Ramallah-Infopalestina : Peristiwa yang memilukan yang terjadi pada September 1982 lalu, sungguh sangat menyedihkan. Apalagi hingga kini penjajahan masih eksis dibumi Palestina. Hampir tiap hari kejahatan Zionis masih menimpa Palestina. Tak terkecuali manusia, batu-batu pepohonan dan apa saja yang ada di bumi Palestina mengalami kejahatan penjajahan Zionis. Hari ini kita memperingati 27 tahun peristiwa Shabra dan Shatila di tengah pelaksanaan ibadah Ramadhan, di penghujung sepertiga bulan terakhir dan di saat kepedihan dan kesengsaraan melanda rakyat Palestina dimana-mana.
Shabra Shatila
Tanggal 16 September 1982, Ariel Sharon dan tentaranya membantai warga Palestina di Shabra dan Shatila Libanon. Ribuan rakyat tak berdosa dibantai dengan darah dingin. Semua rumah dihancurkan. Kemudian hari berganti bulan dan tahun terus bertambah, sudah 27 tahun berlalu dan di sela-sela itu juga sudah banyak pembunuhan dan penghancuran terjadi yang luput dari catatan dan persaksian sejarah. Supyan Ali, seorang warga di Hebron menuturkan, pembantaian Shabra dan Shatila masih berlanjut hingga sekarang, walau berbeda tempat dan waktunya. Kelompok pemukim Zionis terus melakukan pembantaian terhadap warga Palestina dengan lebih sadis dan biadab lagi. Di setiap plosok daerah, senantiasa mereka merampok, menggusur dan merampas harta milik warga disamping membantai pemiliknya. Sama persis dengan apa yang dilakukan Sharon 27 tahun yang lalu. Pembantaian walaupun berbeda bentuk dan caranya, masih terus terjadi terhadap warga Palestina. Sejarah tidak akan memaafkan siapa saja yang berlepas diri dari penderitaan Palestina, baik dari kalangan Arab, kaum muslimin maupun bangsa Barat, sekalipun. Sisi kemanusiaan memaksa mereka secara moral untuk menolong rakyat Palestina yang sedang terzalimi.
Pembantaian Terus Berlangsung
Beberapa bulan yang lalu, penganiayaan kelompok pemukimn Zionis terutama di sebelah selatan Nablus terus meningkat. Hal ini bisa dilihat dari laporan media elektronik yang mencatat puluhan orang terbunuh, permuhaman dihancurkan dan ladang dimusnahkan. Mereka menyerbu sejumlah distrik bagaikan pencuri dengan tirai kegelapan dibawah pengawalan tentara Zionis yang memberikan perlindungan ekstra terhadap apa yang mereka lakukan. Salamah Amir, warga Al-Quds mengatakan, setiap hari terjadi pembantaian walau dengan bentuk yang berbeda dengan Shabra dan Shatila. Mereka mencuri rumah-rumah warga dan mengusir penduduknya, disamping menggali terowongan di bawah Masjid Al-Aqsha, untuk mendirikan haikal yang mereka impi-impikan. Sekedar mengingatkan, peristiwa Shabra dan Shatila terjadi pada hari Kamis 16 September 1982 dan berakhir pada Sabtu 18 Septembr 1982. Namun kejadian serupa masih terus terjadi. Bekasnya pun masih nampak dan akan terus diingat oleh warga Palestina, generasi demi generasi. Peristiwa tersebut tidak akan terjadi lagi dalam sejarah Palestina, ungkapnya. (asy)