Arsip untuk Januari, 2008

Falluja Ternyata Juga Menderita Seperti Ghaza

Januari 30, 2008

Saat kedukaan umat Islam menyeruak oleh tragedi kemanusiaan di Ghaza akibat isolasi Israel. Muncul berita yang tak kalah memilukan dari Fallujah, Irak, akibat pendudukan Amerika.

“Di sini, 20 orang anak meninggal setiap hari. Tujuh dari mereka setiap hari meninggal di ruangan ini saja, ” begitulah ungkapan seorang dokter Irak di RS Fallujah, di sebelah barat laut Irak tentang kesedihannya dan bencana kematian di kotanya.

Bencana kemanusiaan ini menurutnya akibat serangan udara AS ke wilayahnya sejak Maret 2003 yang melumpuhkan kehidupan masyarakatnya.

Dr. Kamal, dalam keterangannya kepada The Independent, harian Inggris, mengatakan, “Kami dikepung dari atas dan dari bawah. Kami tidak mempunyai obat –obatan, tidak mempunyai oksigen, tidak ada listrik dan tidak ada air…“

Saat wawancara dengan wartawan, Dr. Kamal sempat menghimpun para dokter yang ada dan memberi instruksi untuk mengerahkan semua kemampuan mendampingi para pasien dan menolong mereka. Tapi, “ketiadaan fasilitas medis yang standar menyebabkan banyak anak-anak yang tidak tertolong, ” ujarnya.

Dalam situasi itu, tiba-tiba saja seorang perempuan tua Irak berteriak, “Amerika tidak memberikan apapun untuk kami. Mereka tidak memberi apapun kecuali kehancuran.”

Fallujah memang menjadi salah satu kota dunia yang paling sulit dimasuki orang luar. Meski tidak jauh dari kota Baghdad (sekitar 55 km), tapi ada sedikitnya 27 titik pemeriksaan yang setiap pos diisi oleh tentara bersenjata. Pasukan Amerika menghancurkan Fallujah pada November 2004 silam, saat mereka berdalih memburu para pejuang Irak bersenjata.

Meskipun peperangan sudah sangat mereda dalam dua tahun terakhir ini, tapi sejumlah serangan sporadis masih terjadi di beberapa tempat. (na-str/iol)

Perang Afghanistan dan Irak, Picu Krisis di Kemiliteran Inggris

Januari 30, 2008

Keikusertaan Inggris dalam perang di Irak dan Afghanistan menimbulkan krisis di kemiliteran negara kerajaan itu. Selain kemunduran moral, pengiriman pasukan ke Irak dan Afghanistan juga menyebabkan banyak perwira berpengalaman di Angkatan Darat dan Angkatan Udara Kerajaan Inggris memilih meninggalkan dinas kemiliteran.

Hal ini terungkap dalam laporan parlemen Inggris yang diulas surat kabar The Independent, edisi Senin (28/1). Surat kabar itu bahkan menggunakan kata “eksodus” untuk menggambarkan banyaknya personel militer Inggris yang mundur dari dinas kemiliteran.

Menurut data Kementerian Pertahanan yang dikutip Time Online, sepanjang tahun 2006 ada 4, 3 persen personel dan 5, 8 persen perwira di seluruh angkatan bersenjata Inggris, yang memilih pensiun dini. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, apalagi ada kecenderungan prosentase makin meningkat.

“Kami mengkhawatirkan tanda-tanda pengunduran diri secara sukarela di angkatan bersenjata, khususnya angkatan darat, yang main meningkat. Begitu juga yang terjadi dengan para personel di Angkatan Udara, yang tidak mau memperpanjang tugasnya, ” demikian kesimpulan laporan Komite Pertahanan parlemen Inggris.

Ketua Komite James Arbuthnot mengatakan, “Angkatan darat, laut dan udara tidak bisa melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan karena banyak orang yang memilih pergi, dan ini mengindikasikan penurunan moral yang tajam.”

Dalam laporannya, komite mengkritik angkatan bersenjata Inggris yang tidak mampu melakukan rekrutmen baru, terutama dari kalangan masyarakat minoritas di negeri itu. Disebutkan, “Kami masih sangat kecewa dan khawatir melihat bahwa ketiga angkatan itu tidak bisa mencapai target rekrutmen di kalangan etnis minoritasa di Inggris. Dan yang paling buruk performanya dalam hal ini adalah Angkatan Udara.”

Kementerian Pertahanan Inggris mengakui bahwa mereka gagal mencapai target itu dengan alasan terkait operasi-operasi yang mereka lakukan di kalangan kelompok etnis minoritas dan pertimbangan soal keseimbangan serta masalah rasisme yang sering terjadi di angkatan bersenjata.

Laporan Komite Pertahanan parlemen Inggris juga menilai bahwa performa militer Inggris makin buruk setelah tujuh tahun terlibat perang di Afghanistan dan lima tahun perang di Irak. Untuk diketahui, militer Inggris mengirimkan 7.700 pasukannya ke Afghanistan dan 4.500 pasukan ke Irak. (ln/iol)

Abbas Dapat Dukungan Kontrol Perbatasan, Mesir Mulai Usir Warga Palestina

Januari 30, 2008

Mesir, Eropa dan negara-negara Arab lebih mendukung Presiden Palestina Mahmud Abbas ketimbang Hamas, jika kontrol perbatasan di wilayah Jalur Ghaza diserahkan pada Palestina. Meski di perbatasan Rafah, pasukan Hamas dan pasukan penjaga perbatasan Mesir justru bahu membahu mendirikan kembali pagar-pagar perbatasan yang roboh.

Aparat perbatasan Mesir dan pasukan Hamas yang menggunakan seragam serba hijau, bahkan bekerjasama mengatur lalu lintas di perbatasan Salahudin. Mesir, sepertinya akan menutup kembali perbatasan.

Dalam pertemuan para menteri luar negeri Arab dan para pejabat otoritas Palestina di Kairo, Senin (28/1) menlu negara-negara Arab sepakat menolak jika kontrol perbatasan diserahkan ke Hamas. Menlu Palestina Riad al-Maliki mengatakan, satu-satunya cara untuk membuka kembali perbatasan Rafah adalah kembali ke kesepakaan semula, yaitu menyerahkannya pada otoritas Palestina dengan menempatkan pemantau-pemantau dari Uni Eropa.

“Kami akan mengelola perbatasan itu tanpa mempedulikan Hamas, ” kata al-Maliki.

Perbatasan Rafah yang memisahkan wilayah Palestina dan Mesir dinyatakan ditutup total pada Juni 2007, ketika Hamas mengambilalih wilayah Jalur Ghaza.

Untuk membahas masalah perbatasan ini, hari Rabu lusa, Mahmud Abbas dan Husni Mubarak, presiden Mesir akan melakukan pertemuan terpisah di Kairo. Abbas tetap menolak menyertakan Hamas dalam dialog sebelum Hamas menyerahkan kembali Jalur Ghaza pada otoritas Palestina.

Mesir Usir Warga Palestina

Sementara itu, sejak ditekan AS dan Israel agar Mesir segera menutup perbatasan Rafah, aparat berwenang di Negeri Piramida itu mulai bersikap keras pada warga Palestina yang masuk ke wilayah Mesir melalui perbatasan tersebut. Hari Senin kemarin, sekitar 3.000 warga Palestina yang mencoba masuk ke Kairo dan kota-kota lainnya dipaksa kembali ke Ghaza.

Ribuan warga Palestina itu mencoba masuk ke kota lainnya, karena persediaan barang-barang yang mereka butuhkan di kota-kota dekat perbatasan sudah habis.

“Warga Palestina diminta kembali ke Ghaza setelah melewati kota El-Arish, sekitar 35 kilometer dari perbatasan Rafah, titik terjauh yang diizinkan bagi warga Palestina untuk membeli barang-barang kebutuhannya, ” kata seorang aparat keamanan Mesir.

Aparat keamanan juga memasang blokade di sepanjang Sinai dan jalan-jalan yang menuju pusat kota di Mesir, serta melakukan penyisiran ke hotel-hotel dan apartemen di Kairo dan kota-kota besar lainnya untuk mencari warga Palestina yang dicurigai menyusup dari perbatasan. Mereka juga memerintahkan agar warga Palestina yang tidak memiliki paspor dan visa masuk, tidak diperbolehkan masuk ke Sinai.

Memasuki hari ke enam sejak jebolnya tembok perbatasan Rafah, warga Palestina kini kesulitan untuk mendapatkan barang-barang kebutuhannya yang akan mereka beli di dekat perbatasan. Otoritas Mesir melarang pengiriman suplai barang untuk mengisi toko-toko yang sudah kosong.

“Toko-toko kosong dan mereka (Mesir) tidak mengizinkan kami ke El-Arish. Tak apa, kami akan mencarinya di Rafah, ” keluh Sabag al-Arji yang memiliki 11 anak.

“Heran, tidak ada lagi yang tersisa!” pekik Walid yang datang dari Khan Younis, utara Ghaza. Padahal ia hanya ingin membeli selai dan sabun cuci. (ln/aljz/al-arby)

DK PBB Tunggu Persetujuan AS, untuk Kecam Israel

Januari 29, 2008

Dewan Keamanan PBB belum mampu bersikap independen bahkan bergerak lamban dalam menyikapi krisis di Jalur Ghaza. Ini terlihat dari sikap DK PBB yang masih harus menunggu persetujuan AS hanya untuk mengeluarkan pernyataan agar Israel menghentikan blokade terhadap Jalur Ghaza.

Untuk itu DK PBB akan menggelar pertemuan pada hari ini, Kamis (24/1). Utusan Libya di PBB yang menjadi ketua Dewan Keamanan untuk bulan ini, Giadalla Ettalhi mengisyaratkan bahwa 14 dari 15 negara anggota DK PBB sepakat isi pernyataan yang sudah direvisi oleh para pakar di Dewan Keamanan dan mereka akan bertemu pada pukul 16.00 waktu setempat, menunggu persetujuan AS.

Sejumlah diplomat mengungkapkan, delegasi AS masih melakukan konsultasi dan menunggu instruksi dari Washington sebelum pertemuan nanti. Sementara perwakilan dari negara-negara Arab sudah memberikan peringatan jika AS menghalangi pernyataan yang meminta Israel menghentikan blokadenya di Jalur Ghaza, mereka akan mendorong dikeluarkannya resolusi terhadap Israel ketimbang cuma pernyataan belaka, atau membawa kasus Israel ke Dewan Umum PBB yang beranggotakan 192 negara. Perwakilan negara-negara Arab di PBB yakin mereka akan mendapat dukungan.

Dalam draft yang sudah direvisi itu, DK PBB mengungkapkan “keprihatinan yang dalam atas memburuknya situasi kemanusiaan” di Ghaza akibat blokade Israel. DK PBB menyerukan semua pihak segera mengakhiri tindak kekerasan, termasuk tembakan roket ke wilayah Israel dan semua kegiatan yang bertentangan dengan hukum internasional dan membahayakan warga sipil”, dalam hal ini blokade yang dilakukan Israel. DK PBB juga memberi catatan khusus terhadap keputusan Israel menutup perbatasan-perbatasan Ghaza dan menyerukan Israel untuk secara penuh membuka kembali perbatasan-perbatasan itu.

Dalam draft awal yang diserahkan Libya dan belum direvisi, sama sekali tidak disinggung masalah roket-roket yang ditembakkan ke wilayah Israel. Draft itu hanya berisi desakan agar Israel mengakhiri kepungannya di Ghaza dan memastikan akses masuk bantuan-bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina. Namun atas permintaan AS, pernyataan DK PBB juga harus mencantumkan desakan agar tembakan roket-roket ke wilayah Israel dihentikan. (ln/al-arby)

Setelah Perbatasan Rafah Jebol, Rakyat Mesir Lepas Rindu dengan Rakyat Palestina

Januari 29, 2008

Saat perbatasan Rafah jebol dan puluhan ribu rakyat Palestina menyerbu Mesir untuk membeli kebutuhan pangan utama mereka dari kota Arisy, ratusan orang Mesir malah melakukan ke balikannya. Mereka justru masuk ke wilayah Ghaza untuk berdagang dan melakukan transaksi bisnis di Ghaza.

Ada pakaian, makanan, minuman yang murah yang dijajakan ratusan pedagang Mesir yang masuk ke wilayah Palestina. Para pedagang itu, memang mantan pedagang di Palestina namun mereka tidak bisa masuk ke wilayah Palestina setelah pengepungan ditetapkan Israel atas Ghaza. Selain itu, bagi ratusan warga Mesir itu, inilah kesempatan mereka melepas rindu terhadap sanak keluarga mereka yang selama ini terpisah oleh perbatasan Rafah.

Muhammad Manshur Ahmad, salah seorang guru dari kota Arisy, mengatakan, “Saya membeli pakaian khususnya pakaian dingin, harganya antara 150-200 juneih. Padahal untuk pakaian ini biasanya di Mesir dijual tiga kali lipatnya. Selimut yang biasanya dijual 400 juneih di Mesir, kini dijual antara 150 sampai 170 juneih.”

Jebolnya perbatasan Rafah seperti menyatukan wilayah Palestina dan Mesir. Mereka berbaur, saling bantu dan melepas rindu sebagaimana satu keluarga. Ahmad Sulaiman, salah satu pemuda Mesir mengatakan, “Saya sangat rindu bertemu keponakan saya Mahmud yang tingal di Rafah, Palestina. Saya sudah lebih dari lima tahun tidak melihat wajahnya. Saat perbatasan dibuka, saya segera pergi ke rumahnya, tanpa harus menunggu ditemani keluarga, karena saya takut bila perbatasan ini ditutup lagi dan saya tidak bisa melihatnya.”

Pasukan pengamanan Mesir di Rafah dan Arisy sendiri tampaknya tidak memberi peraturan ketat bagi penduduk Palestina maupun Mesir yang berbaur. Mereka hanya memberi aturan mendasar saja, seperti mengembalikan sejumlah orang Palestina yang ingin masuk ke Ismailiyah melalui kota Qanthara. Mereka semuanya dikembalikan lagi ke Arisy. (na-str/iol)

Israel Khawatir, AS Minta Perbatasan Ghaza-Mesir Ditutup Kembali

Januari 29, 2008

AS dan Israel mengungkapkan ketidaksenangannya melihat pemerintah Mesir membiarkan warga Jalur Ghaza melintasi perbatasan. Israel menyatakan kekhawatirannya bagi kemungkinan masuknya “para penyusup” ke wilayah Israel. Sementara AS menilai Mesir sudah melanggar kebijakan AS dan mendesak negara Piramid itu untuk segera menutup kembali perbatasan.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tom Casey pada para wartawan mengatakan, Duta Besar AS di Kairo, Frank Ricciardone sudah membahas situasi di perbatasan Ghaza-Mesir dengan Presiden Mesir, Husni Mabarak.

“Kami menyampaikan kekhawatiran kami tentang situasi ini. Kami semua ingin memastikan bahwa perbatasan dikontrol dan diamankan sebagaimana mestinya, ” kata Casey. Ia juga mengatakan, AS berharap Mesir mau segera menutup perbatasan dalam beberapa hari ke depan.

Di tempat berbeda, kepolisian Israel menggelar pertemuan yang dipimpin oleh Menteri Keamanan Publik Israel Avi Dichter, terkait situasi terakhir di perbatasan Ghaza-Mesir. Dalam pertemuan itu Dichter menginstruksikan agar langkah pengamanan di selatan Israel diperketat.

“Kami punya alasan untuk meyakini kemungkinan adanya penyusup yang akan masuk ke Israel lewat Sinai. Oleh sebab itu, perlu adanya peningkatan langkah pengamanan untuk merespon kemungkinan masuknya warga Ghaza dalam jumlah besar ke Sinai ” ujar Dichter.

Dalam wawancara dengan BBC Israel, juru bicara kementerian luar negeri Israel, Arye Mekel juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kemungkinan penyelundupan senjata yang dilakukan para pejuang Palestina.

“Hamas dan kelompok-kelompok teroris lainnya akan memanfaatkan situasi ini untuk menyusupkan para teroris dan senjata ke Sinai, dan situasi yang sudah sangat buruk akan makin memburuk, ” ujar Mekel.

Pada Kamis (24/1) Israel mengeluarkan “travel warning” bagi warganya agar menghindari wilayah Sinai, salah satu tujuan wisata favorit warga Israel. (ln/iol/presstv)

Olmert Tak Ingin Krisis Kemanusiaan Ghaza, Tapi Tak Biarkan Penduduk Ghaza Hidup Normal

Januari 29, 2008

Olmert beretorika untuk melanjutkan ambisi penjajahannya atas Palestina. Dalam pidatonya beberapa jam setelah tembok perbatasan Rafah jebol, ia mengatakan bahwa Israel takkan membiarkan krisis kemanusiaan terjadi di Ghaza. Tapi, ia juga takkan pernah membiarkan penduduknya hidup dalam kondisi normal karena rudal para pejuang Palestina terus dilontarkan ke wilayah penjajah Israel. “Kami takkan membiarkan dalam kondisi apapun, terjadinya krisis kemanusiaan di Ghaza, ” ujar Olmert.

Kemudian dalam konferensi pers yang digelarnya di sela-sela Konferensi Tahunan Hertzel, ia mengatakan, ”Kami tidak akan memberikan bahaya dengan menyalurkan makanan pada anak-anak dan obat-obatan bagimereka yang memerlukanya. Juga bahan bakar bagi institusi yang menyelamatkan nyawa orang lain. Tapi tidak mungkin bagi penduduk Ghaza hidup normal sementara rudal rudal dari jalan-jalan Ghaa tetap terlontar ke arah Israel dan jatuh ke wilayah Sadirut dan lainnya di Israel Selatan.”

Pernyataan Olmert itu dikeluarkan menyusul peringatan Menteri Pertahanan Israel Ehud barrack di Paris yang mengatakan bahwa Israel akan melanjutkan belenggu atas Ghaza selama orang Palestina terus menerus melontarkan rudalnya dari Ghaza ke arah Israel. Di sisi lain, Petinggi Departemen Pertahanan Israel mengatakan, “Israel akan memutus semua hubungannya dengan Ghaza setelah perbatasan Rafah terbongkar.”

Menurut Matan Filnay, wakil menteri pertahanan Israel kepada radio Israel, “Kita harus mengetahui bahwa ketika Ghaza terbuka dengan wilayah lain, maka kita telah kehilangan tanggungjawab atas Ghaza. Karena itulah kita akan memisahkan diri dari Ghaza.” Menurut Filnay, Israel yang telah menjajah Ghaza pada perang 1967, telah mulai memulai memutuskan hubungan denga Ghaza ketika akhirnya pasukan Israel diperintahkan untuk ditarik mundur dari Ghaza di tahun 2005. “Arti pemutusan hubungan dengan Ghaza adalah, kami ingin menghentian semua suplai listrik dan menghentikan saluran air dan pemberian obat-obatan ke Ghaza, ” ujarnya. (na-str/iol)

Taufik Ismail: Film -Sinetron ‘Ekspresi Syahwat’ yang Mengubah Perilaku

Januari 29, 2008

Keberadaan film dan sinetron Indonesia yang muncul sejalan dengan proses reformasi merupakan salah satu komponen gerakan syahwat merdeka, sebab akhir-akhir terdapat kecenderungan perubahan budaya prilaku masyarakat yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya. Perubahan perilaku itu ada enam antara lain, perilaku permisif (serba boleh), perilaku Adiktif (serba kecanduan), kemudian sifat brutalistik (serba kekerasan), selanjutnya transgresiv (serba melanggar aturan), hedonistik (mau serba enak, mau foya-foya), serta materialistik (serba benda/uang semua).

“Pembuatan film dan sinetron di televisi yang merupakan ekspersi syahwat yang itu ditonton tidak tanggung-tanggung oleh 170 juta pemirsa, “ujar Budayawan Taufik Ismail dalam sidang pleno pengujian UU No.8 Tahun 1992 tentang perfilman, di Gedung Mahkamah Kostitusi, Jakarta, Kamis(24/1).

Ia menjelaskan, selain film dan sinetron, komponen lain yang dibawa oleh kelompok permisif dan adiktif ini masuk ke dalam tanah air yaitu, perilaku seks bebas, penerbit Majalah dan tabloid mesum bebas tanpa SIUPP menjual wajah dan kulit perempuan muda, 4, 2 juta situs porno dunia dan 100 ribu situs porno Indonesia dengan berbagai imaji seks, VCD porno yang menjadikan Indonesia surga besar dari pornografi yang paling murah didunia, peredaran komik cabul yang sasarannya anak-anak sekolah, produsen dan pengedar narkoba yang mencengkram 3 juta anak-anak muda, pabrik dan pengguna alkohol yang bisa merdeka sampai ke desa-desa, serta produsen nikotin.

“Kenapa alkohol, narkoba, dan nikotin termasuk dalam kontributor arus ini, karena sifat adiktifnya kecenderungan fanatis, itu interaksi dengan seks, “jelasnya.

Ia menilai, perubahan politik yang membawa berkah ini melalui reformasi, akan tetapi disisi lain menimbulkan laknat yang tidak sedikit. “Rasa malu bangsa ini yang sudah terkikis, dengan mereka yang sudah mabuk karena reformasi ini. Apakah bisa berbicara dengan kaidah-kaidah agama atau kaidah moral, tidak lagi, karena akan ditertawakan, “imbuhnya.

Senada dengan itu, Ketua MUI H. Amidhan menyatakan, tanda-tanda mengaburkan suatu kebenaran yang bersumber pada nilai-nilai yang berlaku dalam agama dan masyarakat saat ini sudah terjadi pada beberapa kelompok masyarakat di Indonesia. Bahkan, lanjutnya, kelompok tersebut memandang pemikiran yang benar itu, sebagai sesuatu yang dokmatis, pragmatis, fundamentalis dan sebagainya.

Ia menambahkan, keleluasaan dan kebebasan untuk berekspresi, berimprovisasi dan berkarya sebenarnya tidak ada batasan bagi semua pihak, namun harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Islam pun mengajarkannya. “Lama sebelum diwacanakan tentang universalitas dari HAM itu, dalam Al-Quran itu banyak sekali konteksnya terhadap HAM dan kebebaan berekspresi, misalnya yang sering kita ucapkan kalimat laa ikraha fiddin, atau lakuum dinnukum waaliyadin, “imbuhnya.

Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional Deddy Mizwar mengatakan, masalah industri perfilman tidak hanya terkait dengan sensor saja, namun bagaimana meningkatkan kreativitas untuk memajukan industri perfilman Indonesia.

Ia menilai, meski lembaga sensor film dirasakan belum menjalan tugasnya secara optimal, karena itu perlu melakukan perbaikan untuk kedepannya. “Keberadaan LSF perlu disempurnakan, “ujar Pemeran Utama Ustadz Husein di Sinetron Lorong Waktu ini. (novel)

Polling: 80% Responden Israel Dukung Pembunuhan Intensif Tokoh Pejuang Palestina

Januari 29, 2008

Meqyas Salam, sebuah lembaga survei di Israel, menggelar jajak pendapat sejak awal Januari 2008 ini. Isi polling intinya menanyakan tentang sejauh mana pendapat kalangan Yahudi terkait tekanan militer yang dilancarkan Israel atas Ghaza dan sejauh mana pertentangan mereka terhadap gencatan senjata dengan Palestina.

Hasilnya mencengangkan. Ternyata 80% responden merekomendasikan agar metode pembunuhan terfokus dilakukan secara lebih intensif ke sejumlah tokoh Palestina. Sedangkan lebih dari 60% responden menyebutkan bahwa sebaiknya Zionis Israel tidak perlu menjalin kesepahaman dengan Hamas meskipun dengan misi agar Hamas menghentikan rudalnya. Inilah gambar sebuah kerakusan dan kekejian penjajah Zionis Israel.

Terkait hubungan Israel dengan petinggi Palestina semisal Mahmud Abbas, ternyata sekitar separuh dari responden lebih meminta agar pihak Israel lebih lunak dan fleksibel menghadapinya sehingga bisa menambah kemungkinan dibebaskannya Ghilad Shalit, serdadu Israel yang disandera pejuang Palestina.

Publik Israel melalui polling ini menganggap bahwa tahun 2007 adalah tahunyang paling baik sekali dibanding tahun-tahun sebelumnya yang mereka lewati di Palestina. Mereka optimis bila tahun 2008 ini juga akan lebih baik lagi keadaannya. Sebanyak 44% responden mengatakan kondisi 2007 lebih baik secara nasional. Sebanyak 45% menganggap tahun 2008 kemungkinan akan menjadi buruk. Tapi di sisi lain, ada 78% penjajah Israel yang menganggap bahwa tahun 2008 ini situasi akan lebih baik. (na-str/pic)

Bersabarlah Saudaraku di Gaza…

Januari 23, 2008

Hari-hari seperti ini. Lemparkanlah khayalan kita saat bersama ibu dan bapak. Isteri dan anak-anak. Di sebuah malam di bawah langit yang jernih. Saat kita semua ada dalam satu rumah. Tapi rumah kita itu, sudah tak lagi berpintu, dan tak mempunyai jendela. Tak ada air. Tak ada listrik..

Anak-anak kita menangis karena lapar dan dingin. Isteri kita juga begitu menderita karena sakit namun tak bisa membeli obat. Bukan hanya karena tak ada biaya untuk membelinya, tapi juga karena tak ada obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkannya. Orang tuamu, keduanya sudah renta dan ringkih. Juga tengah dililit lapar. Tubuh mereka sudah lemah dan penyakitnya kian hari terus bertambah.

Bayangkanlah diri kita dalam kondisi seperti ini. Tidak mempunyai uang untuk membeli makanan, dan obat. Lalu, ketika kondisi begitu mendesak kita pun keluar rumah untuk mencari pertolongan bersama anak dan orang tua. Kita berjalan kaki menembus dinginnya malam, menuju rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, engkau melihat pemandangan yang lebih mengiris hati. Karena ada ratusan orang yang sudah lebih dahulu tiba dan menanti pengobatan dari rumah sakit. Anak-anak, kaum perempuan, orang-orang tua. Mereka semuanya menunggu pengobatan. Tapi tak ada obat. Tidak ada sarana pengobatan, karena listrik sudah terputus dan mereka semua berada dalam gelap.

Saudaraku,

Inilah episode kepedihan yang sesungguhnya terjadi. Di Ghaza Palestina, yang telah diisolir secara keji oleh Israel selama lebih dari enam bulan. Inilah sebagian kecil pemandangan duka tentang kondisi masyarakat Muslim Ghaza. Padahal Allah swt befirman, “Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan itu satu sama lain saling bantu membantu. ” Padahal Allah swt berfirman, “Sesungguhnya kaum Mukminin itu saudara… “ Padahal, Rasulullah saw mengingatkan kita, “Perumpamaan kaum Mukmin dalam kasih sayang dan kecintaan antar mereka seperti satu tubuh. Bila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, niscaya akan sakit seluruh tubuhnya dan tidak dapat tidur. ”

Pemandangan duka yang terjadi di Palestina sesungguhnya mendobrak ingatan kita tentang kelalaian selama ini. Musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina adalah kenyataan yang jelas tentang ketidakpedulian kita dengan kondisi saudara sesama Muslim di Palestina. Kita, mungkin ada yang termasuk dalam hadits Rasulullah saw, “tidak pernah memerah wajahnya karena marah” akibat penistaan yang dilakukan musuh-musuh Islam terhadap saudara-saudara Muslim. Kini, jumlah korban sudah mencapai angka ratusan orang. Dan sebagian besar mereka adalah para pasien yang sakit dan anak-anak!!

Saudaraku,

Israel telah kuasai 80% aliran listrik di Ghaza

Israel telah kuasai 100% air di Ghaza

Israel telah menguasai 70% bahan bakar di Ghaza…

Saudaraku, Ikhwanku,

Apa yang terjadi di Ghaza bukanlah isolasi, bukan pengepungan, bukan embargo. Tapi pembunuhan terhadap banyak orang yang lebih memilih hidup dengan harga diri dan kemuliaan. Yang dilakukan Israel adalah pembunuhan massal bagi orang-orang yang memilih Islam sebagai jalan hidup mereka..

Ikhwanku, umat Islam

Lebih dari satu juta orang Muslim hidup di Ghaza. Mereka semuanya menghadapi pembantaian massal itu. Kenapa? Karena mereka ingin Islam menjadi aturan pemerintah mereka. Karena mereka tidak memilih sistem sekuler. Karena mereka ingin hidup mulia dan merdeka bersama Islam. Karena mereka memilih melawan menghadapi para penjajah. Karena mereka mengatakan, “Kami akan memerangi kalian wahai Zionis Israel dengan semua tulang belulang kami. Dengan seluruh janin yang ada di rahim ibu-ibu kami. Dengan seluruh jiwa yang udara ini. Dengan seluruh tetes darah dan semua aliran nafas kami.. “

Saudaraku, Ikhwanku…

Saudara-saudara kita di Ghaza hidup dengan penderitaan yang begitu menyakitkan. Lihatlah bagaimana kondisi masyarakat yang tercekik oleh tingginya harga bahan makanan pokok yang menjadi kebutuhan mereka sehari-hari. Lihatlah bagaimana banyak orang yang usahanya bangkrut. Bayangkanlah bagaiamana masyarakat selalu dihantui rasa takut. Bagaimana masyarakat yang merasakan seluruh hidupnya adalah kepahitan belaka. Upaya mencari nafkah menjadi pahit. Hidupnya menjadi pahit. Keluar rumah melihat kepahitan. Di dalam rumah mendapatkan kepahitan. Tidurnya dalam kepahitan. Bangunnya dalam kepahitan. Melihat kepahitan di mata anak-anak mereka dan orang tua mereka. Hingga kepahitan dalam matanya sendiri.

Saudaraku yang kucinta karena Allah,

Terhentinya 4000 pabrik di Ghaza. Tutupnya 3000 usaha di Ghaza benar-benar membuat kehidupan menjadi lumpuh. Tak ada lagi aktifitas ekonomi di sana. Kecuali hanya pemberian dan tukar menukar barang. Anda memberinya minyak, lalu yang diberi memberikan Anda tepung. Anda memberikan tepung, lalu yang diberi memberikan Anda telur. Begitu dominasi kenyataan hidup mereka.

Air di Ghaza, sudah terkena wabah penyakit. Bagaimanakah kondisi mereka karena air adalah kebutuhan manusia untuk bisa bertahan hidup? Tapi mereka memang benar-benar nyaris tak punya pilihan saudaraku…

Lebih dari 70% keluarga di Ghaza hidup di bawah kemiskinan. Di manakah organisasi HAM? Yang selama ini begitu konsentrasi membantu banyak manusia di Afrika dan aktif berbicara tentang kemiskinan dan kelaparan? Hari ini, kemiskinan, dan kelaparan terjadi di Palestina. Di samping Israel yang mengaku demokratis dan mengklaim di hadapan negara Barat sebagai contoh negara yang demokratis. Di manakah demokrasi, di saat banyak orang memilih pemerintahan Islam?

Ikhwanku…

Lebih dari 65 ribu pemuda Ghaza sudah putus dari bekerja. Tidak ada pabrik dan tempat usaha tempat mereka bekerja. Lebih dari 80% penghasilan kebun menjadi murah karena harga turun drastis. Para petani di Ghaza, bekerja menyirami kebun, memelihara tanaman mereka, dari pagi hingga mentari terbenarm. Lalu, saat mereka panen, dikatakan bahwa hasil panen mereka tidak bisa dijual kecuali hanya 20% saja. Sisanya terbuang begitu saja.

Jalan-jalan diblokade. Jembatan ditutup. Masyarakat hidup dalam kerugian yang terus menerus. Sejumlah pengamat menduga bahwa Ghaza di ambang krisis ekonomi paling parah dan krisis kemanusiaan sekaligus. Karena kekurangan obat, karena kekurangan pangan, karena tingginya bahan makanan, karena mereka dilarang untuk mencari alternatif di luar Ghaza..

Ikhwanku, saudaraku,

Ada lebih dari 450 orang pasien kanker di Ghaza. Lebih dari 400 orang menderita gagal ginjal. Lebih dari 450 orang mengalami sakit jantung. Mereka kini terancam meninggal karena tidak adanya pengobatan yang layak untuk menolong mereka. Terlebih dari itu, mereka tidak boleh keluar dari “kerangkeng” Ghaza. Israel telah melarang lebih dari 300 ribu orang yang meminta untuk keluar Ghaza untuk keperluan pendidikan. Kenapa? Karena mereka khawatir bila kelak orang-orang Palestina itu kembali ke negaranya menjadi tokoh dan pakar yang mampu mengatur permasalahan negaranya. Israel ingin Palestina dipenuhi oleh orang-orang bodoh dan terbelakang. Agar Ghaza hanya menjadi tempat buruh yang siap dipekerjakan dengan menggantungkan diri pada pihak lain, penjajah Israel.

Yaa Allah… Yang Maha Pengasih. Kasihilah penduduk Ghaza.. Kasihilah anak-anak mereka yang masih menyusui. Kasihilah orang-orang tua mereka yang sudah renta. Kasihilah semua pejuang-Mu di Ghaza…

Saudaraku, Ikhwanku yang dikasihi Allah…

Dalam laporan NCRP Amerika yang berbasis di Washington disebutkan bahwa besar bantuan sosial tahun 1998 adalah 175 milyar dolar. Ada 44% dari angka tersebut dialirkan untuk mendukung gereja, proyek penyebaran agama Kristen, dan berbagai lembaga agama lain seperti Yahudi. Lihatlah, jumlah 44% itu hampir sama dengan 70 juta dolar. Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa donatur-donatur besar itu berasal dari orang per orang, lembaga dan institusi. Khusus lembaga dan institusi, disebutkan menyumbang sekitar 27 milyar dollar. Itu laporan di tahun 1998.

Tahukah kita bahwa lebih dari 37600 situs internet adalah milik Institusi Yahudi yang didukung oleh dana bantuan hanya dari Amerika saja? Bayangkanlah apa yang diterima oleh Paus dan gereja Katholik di Roma. Vatikan seperti sudah maklum memiliki pesawat khusus. Kapal pesiar khusus. Bahkan pasukan khusus yang bisa dikatakan sebagai negara dalam negara di Italia.

Sabarlah wahai penduduk Ghaza…

Sabarlah wahai saudaraku di Palestina..

Sungguh meski mereka menentang dan memerangimu dengan segala cara

Meski mereka menghalangi obat, makanan dan air dari kalian

Tapi kalian takkan pernahy terkalahkan

Bersama kalian ada Yang Maha Kuat Yang Tak Mungkin Terkalahkan

Saudaraku, ikhwanku..

Apa yang bisa kita katakan untuk bencana seperti ini???

Saudaramu, Ikwan di Indonesia

“Allahummar zuqna syahadata fi sabiilik”

(M. Lili Nur Aulia)