Arsip untuk Oktober, 2008

Muslim Albania Selamatkan 2000 Yahudi

Oktober 16, 2008

“Orang Islam menyelamatkan orang-orang Yahudi? Bagaimana mungkin?” Pertanyaan itu dilontarkan banyak orang pada Norman Gershman, saat mereka melihat foto-foto dan mendengar cerita Gershman tentang Muslim yang menyelematkan banyak orang Yahudi saat tragedi Holocaust.

Gershman, lima tahun belakangan ini terlibat dalam proyek BESA, proyek untuk memberikan penghormatan terhadap keberanian warga Muslim Albania dan menyelamatkan ribuan orang Yahudi baik yang tinggal di Albania maupun yang menjadi pengungsi pada Perang Dunia II.

“BESA adalah tradisi masyarakat Albania sejak ribuan yang lalu. BESA falsafahnya adalah, ketika ada orang yang mengetuk pintu rumah Anda untuk minta bantuan, maka Anda punya kewajiban untuk menolongnya, tak peduli siapa orang itu, ” jelas Gershman.

Ia memulai proyek BESA berawal dari New York, ketika sedang mencari foto-foto orang-orang non-Yahudi yang telah membantu para Yahudi dari kejaran tentara NAZI pada masa Holocaust. Ia tercengang ketika menemukan nama-nama Muslim di antara nama-nama non-Yahudi itu. Apalagi ketika diberitahu bahwa mereka adalah Muslim Albania.

Rasa ingin tahu membawanya ke museum holocaust Yad Vashem yang dibangun Israel di Yerusalem. Di museum itu, ia lebih banyak lagi menemukan nama-nama Muslim Albania. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya ke pelosok Albania dan Kosovo. “Di sana saya bertemu dengan mereka yang kini sudah berusia 60 tahunan bahkan lebih tua dari itu, yang ketika Holocaust terjadi mereka masih usia anak-anak, dan merekalah yang menyelamatkan Yahudi-Yahudi itu, ” ujar Gershman.

Ia menghabiskan waktu lebih dari empat tahun untuk mengumpulkan foto-foto hitam putih dan kisah-kisah tentang Muslim Albania yang menyelamatkan orang-orang Yahudi dari Holocaust. Gershman kemudian menggelar pameran pertamanya di Yad Vashem bulan November lalu, kemudian pameran di markas besar PBB di New York, sebelum memutuskan untuk pameran ke seluruh dunia.

Selain foto-foto, Gershman juga membuat buku-buku berisi profil Muslim Albania dan Kosovo yang menyelamatkan orang-orang Yahudi dan sedang membuat film dokumentarnya, yang diharapkan sudah bisa dirilis pada tahun 2009. “Saya bahagia dan bangga bisa menunjukkan kisah ini pada dunia, ” tukas Gershman.

Gershman membantah pernyataan yang mengatakan bahwa Muslim Albania telah menyerahkan orang-orang Yahudi pada NAZI, karena yang terjadi adalah sebaliknya. Muslim Albania justeru memberikan perlindungan pada orang-orang Yahudi. Ini terlihat dari jumlah orang-orang Yahudi di Albania yang meningkat lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan sebelum masa Perang Dunia II.

“Albania adalah satu-satunya wilayah pendudukan NAZI yang memberikan perlindungan pada orang-orang Yahudi. Kedatangan orang-orang Yahudi dianggap sebagai tamu, diberi nama Muslim dan tinggal bersama keluarga-keluarga Muslim, ” tutur Gershman.

Dari cerita-cerita yang disampaikan Muslim Albania, Gershman menemukan alasan mengapa warga Muslim Albania menyelamatkan orang-orang Yahudi, yaitu tradisi BESA yang merupakan manifestasi dari ajaran Islam bahwa seorang Muslim harus menepati janjinya dan melindungi yang lemah.

“Saya ingat, sebagian dari mereka bilang ‘tidak ada BESA tanpa Qur’an. Mereka menyelamatkan orang-orang Yahudi atas nama agama yang mereka anut. Mereka sama sekali tidak menyimpan prasangka buruk, ” ungkap Gershman.

Ia melanjutkan, “Saya pernah bertanya pada mereka ‘mengapa Anda melakukan ini semua?’ Apa yang diajarkan Qur’an sehingga Anda melakukan ini?’. Mereka cuma tersenyum dan sebagian mereka menjawab ‘kami menyelamatkan hidup orang lain supaya bisa masuk surga’.”

Islam Tidak Seperti Gambaran Dunia Barat

Gershman meyakini keberanian Muslim Albania dalam melindungi dan menyelamatkan orang-orang Yahudi dari ancaman Holocaust adalah sebuah tindakan yang luar biasa. “Ini merupakan sejarah yang penting, di mana ribuan Yahudi telah diselamatkan oleh Muslim Albania, ” katanya.

Apa yang dilakukan Muslim Albania menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki toleransi keagamaan yang tinggi. Sebuah fakta yang bertolak belakang dengan maraknya stereotipe terhadap umat Islam yang dilakukan Barat.

Terkait hal ini, Gershman menyampaikan pesan pada dunia Barat bahwa banyak sekali orang-orang yang berhati mulia di dunia ini, dan banyak di antara mereka adalah Muslim. “Kalau Anda melihat foto-foto dan membaca kisah-kisahnya, tidak diragukan lagi bahwa mereka (Muslim Albania) adalah orang-orang yang berhati mulia, ” imbuh Gershman.

“Jika ada yang melihat foto-foto saya, khususnya di negara-negara Barat dan mengatakan bahwa mereka adalah militan dan pendukung kekerasan, saya menolak pernyataan itu, ” tegas Gershman, seorang Yahudi Amerika yang kini sedang belajar sufisme.

“Islam tidak seperti yang ada dalam pikiran orang-orang Barat. Buat saya, Islam adalah puisi, ilmu pengetahuan, agama yang sempurna. Islam ada keindahan, ” tandas Gershman. (ln/iol)

Atlet-Atlet Berjilbab, Bersinar di Olimpiade Bejing

Oktober 16, 2008

Banyak atlet berjilbab yang ikut serta dalam olimpiade tahun ini, yang berlangsung di Beizing, China. Keberadaan mereka bukan hanya mengikis stereotipe negara-negara Barat terhadap Muslimah berjilbab tapi juga membuktikan bahwa jilbab bukan halangan untuk mencetak prestasi dalam kehidupan dan olahraga.

Salah seorang atlet berjilbab adalah atlet lari sprint asal Bahrain, Ruqaya al-Ghasara. Sebagai seorang atlet dan muslimah berjilbab, ia telah membuat sejarah dengan meraih medali emas dalam ajang pesta olahraga Asia Barat pada tahun 2006. Ditanya soal jilbabnya, Ruqaya menjawab, “Jilbab tidak pernah jadi masalah buat saya.”

Dunia akan melihat muslimah-muslimah berjilbab yang ikut serta dalam aneka kompetisi olahraga dalam Olimpiade Beizing yang dibuka pada 8 Agustus kemarin. Selain Ruqaya, ada enam atlet perempuan Mesir yang mengenakan jilbab, tiga atlet asal Iran, satu atlet asal Afghanistan dan Yaman. Mereka adalah atlet-atlet yang akan bertanding di cabang olahraga lari sprint, mendayung, taekwondo dan panahan.

Atlet anggar asal Mesir Shaimaan El-Gammal, mengenakan jilbab untuk pertamakalinya saat bertanding di Olimpiade Beizing. Ia mengatakan sangat bangga menjadi seorang Muslimah ketika tampil bertanding anggar. “Jilbab adalah sesuatu yang sangat simbolis di negara saya, ” kata El Gammal yang masih berusia 28 tahun.

Menurut El Gammal, jilbab memberikan kekuatan dalam dirinya. “Banyak orang melihat kami yang mengenakan jilbab dan berpikir kami sedang naik unta. Padahal seorang Muslimah biasa melakukan apa saja yang mereka inginkan, ” tukasnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Ruqaya. Ia mengatakan, kaum perempuan di kampung halamannya di Bahrain sangat bangga dengan prestasinya hingga bisa mewakili negaranya di ajang olimpiade. Sebagian dari mereka, bahkan membantu Ruqaya mendesain dan menjahitkan jilbab yang sudah dipikirkan masalah aerodinamisnya agar Ruqaya bisa tampil maksimal saat bertanding.

“Di Bahrain, tempat saya dibesarkan, kaum perempuan banyak yang menjadi duta besar, dokter bahkan pilot. Buat saya, jilbab adalah pembebasan, ” ujar Ruqaya yang selalu mengenakan jilbab warga merah putih, warna khas bendera negaranya. (ln/iol)

Uskup Libanon Kritik Kitab Perjanjian Lama

Oktober 16, 2008

Seorang wali gereja dari Keuskupan Sarba, Libanon mengkritik mereka, termasuk uskup-uskup di Vatican yang menggunakan Kitab Perjanjian Lama sebagai alasan untuk membenar aneksasi wilayah Palestina dan menampikkan hak-hak bangsa Palestina.

“Bagi orang-orang Yahudi pada umumnya dan khususnya bagi para kaum fundamentalis agama Kristen dan Yahudi, beranggapan bahwa tanah yang disebut-sebut dalam Kitab Perjanjian Lama adalah tanah yang berada di wilayah Israel sekarang,” kata Guy-Paul Noujaim dalam pernyataannya yang dikirimkan ke media-media massa Libanon.

“Banyak orang yang masih fanatik dengan keyakinan itu, bahkan sampai hari ini. Sehingga mereka mengatakan bahwa rakyat Palestina tidak punya hak untuk memiliki wilayah Palestina,” sambung Noujaim.

Ia mengatakan menyarankan penafsiran agama Katolik tentang ayat-ayat di Kitab Perjanjian Lama tentang “tanah yang dijanjikan Tuhan” harus segera diperbaiki agar umat Kristiani yang selama ini meyakini bahwa tanah Palestina adalah tanah yang dijanjikan itu, bisa menerima ajaran alkitab dan kebenaran yang sesungguhnya sehingga ayat-ayat itu tidak lagi dijadikan pembenaran untuk menindas bangsa dan merampas tanah Palestina. (ln/mol)

Belajar dari “Cerita Anak” di Bulan Ramadhan

Oktober 9, 2008

Jangan dikira mudah menjadi anak Muslim yang sedang belajar menjalankan Ad-Dienullah di lingkungan yang mayoritas bukan Muslim. Nesha, salah satu pembicara di acara Kinder Erzählen ini misalnya, menceritakan pengalaman puasa pertamanya di Jerman. Wali kelasnya pernah menelepon orangtuanya karena pihak sekolah menganggap puasa menjadi penghalang aktivitasnya di sekolah.

Belajar dari anak-anak? Kenapa tidak? Mungkin ini salah satu prinsip belajar yang tidak boleh dilupakan, agar kita bisa mengambil hikmah dari siapapun dan kapanpun, termasuk dari pengalaman anak-anak.

Berawal dari keprihatinan akan kurangnya sentuhan khas Ramadhan di rumah-rumah keluarga muslim Indonesia yang hidup di luar negeri, terutama di Jerman, Divisi Kewanitaan Pusat Informasi dan Pelayanan Partai Keadilan Sejahtera di Jerman (PIP PKS Jerman) merancang sebuah acara untuk anak-anak di bulan Ramadhan. Acara ini diberi nama Kinder Erzählen, yang artinya kurang lebih ‚Anak-Anak Bercerita’. Uniknya acara ini dibuat live online melalui radio internet Suara Keadilan (http://keadilan-jepang.org/listen.pls), agar dapat menjangkau seluruh masyarakat muslim Indonesia yang tersebar di seluruh Jerman, bahkan juga di negara lain, dan supaya bisa mengatasi kendala waktu dan jarak yang tidak memungkinkan pertemuan fisik yang intens.

Di acara ini beberapa anak bergantian menceritakan pengalaman mereka menjalankan Islam di Jerman. Target pendengarnya anak-anak juga. Tujuannya agar anak-anak Muslim Indonesia yang hidup bersama orangtuanya di Jerman tidak merasa ’sendirian’ menjalani Islam, meskipun mereka hidup sebagai minoritas, dan mungkin menjadi satu-satunya anak Muslim di sekolahnya. Juga dengan acara ini, anak-anak ini diharapkan jadi lebih terpapar pada kehidupan dan kebiasaan Muslim di bulan Ramadhan, yang hampir tidak tercermin dalam kondisi masyarakat Jerman secara umum.

Kisah mereka tentu saja unik, karena diceritakan dari perspektif anak-anak dan dengan bahasa anak-anak. Tema-tema yang diangkat dalam acara yang diadakan setiap hari Sabtu dan Ahad pukul 11-12 siang waktu Jerman (pukul 16-17 WIB) juga beragam dan disesuaikan dengan usia pendengarnya. Tema yang diangkat misalnya pengalaman puasa pertama, pengalaman shalat tarawih di masjid, belajar di Qur’an Schule (seperti TPA di Indonesia), menghafal Juz ’Amma, dan memilih makanan halal. Tema-tema ini sepertinya mungkin sepele, apalagi di telinga orang dewasa yang sudah terbiasa melakukannya. Tapi mendengarnya dari anak-anak, ternyata memberikan kesan tersendiri.

Ada Ja’far yang menceritakan pengalamannya shalat tarawih di berbagai kota di Jerman, karena ia mengikuti orangtuanya yang beberapa kali pernah berpindah tempat tinggal. Lalu ada juga Maryam dan Steffen, yang menceritakan bagaimana pengalaman mereka belajar Al Qur’an. Maryam bercerita tentang guru-gurunya yang ramah, suka memberi hadiah, mengajak bermain dan jalan-jalan, serta teman-teman multinasionalnya di Qur’an Schule. Sementara Steffen, yang terlahir dari ayah muallaf asli Jerman dan ibu asal Medan, menceritakan pengalamannya menghafal Juz ’Amma.

Jangan dikira mudah menjadi anak Muslim yang sedang belajar menjalankan Ad-Dienullah di lingkungan yang mayoritas bukan Muslim. Nesha, salah satu pembicara di acara Kinder Erzählen ini misalnya, menceritakan pengalaman puasa pertamanya di Jerman. Gadis kecil kelas dua Grundschule (sekolah dasar) ini menceritakan bagaimana wali kelasnya pernah menelepon orangtuanya karena pihak sekolah menganggap puasa menjadi penghalang aktivitasnya di sekolah. Dengan dukungan semangat dari orangtuanya yang juga berusaha menjelaskan pada pihak sekolah, Nesha tetap bertahan puasa sehari penuh sampai sekarang.

Ada lagi kisah Fadhilla, anak perempuan berusia sepuluh tahun yang sejak belum genap berusia tujuh tahun telah mengenakan jilbabnya ke sekolah. Fadhilla yang menjadi satu-satunya murid berjilbab di kelasnya menceritakan bagaimana dia pernah tidak dibolehkan mengikuti Bundesjugendspiele (penilaian keterampilan berolah raga yang diadakan serempak di sekolah dasar dan menengah di seluruh Jerman) karena jilbabnya. Guru olahraganya melarang dengan alasan berbahaya jika jilbabnya tertarik atau tersangkut dari belakang dan bisa membuatnya tercekik dan tidak bisa bernafas. Lagi-lagi lobi orangtualah yang menyelamatkan. Fadhilla akhirnya dibolehkan ikut acara tersebut dengan tetap berjilbab. Dia bahkan bukan saja membuktikan kalau jilbabnya sama sekali tidak membahayakan dirinya saat olahraga, tapi juga menjadi salah satu yang mendapatkan hasil terbaik dan mendapat sertifikat yang ditandatangani sendiri oleh Presiden Jerman Horst Köhler.

Cerita Afra lain lagi. Afra menceritakan pengalamannya memilih makanan halal. Memang tidak seperti di Indonesia, bagi mereka yang tinggal di luar negeri memilih makanan halal membutuhkan kecermatan tersendiri dan menjadi sejenis ’life-skill’ yang perlu ditularkan pada anak. Afra menceritakan bagaimana orangtuanya mewanti-wanti agar ia hanya makan makanan vegetarian dan ikan jika berada di sekolah dan juga bila memenuhi undangan teman-temannya, misalnya pada pesta ulang tahun.

Kebanyakan pembicara menyampaikan kisahnya dalam bahasa Jerman, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mendengar anak-anak ini berbahasa Indonesia pun rasanya seperti mendengar bahasa Indonesia ’kumpeni’ di film-film perjuangan kemerdekaan Indonesia. Maklumlah, kebanyakan mereka memang belajar membaca dan menulis pertama kali dalam bahasa Jerman dan hanya menggunakan bahasa Indonesia di rumah dengan orangtuanya.

Para pendengar acara ini juga bisa bertanya atau memberi komentar dalam sesi tanya jawab melalui Yahoo Messenger Conference. Cukup menarik menyimak tanya jawab mereka, karena tidak jarang anak-anak ini memiliki pengalaman yang mirip sebab sama-sama hidup di lingkungan non-muslim, sehingga acara tanya jawab ini juga bisa menjadi  sarana bertukar pengalaman.

Meskipun awalnya ditujukan sebagai acara anak, ternyata ada juga pendengar acara Kinder Erzählen  ini yang orang dewasa. Para pendengar dewasa ini terdiri dari para orangtua yang mendampingi anak-anaknya mendengarkan dan juga orang dewasa yang kebetulan tertarik dengan cerita si anak, karena ternyata orang dewasa pun bisa belajar dari pengalaman anak-anak ini, misalnya dari pengalaman Steffen menghafal Juz ’Amma. Beberapa pendengar dewasa juga mengajukan pertanyaan bukan pada anak yang menjadi pembicara tapi kepada orangtua si pembicara yang juga mendampingi anaknya mengisi acara. Pertanyaan pada orangtua pembicara biasanya berkaitan dengan cara mendidik anak dan mengenalkan Islam pada anak.

Jadi, belajar dari pengalaman anak-anak, kenapa tidak? Bukankah hikmah itu milik orang Muslim? Di manapun ia menemukannya, maka ia berhak untuk mengambilnya. (Kiriman: Titut Pratomo)

Konflik Georgia, Perang Dibalik Layar Israel dengan Rusia

Oktober 9, 2008

Usamah Abdur Rahim

Tidak jujur bila menyebut Presiden Georgia, Mikhail Saakashvilis sebagai sosok bodoh. Sebab lelaki ini sejak awal mabuk ingin menyerang Ossetia Selatan, salah satu benteng kuat yang diwarisi oleh Rusia dari Uni Soviet, dalam orasinya terakhir ia meminta agar Presiden Rusia, Dmitry Medvedev menghentikan perangnyaa dan memberikan keamanan dan kasih sayang kepada rakyatnya.

Saakashvilis yang duduk bersama Menteri Pertahanan dari Yahudi David Kezerashvili sangat jelas sejak awal berambisi ingin mengaitkan keamanan nasionalnya dengan Tel Aviv. Caranya, dengan menghabisi sisa-sisa taring Rusia. Rusia sendiri sudah lama memendam amarah karena dihalangi oleh tembok kokoh rasial yang dibangun oleh Amerika Serikat sehingga sangat sulit bagi elit Rusia melihat peta dunia di sekitarnya kecuali dengan cara melompat tembok yang sangat tajam tersebut.

Lebih dari itu, Menteri Negara untuk Perundingan di Georgia Temor Yaqobasivili berasal dari Yahudi. Ini menunjukkan bahwa Israel ingin mengulurkan tangan dan menggenggam kepala negara Georgia dan dijadikannya bekerjasama dengan Washington. Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dijadikan sebagai kelinci percobaan untuk menguji ‘beruang’ yang sedang dihadapkan kasus Balqan dan ingin naik lagi dalam ‘ring tinju’ setelah minggir karena mendapatkan pukulan-pukulan telak meski tidak patah tulang.

Ini yang membuat Saakashvilis mengomentari dengan dongkol soal Yahudi yang lari dari peperangan dan datang ke Palestina yang dijajah Israel, “Kami memiliki menteri Yahudi di pemerintahan kami. Yang satu menangani masalah peperangan dan yang lain menangani perundingan. Ini adalah partisipasi Israel,” Ia menambahkan dengan putus asa, “Di sini perang dan perdamaian, keduanya dengan tangan-tangan Yahudi dan Israel,”

Para pakar Israel sudah memanasi Georgia dengan membekali pesawat tanpa awak, senapan jenis Tafur, perbekalan militer berbasis teknologi perang canggih, pesawat tempur pengganggu sinyala system pertahahan. Israel juga melatih pasukan Georgia dan menguasai seluk beluk negara yang keluar dari tali temali Uni Soviet dan menjadikannya pahlawan yang diperhitungkan oleh beruang merah yang siap terjang.

Beberapa bulan lalu, sudah disepakati kerjasama militer antara Georgia dan Israel ketika pesawat tempur Rusia menjatuhkan sebuah pesawat tanpa awak milik Georgia buatan Israel.

Ketika elit militer dan politik di Rusia memutuskan untuk menempuh sejumlah langkah dendam tehadap Israel. Langkah pertama, Moskow membekali militer Suriah dengan rudal darat jenis Iskandar yang memiliki jarak jelajah 200 kilometer dengan kemampuan membawa pucuk nuklir.

Reaksi Israel tidak lama. Negara zionis ini memutuskan bahwa jika Rusia membekali persenjataan kepada militer Suriah dengan rudal Iskandar maka mereka akan menyerang rudal Rusia jika sudah disebarkan di Suriah.

Di tengah perang tersembunyi dari Israel ini, Rusia kali ini menghunus masalah yang sangat keras. Rusia menegaskan bahwa pasukannya akan membangun pangkalan militer darat di Suriah sebagai langkah langsung menyembelih leher Amerika Serikat karena dianggap ambisi memasang satelit pemantau di sejumlah negara bagian Uni Saoviet dan mencekik Moskow.

Komandan Besar di pasukan udara Israel mengakui kemampuan Hizbullah yang loyal kepada Iran dan didukung Suriah yang berkoalisi dengan Rusia untuk menyerang pesawat-pesawat Israel yang menyerang wilayah udara Libanon. Komandan ini juga menegaskan kegelisahannya atas Hizbullah jika menggunakan rudal anti pesawat produksi Rusia yang sudah dikembangkan di Libanon.

Pejabat-pejabat dan komandan di militer Israel belakangan melakaukan pembicaraan soal sekenario-sekenario tersebut. sebagian yang ikut menyebut pangkalan darat anti roket sebagai “garis merah” dan Israel harus membalasnya dengan kuat.

Sekilas kembali ke belakang, tepatnya di musim semi 2005. PM Ariel Sharon dengan keras mengkritik Vlandemir Puttin, Presiden Rusia saat itu dan meminta kepadanya untuk mengkaji kembali kerjasama antara Damaskus dengan Moskow.

Berdasarkan informasi yang diterima Israel, Rusia ingin menjual roket-roket bersirip depan jenis SA-18 kepada Suriah. Perjanjian ini mencakup rudal balastik yang mampu menyerang setiap titik di Israel.

Ketakutan Israel terfokus kepada kemungkinan roket-roket sampai kepada Hizbullah Syiah di Libanon yang merupakan anak kesayangan Iran dan sekutu Suriah. Sehingga Sharon mengingatkan Puttin dengan janjinya tidak akan menjual roket kepada Suriah. Yakni jenis roket bersirip yang mampua menjatuhkan pesawat tempur Tel Aviv. Di tengah kunjungan Sharon terakhir ke Rusia, Puttin berjanji dua kali tidak menjual rudal SA-18 kepada negara musuh, mengisyaratkan Suriah.

Sharon berteriak sebelum ia hilang kesadaran selemanya bahwa Puttin melanggar janjinya yang lalu. Sharon mengingatkan bahwa jika rudal Rusia sampai di kawasan Timteng maka akan mengancam keamanana Israel.

Hal ini didukung dengan pemberitaan media beberapa hari lalu mengutip dubes Rusia di NATO, Dmitry Rogozin soal kesepakatan Polandia Amerika soal penyebaran satelit luar angkasa di Polandia dimana ia menegaskan bahwa kesepakatan ini mengalihkana dari tujuan utama karena harus berhadapan langsung dengan Rusia.

Sudah menjadi aksioma jika dikatakan bahwa Georgia masuk dalam kancah peperangan mewakili Amerika, NATO dan Israel. Georgia hanya meniup balon dan menerbangkannya untuk menunggu reaksi Moskow sebelum Georgia dan Koalisi Eropa Timur ikut bergabung dan menyempurnakan tembok satelit ruang angkasa Amerika.

Akhirnya, Rusia menilai semua negara-negara yang pernah menjadi negara bagian Uni Soviet masih menjadi miliknya. Pembelotan terhadap saudara besarnya adalah terlarang. Bergabung dengan NATO adalah larangana keras. Berpihak kepada Amerika adalah kesalahan tak terampuni. (bn-bsyr)