Arsip untuk Mei, 2009

Ismail Haniya Dukung Pembangunan RS Indonesia

Mei 31, 2009

Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniya, secara resmi menyatakan  dukungannya pada program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza.  Hal  ini dinyatakannya melalui surat tertulis yang ditujukan kepada Ketua  Tim 2 MER-C untuk Palestina, dr. Arief Rachman, tanggal 3 Mei 2009.  Surat dukungan dan ucapan terima kasih tertulis juga diberikan PM  Ismail Haniya pada Menteri Kesehatan RI, Ibu DR. dr. Siti Fadilah  Supari, Sp.JP (K). Kedua surat ini dibawa oleh 2 relawan MER-C yang  telah kembali ke tanah air pada hari Jum’at (8/5) lalu. Selain  membawa  surat persetujuan dari PM, Tim juga membawa surat dukungan dari  Menteri  Kesehatan (Acting Minister) di Gaza Palestina, dr. Bassim Naim.

Dalam suratnya, Ismail Haniya pimpinan tertinggi di Gaza atas nama  pemerintah dan rakyat Palestina mengucapkan terima kasih dan  penghargaan yang sebesar-besarnya atas dukungan yang telah diberikan  rakyat Indonesia melalui MER-C Indonesia untuk rakyat Palestina dalam menghadapi penjajah Israel. Lebih lanjut PM Ismail Haniya juga menerangkan bahwa pemerintah Palestina telah menyediakan sebidang tanah seluas 1,5 hektar di Utara Gaza untuk mendirikan RS sebagai monumen bersejarah yang menjadi tanda hubungan mulia antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina.

Berikut terjemahan resmi dari surat PM Ismail Haniya:

Terjemahan Surat Ismail Haniya:

Bismillahirrohmanirrohim

Ahad, 03 Mei 2009

Kepada Yang Terhormat,dr. Arief Rachman (Semoga senantiasa dalam penjagaan dan perlindungan Allah SWT) MER-C Indonesia

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hal : Ucapan Terima  Kasih

Atas nama saya pribadi, dan juga atas nama pemerintah Palestina dan  rakyat kami bangsa Palestina. Saya mengucapkan rasa syukur dan penghargaan yang sebesar-besarnya atas dukungan MER-C Indonesia dalam perjuangan rakyat Palestina menghadapi penjajah Israel.

Dan kami perlu terangkan bahwa kami telah menyediakan sebidang tanah luas 1,5 hektar di Utara Gaza untuk mendirikan Rumah Sakit sebagai Monumen bersejarah yang menjadi tanda hubungan mulia antara rakyat Palestina dan rakyat Indonesia.

Saya ucapkan semoga senantiasa dalam bimbingan Allah Subhanallahuwata’alla

Saudaramu,
Ismail Haniya
Perdana Menteri Palestina

Hal yang senada juga disampaikan oleh Menteri Kesehatan, dr. Bassim Naim yang diwakili oleh dr. Mehdat Abbas selaku Dirjen Kerjasama Internasional Kementrian Kesehatan Palestina di Gaza. Melalui surat tertulis yang juga ditujukan kepada dr. Arief Rachman menyatakan bahwa Kementrian Kesehatan Palestina di Gaza juga menyambut baik dan siap bekerjasama dengan MER-C Indonesia untuk membangun RS Trauma dan Rehabilitasi di Gaza Utara dan mereka sudah mempersiapkan tanah untuk
membangun RS ini.

Lokasi tanah untuk RS tepatnya berada di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Total luas tanah pemerintah sebenarnya adalah 4 hektar. MER-C sendiri hanya menyanggupi untuk menerima hibah seluas 1,5 hektar. Tanah seluas ini cukup untuk membangun sebuah RS Trauma dan Rehabilitasi yang sangat dibutuhkan wilayah Gaza yang merupakan wilayah konflik dan perang jangka panjang. Saat ini, Divisi Konstruksi MER-C sedang merampungkan disain RS yang sudah mencapai 90%. Disain lengkap akan dirampungkan di Indonesia untuk kemudian dibawa oleh Tim ke-3 MER-C yang terdiri dari para insinyur ke Gaza untuk meneruskan proses selanjutnya dari rencana pembangunan RS. Sementara, Pemerintah Palestina di Gaza sendiri rencananya akan membuat sebuah kompleks RS di atas tanah seluas 4 hektar ini.

Waktu selama 3 bulan bertahan di Gaza yang ditempuh oleh dr. Arief Rachman dan Abdillah Onim adalah sebuah ujian kesabaran yang pada akhirnya membuahkan hasil yang signifikan bagi kelanjutan program monumental ini. Setelah adanya kepastian lokasi tanah untuk RS dan didapatnya dokumen-dokumen penting terkait rencana pembangunan RS dari pihak-pihak yang bertanggung jawab di Gaza, akhirnya dr. Arief Rachman dan Abdillah keluar dari Gaza pada hari Selasa (5/5). Proses kedua relawan MER-C keluar dari Gaza juga cukup mudah karena difasilitasi oleh Kantor Ministry of Health.

Sementara itu, Tim ke-3 yang terdiri dari para insinyur tengah menunggu kepastian keberangkatan ke Mesir. Izin visa Tim saat ini
masih dalam proses di Kedutaan Besar Mesir di Jakarta.(mer-c)

Turki Memperingati Penaklukkan Konstantinopel

Mei 31, 2009

Jumat (29/5) kemarin, Warga Turki merayakan hari penaklukkan Istanbul-Konstantinopel yang ke-556 dengan menggelar serangkaian acara di sekitar kota bersejarah tersebut. Demikian dilansir oleh media Turki, Dunya Bulteni.

Sultan Utsmani, Muhammad al-Fatih, berhasil mengambil alih kota tua Konstantinopel dari kekaisaran Bizantium pada tahun 1454, dalam umurnya yang baru menginjak 19 tahun. Kota tersebut kemudian dialihnamakan menjadi Istanbul (dari Islampolis atau Islambul).

Istanbul merayakan penaklukkan tersebut dengan pertunjukan cahaya. Sebuah film tentang penaklukkan Konstantinopel pun diputar dengan menggunakan sistem ‘watchout’ dan layar sebesar 15×60 meter.

Penaklukkan Puitis

Salah seorang profesor terkemuka di bidang sastra Turki, Iskender Pala, mengatakan bahwa Sultan Muhammad al-Fatih sangat tahu bahwa ia tidak akan mampu menaklukkan Istanbul-Konstantinopel hanya dengan modal kekuatan. Maka al-Fatih pun memprioritaskan pembangunan peradaban di kawasan tersebut.

Pala menekankan bahwa “al-Fatih menjelajahi Barat dengan pedang, sedangkan menjelajahi Timur dengan pena.”

“Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia Timur telah mencapai kejayaan ilmu pengetahuan ketika Barat masih berada dalam masa kegelapan.”

Muhammad Al-Fatih
Muhammad Al-Fatih
Pala juga menjelaskan bagaimana keunggulan Fatih sebagai seorang negarawan sekaligus pemikir. Hal tersebut didsarkan kepada intelektualitas yang akhirnya menjalar di Istanbul setelah penaklukkan oleh al-Fatih. Ketika itu, al-Fatih menyuarakan syairnya, “wahai para pemikir, datanglah ke kotaku! Aku telah membangun ruang-ruang penelitian untukmu! Wahai para seniman, datanglah ke kotaku! Aku telah membangun bengkel-bengkel seni untukmu!”

Merujuk pada intelgensia al-Fatih dalam bersyair, Pala pun mengatakan bahwa al-Fatih membangun batas-batas kota bukan dengan batu, melainkan dengan kebudayaan.

Profesor sejarah yang tersohor di Turki, Ilber Ortayli mengatakan bahwa al-Fatih menguasai bahasa Italia dan Yunani, serta menulis syair dalam bahasa Arab, Persia, dan Turki.

Ortayli menyatakan bahwa setelah penaklukkan, al-Fatih mulai membangun kembali setiap sudut-sudur kota Istanbul yang hancur. Ia membangun pasar, masjid, istana dan memeintahkan para pasha (kalangan bangsawan) untuk membangun kamar mandi umum, rumah ibadah, dan madrasah.

Sejak zaman dahulu, Konstantinopel tersohor karena kemegahan dan keindahannya, hingga banyaklah para pujangga Arab-Islam sekalipun yang mengatakan “jika dunia ini adalah negeri, maka Konstantinopel adalah ibu kotanya.”

Kota tersebut terletak di daerah perbukitan yang subur dengan pemandangannya yang luar biasa elok di tepi selat Bosphorus, dan diapit sekaligus dibentengi oleh banyak lautan, yaitu Laut Marmara, Laut Aegea, Laut Hitam, Selat Tanduk Emas, dan Selat Bosphorus.

Penaklukan Konstantinopel telah menjadi semacam impian hampir semua penguasa Islam. Nabi Muhammad sendiri dalam sebuah haditsnya pernah memberikan nubuwat sekaligus kabar gembira akan penaklukan kota kesohor itu, bahwa suatu saat umatku akan menaklukan Konstantinopel, pemimpinnya adalah sebaik-baiknya pemimpin, dan pasukannya adalah sebaik-baiknya pasukan.

Para pemimpin dinasti Umayyah (beribukota Damaskus) beberapa kali mencoba menyerbu Konstantinopel, tetapi mereka mengalami kegagalan. Demikian pula para penguasa dinasti Abbasiyyah (Baghdad), Fatimiyyah (Kairo), dan Seljuk (Busra), mereka semua tidak berhasil merebut kota permata itu. Barulah, setelah berdirinya dinasti Utsmani oleh bangsa Turki-Muslim di abad ke-13, Konstantinopel perlahan-lahan mulai diambil alih, hingga puncaknya jatuh ke tangan salah satu sultan dinasti itu, Muhammad al-Fatih, pada tahun 1545. (berbagaisumber/L2-AGS, Kairo)