VIVAnews – Pemerintah Indonesia kembali melontarkan kutukan dan kecaman kepada Israel, yang tetap meneruskan pembangunan di wilayah yang menjadi hak bagi Palestina di Tepi Barat. Indonesia pun minta masyarakat internasional untuk kompak menuntut Israel agar menghentikan pembangunan pemukiman bagi warganya di wilayah Palestina.
Demikian ungkap Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa. “Kami ingin menegaskan selugas-lugasnya bahwa pemerintah Indonesia mengecam tindakan dan kebijakan pemerintah Israel untuk membuat pemukiman. Itu jelas bertolak belakang dengan hukum internasional dan berbagai resolusi PBB dan tidak kalah penting menciptakan lagi hambatan bagi proses perdamaian,” kata Natalegawa di Jakarta, Kamis 19 November 2009.
Awal pekan ini, pemerintah Israel menegaskan bahwa mereka tetap meneruskan pembangunan 900 unit pemukiman Yahudi di kota Yerusalem bagian timur. Padahal wilayah di Tepi Barat itu diklaim Palestina sebagai ibukota mereka di masa datang.
Langkah Israel ini disesali oleh sekutu terdekatnya, Amerika Serikat (AS), yang kembali berupaya menciptakan perdamaian di Timur Tengah. Padahal, Presiden AS, Barack Obama, sudah berkali-kali mengatakan kepada PM Israel, Benjamin Netanyahu, untuk tidak meneruskan pembangunan di Yerusalem Timur demi menghormati hak rakyat Palestina.
Namun, Israel tetap bersikukuh sehingga langkah ini bisa membuyarkan terwujudnya perundingan damai yang disponsori AS karena para pejabat Palestina terlanjur marah dengan sikap dari Negeri Zionis itu.
Menurut Natalegawa, kelihatannya pemerintah Israel tidak siap berunding dengan Palestina sehingga menampilkan berbagai kendala ke arah perundingan. “Kita kecam dan kutuk langkah ini. Kita anggap sangat tidak membantu,” kata Natalegawa.
“Kami harap masyarakat internasional bersuara dengan bersatu dan menuntut israel agar segera menghentikan pembangunan pemukiman tersebut,” lanjut mantan Duta Besar Indonesia untuk PBB itu.
Ini merupakan kesekian kali Indonesia mengutuk sikap Israel. Terakhir adalah saat Zionis itu menyerang wilayah Palestina di Jalur Gaza dari Desember 2008 hingga awal 2009.
