakyat Palestina dan kader Hamas yang melakukan secara rutin melakukan pembinaan diri sebagaimana kader kader gerakan yang lain. Hanya saja mereka melakukannya sesuai dengan kondisi yang mereka hadapi. “

“Setiap kami terdidik dengan Al-Qur’an, setiap kami terlibat dalam kamp-kamp pelatihan, patroli dan penjagaan perbatasan. Itu adalah kesempatan paling indah bagi kami karena kami menginginkan mati syahid. Saudara-saudara kami yang tidak terlibat dalam aktifitas perlawanan, banyak yang meminta untuk bisa bergabung dalam sayap militer Al-Qassam. Hampir semua pemuda Palestina berharap mereka menjadi bagian dari perlawanan ini agar menjadi duri yang tajam bagi penjajah Israel yang zalim. “

“Para pejuang yang syahid semuanya melekat dalam hati saya terutama Syaikh Ahmad Yasin dan Rantisi. Mau tidak mau gugurnya mereka memberi pengaruh kehilangan pada aksi perlawanan. Tapi kami yakin aksi kami harus terus berjalan. Akan ada generasi baru menggantikan generasi sebelumnya. Sebagaimana saat Rasulullah saw wafat, muncul pula banyak tokoh lain yang meneruskan perjuangannya. Kami insya Allah terus menerus melakukan regenerasi dan revitalisasi bagi perjuangan ini. ” (TAMAT/M. Lili Nur Aulia, disarikan dari wawancara media Aljazeera, Ikhwanonline, Palestine Information Center, Alqassam)   < 1 2 3 >

Milad 20 Th HAMAS: Mengenal Lebih Dekat Abu Ubaidah, Jubir Izzuddin Al-Qassam (Bag.2)

Desember 27, 2007

Saat ini, Ghaza terus menerus mendapat serangan militer Israel. Puluhan pejuang Al-Qassam gugur. Berbagai analisa menyebutkan, Israel telah menyiapkan aksi besar-besaran untuk meluluhlantakkan Ghaza. Tapi Abu Ubaidah tetap optimis menghadapi kemungkinan serangan Israel dengan menyatukan berbagai anasir pejuang di Palestina.

Ia menegaskan bahwa pihaknya sudah lama menyatukan unsur Izzuddin Al-Qassam dan unsur pejuang Palestina lain, untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi tersebut. “Kami dalam organisasi Al-Qassam sejak awal meletusnya serangan Zionis Israel terhadap aksi intifadhah Al-Aqsha telah mempersiapkan diri menghadapi serangan apa pun di Ghaza. Kami menganggap melawan Israel adalah bagian prinsip dan mendasar dari aksi kami mengusir penjajahan Israel. “

“Kami menggunakan semua sarana yang kami miliki untuk melawan serangan atas Ghaza. Kami memiliki strategi pengamanan dan perlindungan khusus untuk mengusir serangan musuh Israel. Strategi kami adalah strategi yang matang, dan telah dianalisa secara hati-hati sehingga bisa mengusir serangan Israel dari setiap jengkal wilayah Ghaza. Kami mempersiapkan strategi independen untuk menghadapi penjajah Israel di Ghaza. Termasuk menjalin koordinasi dengan sayap militer pejuang Palestina yang lain saat terjadinya serangan untuk menghindari kesalahan di lapangan. Kami berupaya melawan penjajah dengan meminimalisir kerugian yang mungkin dilakukan. Semua lini pejuang Palestina di Ghaza sudah sepakat untuk membentuk satu ruang aksi bersama untuk mengusir Zionis. ”

Jika kini kondisi Ghaza semakin terpuruk, menurut Abu Ubaidah kondisi seperti itu tidak hanya terjadi saat ini saja melainkan sudah sejak dulu. Ia mengatakan, “Sebenarnya, Ghaza sudah sejak lama mengalami embargo dari Israel. Mereka sudah lama melakukan serangan menyeluruh dari udara, darat dan laut berulang kali, ke berbagai lokasi di Ghaza. Rakyat Palestina membayar harga kesalahan yang dilakukan para pemimpin Negara Arab ketika mereka mau menghadiri Annapolis misalnya dan duduk berdiskusi dengan penjajah, lalu penjajah menampakkan kecintaan pada perdamaian di hadapan dunia internasional. ”

“Setelah itu penjajah datang kembali ke Palestina untuk melanjutkan pembantaiannya terhadap rakyat Palestina. Israel melakukan serangan secara intensif dan regular terhadap Ghaza untuk menyibukkan pasukan kami melakukan serangan dan hanya melakukan aksi pertahanan saja. “

Menurut Abu Ubaidah, pengalaman bertahun-tahun berinteraksi secara militer dengan Zionis Israel telah memberi pelajaran berharga sehingga pihaknya mengetahui apa yang dikehendaki Israel di balik serangan-serangannya.

Ia mengatakan, “Kami sudah mempelajari hal ini dari banyak kasus serangan Israel. Penjajah sedikit demi sedikit ingin memancing kami untuk melakukan perlawanan ke wilayah terbuka agar bisa menghabisi lebih banyak jumlah mujahidin dan pejuang yang mereka bunuh. Israel juga ingin memberi pelatihan kepada pasukannnya untuk melakukan serangan massif ke Ghaza. Ini target militer yang dipublikasikan oleh penjajah Israel. Tapi kami tahu bahwa target strategis yang diinginkan mereka jelas sekali bahwa mereka hanya ingin menumpahkan darah Palestina sebanyak-banyaknya, bermain dengan darah rakyat Palestina. ”

Perundingan Annapolis Memberi Angin untuk Israel

“Israel dalam beberapa waktu terakhir, khususnya pascaperundingan Annapolis, sudah diduga akan melakukan serangan seperti ini.. Dan kini terbukti mereka melakukan serangan secara terus menerus, menghancurkan berbagai lokasi pejuang yang menjaga perbatasan. Karena memang ada sejumlah pos penjagaan yang selalu dijaga oleh para pejuang. Artinya ada pejuang khusus di tempat tertentu yang memang setiap hari pergi ke sana dan merekalah ang menjadi sasaran rudal Israel dan senjata Israel. “

“Tapi kami saat ini dengan izin Allah sudah mempunyai sejumlah alternative lain untuk mengatasi hal ini. Ada sejumlah strategi yang kami lakukan hasil pengalaman kami dari banyak perlawanan dengan Israel. Israel, meskipun mereka berhasil menargetkan pembunuhan terhadap para pejuang penjaga perbatasan kali ini, dengan izin Allah kami akan menggagalkan mereka dalam serangan berikutnya. Ini adalah peperangan yang terus kami lakukan antara kami dan penjajah Israel dengan berbagai kemungkinan yang terbuka lainnya. “

“Meskipun ada informasi tentang keberhasilan Zionis Israel melalui serangan udaranya menghantam posko pejuang Palestina di Khan Yunis yang diberitakan telah memunculkan kerugian besar bagi pejuang Palestina di wilayah itu. Kami tidak meyakini itu yang sebenarnya terjadi. Di setiap fase kami telah mampu bertahan dengan izin Allah, kami mempunyai ragam alternatif dan ragam pilihan yang tidak diduga oleh musuh. Khususnya kami juga berulangkali berhasil melakukan serangan yang tidak diduga-duga sebelumnya oelh musuh, yang sebelumnya dianggap sebagai lokasi yang sudah dikuasai oleh mereka. Tapi ternyata di lokasi itu, kami masih berhasilmelakukan ragam serangan dan aksi serangan. “

“Serangan kami itu misalkan saja operasi yang disebut sebagai wahm mutabadded, di mana kami berhasil menyandera prajurit Israel Ghilad Shalit. Serangan itu terjadi di lokasi yang tidak pernah diduga Israel bisa dijangkau oleh satu unit pejuang Palestina. Lokasi itu adalah tempat yang sangat ketat pengamanannya secara militer dan tidak ada yang bisa masuk ke wilayah itu, karena itu merupakan wilayah militer tertutup, seluruh peralatan militer ada di sana dan ternyata kami bisa sampai ke sana dan bahkan dengan izin Allah kami berhasil menangkap seorang serdadu Israel kemudian para pejuang bisa selamat ke tempat persembunyian mereka. “

“Ada sejumlah aksi lain yang telah kami persiapkan. Israel bisa saja berhasil dalam keberhasilan jangka pendek untuk menyasar para pejuang dan melemahkan perlawanan di lokasi tertentu. Tapi dalam jangka panjang atau menengah, mereka tidak berhasil melumpuhkan perlawanan. “

“Terkait operasi militer yang terus menerus dilakukan Israel belakangan ini, kami jelaskan memang ada sejumlah wilayah di Selatan Ghaza yang terus menerus menjadi sasaran serangan. Khsusunya di wilayah Timur Khanyunis, lingkar perbatasan Shoufa dan sisi Timur Laut Rafah. Juga lokasi Fakhari di Barat Daya Khan Yunis. Semua daerah di sana adalah daerah yang terbuka secara keamanan dan militer. Dan daerah itu kami anggap tidak mungkin dilakukan serangan dan perlawanan. Khususnya, di daerah itu telah dimasuki tank-tank baja dengan perlindungan ekstra dari pesawat tempur Israel yang terus menerus melakukan tembakan dari udara. “

“Meski demikian, ternyata kalangan pers yang menyaksikan serangan dan mengikuti perkembangan menyebutkan ternyata ada banyak peristiwa Israel tetap dikejutkan dengan perlawanan pejuang yang tidak mereka duga sebelumnya. “

“Israel hingga saat ini masih tidak berani untuk melakukan serangan besar ke wilayah-wilayah itu. Karena mereka sebelumnya pernah mencoba hal itu di tahun 2004. Ketika mereka mencoba menguasai Kamp pengungsi Jabaliya dan selama 17 hari mereka berupaya masuk ke Jabaliya namun tidak berhasil sedikit pun untuk masuk. Penjajah Israel sadar betul bahwa masuk ke wilayah Ghaza akan mendatangkan kerugian tak terperi bagi pasukan Israel. Karena itulah, kini Israel selalu melakukan serangan udara karena mereka sadar takkan mampu melakukan serangan dengan pasukan artileri. ” (Lili Nur Aulia/bersambung)   < 1 2 3 >

Milad 20 Th HAMAS: Mengenal Lebih Dekat Abu Ubaidah, Jubir Izzuddin Al-Qassam (Bag.1)

Desember 27, 2007

Silaturahim tidak harus bertemu muka. Silaturahim bisa juga dalam qolbu. Ukhuwah Islamiyah lah yang menjadi ikatannya. Kali ini eramuslim mengajak para Pembaca Budiman untuk bersilaturahim dengan Abu Ubaidah, Juru Bicara Sayap Militer Hamas dari Brigade Izzudin Al-Qassam. Silaturahim jarak jauh ini dilakukan dalam memperingati Milad ke-20 tahun Hamas sekaligus 20 tahun lahirnya gerakan intifadhah di Palestina. Sebuah gerakan rakyat Palestina mengusir Zionis-Israel keluar dari Tanah Palestina.

Bicara tentang Hamas, begitu banyak peran dan pengorbanan yang telah diberikan Hamas dalam rentang usianya itu, hingga mengangkat kasus Palestina ke publik internasional dan akhirnya mereka berhasil merebut mayoritas suara dalam pemilu Palestina di awal tahun 2006.

Tapi di sisi lain, momentum kemenangan itulah yang merupakan titik perubahan besar dalam kasus Palestina. Karena kemenangan itu tidak dikehendaki oleh organisasi Fatah yang telah puluhan tahun menguasai panggung politik Palestina.

Disusul dengan ragam upaya menggulingkan pemerintahan Hamas melalui ragam cara yang akhirnya membelah Palestina menjadi dua, Ghaza dikuasai Hamas dan Tepi Barat dikuasai Fatah. Pembelahan kekuasaan ini, kemudian memancing Zionis-Israel dan AS yang kian membabi buta untuk menghabisi Hamas dengan embargo dan operasi militer bertubi-tubi. Mereka ingin menghukum rakyat Palestina yang menjatuhkan pilihannya pada organisasi Hamas yang telah terbukti banyak pengorbanannya untuk membela rakyat Palestina.

Kondisi Ghaza kini makin terhimpit. Bukan hanya laksana penjara kematian karena seluruh penduduknya mengalami isolasi dari ragam kebutuhan hidup, tapi juga mereka menjadi “santapan” mesin perang Israel yang setiap hari nyaris tak pernah berhenti menyerang berbagai tempat di Ghaza.

Dalam situasi operasi militer yang kian intensif, puluhan pejuang Palestina sudah gugur. Operasi militer Israel yang dilakukan setiap hari diduga akan semakin kuat dan mentargetkan pelumpuhan perjuangan Batalyon Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas, yang selama ini mampu memberi perlawanan terhadap serangan-serangan Israel dan bahkan melakukan aksi yang tak terduga.

Berbicara tentang kondisi Negara yang tengah dijajah, maka tema pertahanan, perlawanan dan aksi militer adalah hal yang tidak terhindarkan. Maka, Abu Ubaidah, sebagai juru bicara Al-Qassam pun menjadi tokoh yang layak didengarkan bagaimana kisah dan strategi perjuangan senjata yang dilakukan rakyat Palestina menghadapi kezaliman perampas Tanah Palestina, Zionis Israel.

Siapa Abu Ubaidah?

Tidak banyak yang tahu identitasnya. Ia sosok yang tampil tak pernah melepaskan penutup kepala, kecuali lubang bagian mata dan mulutnya, menyampaikan pernyataan pers dari Al-Qassam tentang operasi militer Al-Qassam maupun mengomentari kebiadaban Israel. “Saya hidup dalam keluarga yang sama dengan banyak keluarga lainnya di Palestina, di rumah sederhana dengan pendidikan Al-Qur`an. Orang tua saya sangat menjaga agar saya sering pergi ke masjid bersamanya. Itulah antara lain yang menghidupkan jiwa saya menjadi cinta pada masjid dan memiliki aktifitas dzikir serta pengajian rutin di masjid. Intifadhah Al-Aqsha kemudian menjadi bagian besar dari hidup saya untuk melakukan jihad di lapangan pers dan publikasi. Saya kemudian bertemu dengan para pejuang Palestina seperti Syaikh Ahmad Yasin, Rantisi dan Abu Shaneb, ” ujarnya suatu ketika.

“Ada peristiwa masa kecil saya yang berkesan, ketika kecil saya bermain di tepi pantai lalu saya melihat patroli Israel yang sedang lewat dari kejauhan. Ketika itu, saya tiba-tiba sangat ingin mempunyai dua sayap untuk terbang ke arah mereka. Keinginan itu begitu kuat hingga saya secara tidak sadar mengambil pakaian dan payung sambil berlari. Tiba-tiba angin kencang menghempas saya hingga terjatuh ke laut. Padahal sebelumnya saya sangat takut mendekati air laut. Saat itu, saya hampir saja tenggelam, ” lanjutnya.

Kenangan lain yang juga selalu tersimpan dalam benaknya adalah tentang saudaranya, Muhandis Rami Saed, yang memenuhi panggilan jihad di malam pengantinnya untuk melakukan misi bom syahid. “Itu malam pertama kami melakukan aksi bom syahid dan malam itu berhasil meledakkan sebuah tank Israel. Sebelumnya kami berkumpul di rumah Syaikh Shalah Shahatah dan saya yang mengambil rekaman gambarnya, sebelum kemudian saya yang menyampaikan pernyataan pers tentangnya, ” kenang Abu Ubaidah.(Lili Nur Aulia/bersambung) < 1 2 3 >

Ehud Olmert Perintahkan Percepat Penggalian Al-Maghariba

Desember 21, 2007

PM Israel Ehud Olmert memerintahkan lembaga Israel Antiquities Authorities (IAA) untuk segera mempercepat pekerjaan penggalian di Pintu Al-Maghariba, satu dari 14 pintu gerbang Masjid Al-Aqsa.

Surat kabar Israel Haaretz menyebutkan, untuk mempercepat pengggalian itu, pemerintahan Olmert menyediakan dana sebesar empat juta dollar.

Israel memulai pengerjaan di Pintu Al-Maghariba sejak bulan Februari. Dengan menggunakan buldoser-buldoser, Israel menghancurkan jembatan kayu yang menjadi jalan menuju ke pintu tersebut dan menghancurkan dua ruangan bawah tanah yang berada dibawahnya.

Tindakan Israel ini memicu protes dari warga Palestina, umat Islam dan lembaga-lembaga kebudayaan serta arkeologi internasional. Israel menyatakan, mereka mau mengganti pintu tersebut dengan bangunan yang lebih kuat. Namun kalangan arkeologi mengingatkan, timbunan tanah yang diletakkan di bekas bangunan jembatan kayu menuju Pintu Maghariba membahayakan pondasi Masjid Al-Aqsa dan makin membuka jalan bagi Israel untuk terus melakukan penggalian.

UNESCO sudah meminta Israel untuk menghentikan penggalian, dan jika ingin melakukan penggalian harus didampingi sebuah tim pakar internasional. Sebuah tim pakar dari Turki yang meneliti penggalian yang dilakukan Israel, juga sudah merekomendasikan agar penggalian dihentikan.

Kantor Olmert pada Haaretz hari Senin kemarin mengklaim bahwa penggalian dan pembangunan di Pintu Al-Maghariba sudah dihentikan sejak bulan Juni, dengan alasan ada persoalan dalam perencanaan dan bukan karena tekanan politik.

Tapi kenyataannya, Ehud Olmert kemarin mengeluarkan instruksi agar IAA mempercepat penggalian di Pintu Al-Maghariba. Dewan Legal Israel, Zeidman, menilai tindakan pemerintah Israel menunjukkan bahwa lembaga yang seharusnya independen seperti IAA sudah dipolitisasi. Tak heran, jika pemasukan IAA meningkat dan penggalian-penggalian yang dilakukannya di Al-Quds, dibiayai oleh asosiasi pemukim-pemukim Yahudi.

Selain memerintahkan percepatan penggalian, kabinet Olmert juga menginstruksikan IAA untuk memindahkan semua “penemuan-penemuan yang dianggap tidak bernilai arkeologi.”
Menurut Haaretz, yang dimaksud penemuan-penemuan yang tidak bernilai arkeologi adalah semua benda-benda terkait dengan sejarah Palestina dan kebanyakan berasal dari masa dinasti Utsmaniyah.

Foto-foto yang diambil oleh aggota Knesset dari kalangan Arab Israel, Abbas Zakur pada Februari membuktikan bahwa Israel menggali dua ruangan salat yang berada di bawah jembatan Al-Maghariba. Dari foto-foto itu juga terlihat ada dinding penghubung ke kedua ruangan itu, yang diduga bagian dari sebuah masjid yang sudah dihancurkan Israel.

Arkeolog dari IAA, Yuval Baruch mengaku menemukan ruangan itu pada tahun 2004 di bawah Pintu Maghariba. Para aktivis menuding IAA tidak bisa dipercaya karena tidak segera mengumumkan penemuan itu. (ln/iol)

20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional (Tamat)

Desember 19, 2007

Dalam tulisan bagian pertama, telah dipaparkan betapa organisasi Boedhi Oetomo (BO) sama sekali tidak pantas dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Karena BO tidak pernah membahas kebangsaan dan nasionalisme, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya ternyata anggota Freemasonry. Ini semua mengecewakan dua pendiri BO sendiri yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya akhirnya hengkang dari BO.

Tiga tahun sebelum BO dibentuk, Haji Samanhudi dan kawan-kawan mendirikan Syarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, SDI) di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905. “Ini merupakan organisasi Islam yang terpanjang dan tertua umurnya dari semua organisasi massa di tanah air Indonesia, ” tulis KH. Firdaus AN.

Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura—juga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura—sifat SI lebih nasionalis. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku seperti: Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku.

Guna mengetahui perbandingan antara kedua organisasi tersebut—SI dan BO—maka di bawah ini dipaparkan perbandingan antara keduanya:

Tujuan:
- SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya,
- BO bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran Dasar BO Pasal 2).

Sifat:
- SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia,
- BO besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura,

Bahasa:
- SI berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia,
- BO berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda

Sikap Terhadap Belanda:
- SI bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda,
- BO bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda,

Sikap Terhadap Agama:
- SI membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya,
- BO bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkna oleh sejarawan Hamid Algadrie dan Dr. Radjiman)

Perjuangan Kemerdekaan:
- SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,
- BO tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,

Korban Perjuangan:
- Anggota SI berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat,
- Anggota BO tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan dibuang ke Digul,

Kerakyatan:
- SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan,
- BO bersifat feodal dan keningratan,

Melawan Arus:
- SI berjuang melawan arus penjajahan,
- BO menurutkan kemauan arus penjajahan,

Kelahiran:
- SI (SDI) lahir 3 tahun sebelum BO yakni 16 Oktober 1905,
- BO baru lahir pada 20 Mei 1908,

Seharusnya 16 Oktober
Hari Kebangkitan Nasional yang sejak tahun 1948 kadung diperingati setiap tanggal 20 Mei sepanjang tahun, seharusnya dihapus dan digantikan dengan tanggal 16 Oktober, hari berdirinya Syarikat Islam. Hari Kebangkitan Nasional Indonesia seharusnya diperingati tiap tanggal 16 Oktober, bukan 20 Mei. Tidak ada alasan apa pun yang masuk akal dan logis untuk menolak hal ini.

Jika kesalahan tersebut masih saja dilakukan, bahkan dilestarikan, maka saya khawatir bahwa jangan-jangan kesalahan tersebut disengaja. Saya juga khawatir, jangan-jangan kesengajaan tersebut dilakukan oleh para pejabat bangsa ini yang sesungguhnya anti Islam dan a-historis.

Jika keledai saja tidak terperosok ke lubang yang sama hingga dua kali, maka sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia seharusnya mulai hari ini juga menghapus tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dan melingkari besar-besar tanggal 16 Oktober dengan spidol merah dengan catatan “Hari Kebangkitan Nasional”. (Tamat/Rizki Ridyasmara) < 1 2 >

20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional (Bag.1)

Desember 19, 2007

Kelahiran organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 sesungguhnya amat tidak patut dan tidak pantas diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena organisasi ini mendukung penjajahan Belanda, sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, a-nasionalis, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya merupakan anggota Freemasonry Belanda (Vritmejselareen).

Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam yang dilakukan oleh para penguasa sekular. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.

Mengapa BO yang terang-terangan antek penjajah Belanda, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, a-nasionalis, tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, dan anti-agama malah dianggap sebagai tonggak kebangkitan bangsa? Ini jelas kesalahan yang teramat nyata.

Anehnya, hal ini sama sekali tidak dikritisi oleh tokoh-tokoh Islam kita. Bahkan secara menyedihkan ada sejumlah tokoh Islam dan para Ustadz selebritis yang ikut-ikutan merayakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei di berbagai event. Mereka ini sebenarnya telah melakukan sesuatu tanpa memahami esensi di balik hal yang dilakukannya. Rasulullah SAW telah mewajibkan umatnya untuk bersikap: “Ilmu qabla amal” (Ilmu sebelum mengamalkan), yang berarti umat Islam wajib mengetahui duduk-perkara sesuatu hal secara benar sebelum mengerjakannya.

Bahkan Sayyid Quthb di dalam karyanya “Tafsir Baru Atas Realitas” (1996) menyatakan orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup adalah sama dengan orang-orang jahiliyah, walau orang itu mungkin seorang ustadz bahkan profesor. Jangan sampai kita “Fa Innahu Minhum” (kita menjadi golongan mereka) terhadap kejahiliyahan.

Agar kita tidak terperosok berkali-kali ke dalam lubang yang sama, sesuatu yang bahkan tidak pernah dilakukan seekor keledai sekali pun, ada baiknya kita memahami siapa sebenarnya Boedhi Oetomo itu.

Pendukung Penjajahan Belanda

Akhir Februari 2003, sebuah amplop besar pagi-pagi telah tergeletak di atas meja kerja penulis. Pengirimnya KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis Syuro Syarikat Islam kelahiran Maninjau tahun 1924. Di dalam amplop coklat itu, tersembul sebuah buku berjudul “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa” karya si pengirim. Di halaman pertama, KH. Firdaus AN menulis: “Hadiah kenang-kenangan untuk Ananda Rizki Ridyasmara dari Penulis, Semoga Bermanfaat!” Di bawah tanda tangan beliau tercantum tanggal 20. 2. 2003.

KH. Firdaus AN telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Namun pertemuan-pertemuan dengan beliau, berbagai diskusi dan obrolan ringan antara penulis dengan beliau, masih terbayang jelas seolah baru kemarin terjadi. Selain topik pengkhianatan the founding-fathers bangsa ini yang berakibat dihilangkannya tujuh buah kata dalam Mukadimmah UUD 1945, topik diskusi lainnya yang sangat konsern beliau bahas adalah tentang Boedhi Oetomo.

“BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya, ” tegas KH. Firdaus AN.

BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Perkumpulan ini dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. BO pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya.

Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekali pun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka, ” papar KH. Firdaus AN.

Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. ” Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.

Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging berkata: “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya… Sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan. ”

Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (M. S) Al-Lisan nomor 24, 1938.

Karena sifatnya yang tunduk pada pemerintahan kolonial Belanda, maka tidak ada satu pun anggota BO yang ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Arah perjuangan BO yang sama sekali tidak berasas kebangsaan, melainkan chauvinisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura saja telah mengecewakan dua tokoh besar BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkang dari BO.

Bukan itu saja, di belakang BO pun terdapat fakta yang mencengangkan. Ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak tahun 1895.

Sekretaris BO (1916), Boediardjo, juga seorang Mason yang mendirikan cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boediardjo. Hal ini dikemukakan dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” (Dr. Th. Stevens), sebuah buku yang dicetak terbatas dan hanya diperuntukan bagi anggota Mason Indonesia.

Dalam tulisan kedua akan dibahas mengenai organisasi kebangsaan pertama di Indonesia, Syarikat Islam, yang telah berdiri tiga tahun sebelum BO, dan perbandinganya dengan BO, sehingga kita dengan akal yang jernih bisa menilai bahwa Hari Kebangkitan Nasional seharusnya mengacu pada kelahiran SI pada tanggal 16 Oktober 1905, sama sekali bukan 20 Mei 1908. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) < 1 2 >