Arsip untuk Februari, 2008

Puluhan Juta di 90 Negara Padamkan Lampu Untuk Solidaritas Palestina

Februari 25, 2008

Gaza-Infopalestina : Puluhan juta manusia di 90 negara di dunia, ikut ambil bagian dalam aksi damai memperotes blockade Gaza dengan memadamkan cahaya mereka selama beberapa menit pada hari Sabtu (23/2).

Sekitar jam 8 malam menurut waktu bagian Palestina semua peserta aksi memedamkan cahayanya masing-masing selama 5 menit dalam rangka solidaritas Palestina menolak blockade Israel yang telah berlangsung sembilan bulan lebih.

Sebanyak 40 negara lebih telah berkoordinasi dengan Komisi rakyat Anti Blokade Palestina dalam aksinya menentang blockade. Mereka sangat prihatin dengan kondisi Palestina yang sedang terzalimi.

Sementara itu, Ketua Komisi Rakyat Anti Blokade, Jamal Khudari menyambut baik langkah dunia ini. Ia mengatakan, “ini adalah salah satu upaya yang sangat baik. Rakyat Palestina menyambut hangat upaya tersebut sebagai bagian dari perjuangan bangsa Palestina.”

Khudari menyerukan pihak-pihak yang independent dan kalangan Arab maupun Islam untuk terus membantu perjuangan rakyat Palestina hingga tebebas semua blockade militer Israel.

Ia meminta masyarakat internasional segera bergerak menyelamatkan Jalur Gaza dari bencana kemanusiaan. (asy)

Sebuah Film Anti-Zionis Akan Diproduksi Kembali

Februari 25, 2008

Film Yiddish Policemen’s Union yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya penulis Michael Chabon, akan diproduksi kembali. Film yang pernah dibuat pada tahun 2007 dan menuai kritik dan kecaman dari kalangan Yahudi, karena isi ceritanya yang anti-Zionis ini, akan diproduksi dan disutradarai oleh Coen Brothers.

Diperkirakan film anti-Zionis ini juga akan menuai kritik dan kecaman seperti tahun 2007, jika benar-benar dirilis tahun 2009. Saat ini, menurut laporan The Guardian, Coen Brothers sedang melakukan persiapan pembuatan film tersebut yang akan diproduksi sepanjang tahun 2008.

Mereka yang mengkritik Yiddish Policemen’s Union mengatakan bahwa cerita film yang diadaptasi dari novel itu banyak yang hasil rekaan semata dan merupakan karya yang tidak lucu. Namun, tanpa disengaja atau tidak, kisah satire dalam novel tersebut memang menggambarkan Israel sebagai negara yang tidak masuk akal dan menggelikan.

Novel itu berisi cerita tentang sebuah kamp pengungsi sementara yang dibangun untuk menampung warga Yahudi di Alaska, pascaPerang Dunia II. Novel ini juga mengisahkan ceirita bergaya satir, tentang penghancuran Israel dalam perang tahun 1948, setelah bangsa itu gagal memperjuangkan kemerdekaannya. Sebuah kisah yang bertolak belakang dengan fakta yang terjadi sebenarnya bahwa pada saat itu kaum Zionis memenangkan peperangan tahun 1948 dan berhasil mendirikan negara Yahudi, Israel.

Chabon sendiri adalah salah seorang penulis papan atas, di mana karyanya berjudul The Amazing Adventures of Kavalier & Clay, memenangkan penghargaan bergengsi, hadiah Pulitzer. (ln/presstv)

Buya Hamka dan Palestina

Februari 25, 2008

Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah gelar Datuk Indomo yang akrab dengan panggilan Buya Hamka, lahir 16 Februari 1908, di Ranah Minangkabau, desa kampung Molek, Sungai Batang, di tepian danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Buya Hamka yang bergelar Tuanku Syaikh, gelar pusaka yang diberikan ninik mamak dan Majelis Alim-Ulama negeri Sungai Batang – Tanjung Sani, 12 Rabi’ul Akhir 1386 H/ 31 Juli 1966 M, pernah mendapatkan anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar, 1958, Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974, dan gelar Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

Buya Hamka adalah seorang ulama yang memiliki ‘izzah, tegas dalam aqidah dan toleran dalam masalah khilafiyah. Beliau sangat peduli terhadap urusan umat Islam, sehingga tidak mengherankan, di dalam dakwahnya, baik berupa tulisan maupun lisan, ceramah, pidato atau khutbah selalu menekankan tentang ukhuwah Islamiyah, menghindari perpacahan dan mengingatkan umat untuk peduli terhadap urusan kaum muslimin.

Ketika dihembuskan opini tentang cerdas dan pintarnya orang-orang Yahudi Israel, sehingga dapat mengalahkan pasukan Arab dalam perang Arab-Israel. Maka Buya meluruskan pemahaman tersebut melalui tulisan beliau di dalam Tafsir Al-Azhar, Juzu’ 1, halaman 221:

“Sebab yang utama bukan itu, Yang terang ialah karena orang Arab khususnya dan Islam umumnya telah lama meninggalkan senjata batinnya yang jadi sumber dari kekuatannya. Orang – orang yang berperang menangkis serangan Israel atau ingin merebut Palestina sebelum tahun 1967 itu, tidak lagi menyebut-nyebut Islam.

Islam telah mereka tukar dengan Nasionalisme Jahiliyah, atau Sosialisme ilmiah ala Marx. Bagaimana akan menang orang Arab yang sumber kekuatannya ialah imannya, lalu meninggalkan iman itu, malahan barangsiapa yang masih mempertahankan idiologi Islam, dituduh Reaksioner. Nama Nabi Muhammad sebagai pemimpin dan pembangun dari bangsa Arab telah lama ditinggalkan, lalu ditonjolkan Karl Marx, seorang Yahudi.

Jadi untuk melawan Yahudi mereka buangkan pemimpin mereka sendiri, dan mereka kemukakan pemimpin Yahudi. Dalam pada itu kesatuan akidah kaum Muslimin telah dikucar-kacirkan oleh ideologi – ideologi lain, terutama mementingkan bangsa sendiri. Sehingga dengan tidak bertimbang rasa, di Indonesia sendiri, di saat orang Arab sedang bersedih karena kekalahan, Negara Republik Indonesia yang penduduknya 90% pemeluk Islam, tidaklah mengirimkan utusan pemerintah buat mengobati hati negara-negara itu, melainkan mengundang Kaisar Haile Selassie, seorang Kaisar Kristen yang berjuang dengan gigihnya menghapus Islam dari negaranya.

Ahli – ahli Fikir Islam modern telah sampai kepada kesimpulan bahwasanya Palestina dan Tanah Suci Baitul Maqdis, tidaklah akan dapat diambil kembali dari rampasan Yahudi (Zionis) itu, sebelum orang Arab khususnya dan orang–orang Islam seluruh dunia umumnya, mengembalikan pangkalan fikirannya kepada Islam. Sebab, baik Yahudi dengan Zionisnya, atau negara-negara Kapitalis dengan Christianismenya, yang membantu dengan moril dan materil berdirinya Negara Israel itu, keduanya bergabung jadi satu melanjutkan Perang Salib secara modern, bukan untuk menentang Arab karena dia Arab, melainkan menentang Arab karena dia Islam”.

Di Juzu’ VI, halaman 307, Buya juga menjelaskan konspirasi negara-negara Eropa dan Amerika dalam pendirian “ Negara Israel”, “Yaitu mereka jajah Palestina, mereka rampas dari tangan Turki. Lalu diserahkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Lord Boulfour (seorang Yahudi), kepada kaum Zionis, gerakan Yahudi terbesar di zaman ini, supaya mereka membuat negara di sana. Sehabis Perang Dunia Kedua disuruhlah orang Yahudi membentuk Negara Israel di Palestina”.

Buya Hamka berpulang ke Rahmatullah, 24 Juli 1981, telah meninggalkan warisan dan pelajaran yang sangat berharga untuk ditindak lanjuti oleh genarasi Islam, yaitu istiqamah dalam berjuang, menjaga persatuan umat dan peduli terhadap urusan kaum Muslimin.

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”(QS: Al-Hasyr/59: 10). (fn).

H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA (Email: ferryn2006@yahoo.co.id)

Disiksa Intelijen Abbas, Imam Majid di Pinggiran Ramallah Meninggal

Februari 25, 2008

Kobr – Infopalestina: Akibat disiksa dinas intelijen keamanan kepresidenan Abbas, seorang imam masjid desa Kobr, terletak di pinggiran Ramallah, Tepi Barat, Syaikh Majd Abdul Aziz al Bargothi (42) meninggal dunia, Jum’at (22/02) malam.

Kepada koresponden Infoplestina, sumber-sumber di gerakan Hamas menegaskan, informasi yang ada menunjukan bahwa jasad Syaikh Bargothi sampai di rumah sakit bedah di Ramallah, Jum’at (22/02) malam dalam keadaan sudah meningal dunia.

Sumber ini mengatakan, “Syaikh Kobr adalah salah seorang kade Hamas yang telah diculik selama 9 hari sejak sebelum meningganya dari depan masjid Kobr sekelur menunaikan shalat dan di depan para jama’ah.”

Masih menurut sumber ini, Syaikh Bargothi meninggal akibat penyiksaan yang sangat keras. Berdasarkan informasi dari rumah sakit, beliau mengalami pendarahan hebat di otaknya akibat penyiksaan. Sebab sebelumnya Syaikh Bargohti sama sekali tidak menderita sakit apa-apa. Demikian penjelasan keluarga korban kepada gerakan Hamas.

Pada hari Rabu (20/02) Syaikh Bargothi dibawa ke rumah sakit bedah Khaled al Jirahi akibat penyiksaan sangat keras terhadap dirinya. Namun dinas intelijen Abbas menolak agar Syaikh tetap berada di rumah sakit dan akhirnya setelah satu jam di rumah sakit beliau dibawa kembali ke penjara dan kembali mengalami penyiksaan. Sampai sakhirnya diumumkan wafat beliau di dalam penjara dan dibawa ke rumah sakit pada Jum’at (22/02) malam dengan jasad penuh bekas penyiksaan.

Para saksi mata menyebutkan, pengeran suara di masjid-masjid Kobr pada Jum’at malam segera mengumumkan wafatnya Syaikh Bargothi yang disambut dengan kemarahan massal warga Kobr yang sangat menghormati imam masjid mereka yang terkenal dengan keteladanan moral, akhlak dan pergaulan yang baik dengan semua kalangan. Beliau adalah salah seorang tahanan yang dibebaskan dari penjara Zionis Israel setelah mengalami penahanan sebanyak 5 kali selama 9 tahun. (seto)

Brigade An-Nasser Shalahudin Kembali Luncurkan Sepuluh Roket Hantam Sderot

Februari 25, 2008

Walau berbagai pihak, termasuk uusan PBB John Holmes, meminta agar pejuang-pejuang Palestina tidak lagi meluncurkan roket-roket buatan rumahannya itu ke Sderot, wilayah Palestina yang diduduki Zionis-Israel, namun seruan yang tidak pada tempatnya itu sama sekali tidak ditanggapi.

Sayap Militer dari The Popular Resistance Committees, Brigade An-Nasser Shalahuddin, Ahad sore kemarin (24) kembali meluncurkan sekurangnya sepuluh roket ke Sderot, wilayah di utara Gaza yang dipenuhi pemukiman illegal warga Yahudi.

Juru Bicara sayap militer tersebut menyatakan kepada Kantor Berita Maan News Agency (MNA) lewat saluran telephon bahwa serangan tersebut dilakukan bersama-sama dengan sayap militer gerakan perjuangan kemerdekaan Palestina yang lain. “Kami tidak akan pernah menghentikan serangan kami terhadap penjajah negeri ini, Zionis-Israel, sebelum mereka angkat kaki dari tanah kami. Tidak ada satu pun kekuatan di bumi ini yang berhak melarang kami memperjuangkan kemerdekaan bangsa kami.!” Tegasnya. (rizki)

Barhoum : Pihak Abbas Sterilisasikan Partai dan Kelompok Palestina dari Hamas

Februari 25, 2008

Gaza-Infopalestina : Juru Bicara Hamas, Fauzi Barhoum mengklaim pihak kepresidenan Ramallah Mahmud Abbas melakukan pembersihan aktivis politik dan kelompok dari Hamas di Tepi Barat.

Dalam pernyataan kepada Infopalestina Sabtu (23/2) Barhoum menegaskan, apa yang dilakukan dinas keamanan Abbas dan kelompoknya dengan menangkapi dan menyiksa para aktivis Hamas merupakan upaya pembersihan aktivis Hamas dari Tepi Barat. Mereka menangkap, membunuh, hingga menutup lembaga social yang melayani kebutuhan rakyat miskin di Tepi Barat. Akibanya sejumlah rakyat dikabarkan meninggal syahid dan terluka.

Barhoum menyatakan, semua operasi ini dilakukan bersamaan dengan bolak-baliknya para jenderal Amerika ke kawasan untuk bertemu dengan sejumlah pejabat Ramallah. Kunjungan ini jelas dalam rangka realisasi setrategi mereka dalam memberangus gerakan Hamas dan semua pihak yang lebih memilih perlawanan dalam menghadapi Israel, demi melindungi kepentingan Israel, sebagaimana dijanjikan Presiden Mahmud Abbas.

Hamas memandang tindakan Abbas ini sangat berbahaya bagi keamanan Tepi Barat. Disamping sebagai pemerkosaan terhadap pluarisme politik dan kebebasan berpendapat. Tindakan Abbas ini telah menodai semua pihak yang menolak pengakuan terhadap Israel dan lebih percaya kepada perlawanan sebaagai strategi untuk merebut kembali hak-hak legal Palestina.

Sementara itu, Juru Bicara Hamas ini menganggap pembunuhan terhadap pemimpin Hamas di Tepi Barat, Syaikh Barghutsi sebagai bukti niat jahat kepada hak-hak rakyat di Tepi Barat dan Jalur Gaza, bekerja sama dengan pihak Israel yang membantai rakyat Palestina hampir tiap harinya. Semua ini merupakan realisasi dari komisi yang dibentuk dan ditugaskan Mahmud Abbas untuk memberikan kesempatan bagi kelompok kudeta agar dapat menghancurkan konstitusi Palestina dan melanggengkan blockade Israel. (asy)

Uskup Jerusalem Minta Zionis-Israel Akhiri Pengepungan terhadap Gaza

Februari 25, 2008

Jemaat Gereja Kebangkitan di Jerusalem Sabtu kemarin (13/2) menggelar aksi duduk damai di halaman depan gereja tersebut untuk menunjukkan solidaritas dan rasa kesetiakawanan mereka terhadap warga Gaza yang selama berbulan-bulan hidup bagaikan di neraka karena dikepung dan diembargo oleh tentara Zionis-Israel.

Dalam doanya yang dipimpin oleh Uskup Gereja Ortodoks Roma, Attallah Hana, mereka mengharapkan agar warga Gaza diberi ketabahan, kekuatan, dan pengharapan akan kehidupan yang lebih baik. Mereka juga mendoakan agar tentara Zionis-Israel segera mengakhiri aksi terorisme atas warga Gaza yang tidak bersalah.

“Kita duduk di sini, di Jerusalem, untuk menunjukkan kepada Zionis-Israel bahwa kita memihak kemanusiaan, bukan memihak iblis. Kita mendukung penuh warga Gaza yang selama ini terus dikepung oleh penjajah Israel. Kita tunjukkan solidaritas kita terhadap warga Gaza yang berbulan-bulan hidup bagaikan di dalam segala kesempitan akibat penindasan Zionis. Kita serukan agar Israel segera mengakhiri tindakannya yang tidak berperi-kemanusiaan ini!” tegas Uskup Hana.

Uskup Hana di depan jemaatnya juga menyatakan jika bangsa Palestina harus merdeka dari segala bentuk penjajahan. “Gaza merupakan sebuah penjara yang sangat besar. Israel telah menjadikan warga Gaza, saudara-saudara kita sebagai pesakitan. Kondisi ini tentu harus segera diakhiri! Kami menyerukan kepada semua orang di dunia ini yang masih memiliki nurani, masih memiliki rasa kemanusiaan, untuk menengok kondisi saudara-saudara kita di Gaza. Segera tolong mereka dengan apa yang kita miliki!”(rizki/MNA)

Media Massa Yordania Gelar Kampanye “Rasulullah Menyatukan Kita”

Februari 25, 2008

Penghinaan yang dilakukan media massa Barat terhadap Nabi Muhammad mendorong media massa di Yordania untuk bersatu memprotes pemuatan kembali kartun Rasulullah oleh koran-koran Denmark.

Mereka menilai harian-harian Denmark telah melanggar kebebasan berekspresi dan sengaja memanfaatkan medianya sebagai alat untuk mewujudkan rencana-rencana kaum Zionis Kristen.

Media massa Yordania kompak menggelar kampanye bertema “Rasulullah Menyatukan Kami” dan akan meminta dewan legislatif di negeri itu untuk melarang siapa pun melakukan tindakan yang menghinakan Rasulullah dan Islam. “Kampanye ini juga akan menuntut agar segera dibuat undang-undang yang melarang pelecehan terhadap Islam dan Rasulullah, serta menjadikan tindakan itu sebagai tindakan kriminal, ” kata Zakaria Syaikh, editor mingguan Fact International.

Ia melanjutkan, “Kami juga akan menggunakan alat yang sama untuk melawan mereka. Kami akan bersatu dan bertekad untuk melawan kaum Zionis Kristen yang telah melecehkan citra Islam dengan mengatasnamakan kebebasan berekspresi.”

Sekitar 40 media massa di Yordania, termasuk koran dan situs-situs berita sepakat, sejak hari Rabu pekan kemarin, memuat artikel-artikel dan editorial untuk membalas segala upaya yang telah mendiskreditkan Islam. Banyak dari artikel-artikel tersebut yang isinya mendesak agar duta besar Denmark diusir, termasuk seruan agar memboikot produk-produk Denmark.

Jika para pekerja media di Yordania begitu peduli dengan penghinaan yang dilakukan media massa Denmark terhadap Rasulullah, bagaimana dengan para pekerja press di Indonesia? (ln/iol)

Deplu AS Kirim Pesan Khusus ke Seluruh Diplomatnya di Dunia

Februari 14, 2008

Pemerintah AS nampaknya sudah mempersiapkan dengan matang langkah-langkah apa yang akan diambilnya, jika dunia internasional bereaksi keras setelah Negeri Paman Sam itu mengumumkan tuntutan hukuman mati terhadap enam tahanan di kamp penjara Guantanamo.

Untuk itu Departemen Luar Negeri AS mengirimkan pesan kabel dalam bentuk tanya-jawab ke seluruh diplomatnya di seluruh dunia. Pesan tersebut merupakan petunjuk apa yang harus dikatakan para diplomat itu jika menghadapi pertanyaan dari pemerintah negara tempat mereka bertugas, soal pengumuman Pentagon hari Senin (11/2) kemarin tentang tuntutan hukuman mati terhadap enam tahanan di Gitmo dengan tuduhan terorisme.

Pesan kabel sebanyak empat halaman yang dikirim pada Senin malam itu intinya meminta para diplomat AS mengacu pada peristiwa bersejarah Nuremberg-pengadilan terhadap para tokoh Nazi, Jerman-untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pejabat pemerintah dan media di negara tempat mereka bertugas, seputar legalitas tuntutan hukuman mati dalam kasus serangan 11 September itu.

Dengan kata lain, AS menyamakan pengadilan dan tuntutan hukuman mati terhadap enam tahanan Gitmo dengan pengadilan yang digelar terhadap para tokoh-tokoh Nazi yang dituduh telah melakukan kejahatan perang. Dalam Pengadilan Militer Internasional Nuremberg, 12 orang dekat Adolf Hitler dijatuhi hukuman mati. Meski pada akhirnya, tidak semua tersangka menjalani hukuman mati itu.

“Hukum Kemanusiaan Internasional mempertimbangkan penggunaan hukuman mati bagi pelanggara serius terhadap hukum perang. Kejahatan perang paling serius yang dijatuhkan dalam pengadilan Nuremberg adalah eksekusi bagi para pelakunya, ” demikian bagian isi pesan kabel Departemen Luar Negeri AS.

Namun dalam pesan itu, Deplu AS tidak menjelaskan kaitan antara tingkat kejahatan yang dilakukan para tokoh Nazi dengan apa yang diuduhkan AS terhadap para tahanan Gitmo tersebut. Seorang tertuduh utama bernama Khalid Syaikh Muhammad, yang dituding menjadi otak serangan 11 September bahkan mengalami penyiksaan saat interogasi. Taktik penyiksaan ini, bisa saja menjadi pendorong Syaikh Muhammad untuk mengakui perbuatannya yang sebenarnya tidak ia lakukan.

AS sepertinya juga berusaha agar tidak terlalu terlihat sepihak atas tuntutannya itu dengan mengatakan dalam pesan kabelnya bahwa pengadilan tidak akan menerima bukti-bukti yang didapat dengan cara penyiksaan dan keputusan itu diserahkan sepenuhnya pada hakim. (ln/presstv)

Setelah Bubarkan Parlemen, PM Malaysia Minta Pemilu Dipercepat

Februari 14, 2008

Negara Jiran Malaysia akan mempercepat pelaksanaan pemilu setelah Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi membubarkan parlemen, Rabu (13/2).

Badawi mengumumkan pembubaran itu dalam sebuah konferensi pers yang dilakukan dengan terburu-buru, menyusul makin meningkatnya tekanan rakyat Malaysia terhadap pemerintahan Badawi, karena berbagai persoalan mulai dari inflasi, kejahatan dan ketegangan etnis. Terutama kalangan etnis India yang menuding pemerintah sudah menerapkan berbagai kebijakan diskriminatif terhadap mereka.

Aksi-aksi protes yang belakangn marak, direspon dengan keras oleh pemerintah Malaysia yang menganggap aksi-aksi protes itu akan mengganggu keseimbangan kehidupan multi etnis di negeri itu. Aparat keamanan Malaysia pun menggunakan water canon dan gas air mata, untuk membubarkan aksi-aksi protes tersebut.

Dengan dibubarkannya parlemen, pemilu yang menurut jadwal baru akan digelar kembali pertengahan tahun 2009, bersamaan dengan berakhirnya lima tahun masa jabatan Badawi, kemungkinan akan dipercepat. Komisi pemilihan umum Malaysia dalam waktu dekat akan mengumumkan kapan percepatan pemilu akan dilaksanakan.

Percepatan pemilu sekaligus menjadi ujian bagi popularitas PM Abdullah Badawi. Dalam keterangan persnya, Badawi mengatakan bahwa partai berkuasa koalisi Barisan Nasional optimis bisa meraih 2/3 dari 222 kursi parlemen dalam pemilu itu. (ln/aljz)