Konflik Georgia, Perang Dibalik Layar Israel dengan Rusia

Posted on Oktober 9, 2008

5


Usamah Abdur Rahim

Tidak jujur bila menyebut Presiden Georgia, Mikhail Saakashvilis sebagai sosok bodoh. Sebab lelaki ini sejak awal mabuk ingin menyerang Ossetia Selatan, salah satu benteng kuat yang diwarisi oleh Rusia dari Uni Soviet, dalam orasinya terakhir ia meminta agar Presiden Rusia, Dmitry Medvedev menghentikan perangnyaa dan memberikan keamanan dan kasih sayang kepada rakyatnya.

Saakashvilis yang duduk bersama Menteri Pertahanan dari Yahudi David Kezerashvili sangat jelas sejak awal berambisi ingin mengaitkan keamanan nasionalnya dengan Tel Aviv. Caranya, dengan menghabisi sisa-sisa taring Rusia. Rusia sendiri sudah lama memendam amarah karena dihalangi oleh tembok kokoh rasial yang dibangun oleh Amerika Serikat sehingga sangat sulit bagi elit Rusia melihat peta dunia di sekitarnya kecuali dengan cara melompat tembok yang sangat tajam tersebut.

Lebih dari itu, Menteri Negara untuk Perundingan di Georgia Temor Yaqobasivili berasal dari Yahudi. Ini menunjukkan bahwa Israel ingin mengulurkan tangan dan menggenggam kepala negara Georgia dan dijadikannya bekerjasama dengan Washington. Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dijadikan sebagai kelinci percobaan untuk menguji ‘beruang’ yang sedang dihadapkan kasus Balqan dan ingin naik lagi dalam ‘ring tinju’ setelah minggir karena mendapatkan pukulan-pukulan telak meski tidak patah tulang.

Ini yang membuat Saakashvilis mengomentari dengan dongkol soal Yahudi yang lari dari peperangan dan datang ke Palestina yang dijajah Israel, “Kami memiliki menteri Yahudi di pemerintahan kami. Yang satu menangani masalah peperangan dan yang lain menangani perundingan. Ini adalah partisipasi Israel,” Ia menambahkan dengan putus asa, “Di sini perang dan perdamaian, keduanya dengan tangan-tangan Yahudi dan Israel,”

Para pakar Israel sudah memanasi Georgia dengan membekali pesawat tanpa awak, senapan jenis Tafur, perbekalan militer berbasis teknologi perang canggih, pesawat tempur pengganggu sinyala system pertahahan. Israel juga melatih pasukan Georgia dan menguasai seluk beluk negara yang keluar dari tali temali Uni Soviet dan menjadikannya pahlawan yang diperhitungkan oleh beruang merah yang siap terjang.

Beberapa bulan lalu, sudah disepakati kerjasama militer antara Georgia dan Israel ketika pesawat tempur Rusia menjatuhkan sebuah pesawat tanpa awak milik Georgia buatan Israel.

Ketika elit militer dan politik di Rusia memutuskan untuk menempuh sejumlah langkah dendam tehadap Israel. Langkah pertama, Moskow membekali militer Suriah dengan rudal darat jenis Iskandar yang memiliki jarak jelajah 200 kilometer dengan kemampuan membawa pucuk nuklir.

Reaksi Israel tidak lama. Negara zionis ini memutuskan bahwa jika Rusia membekali persenjataan kepada militer Suriah dengan rudal Iskandar maka mereka akan menyerang rudal Rusia jika sudah disebarkan di Suriah.

Di tengah perang tersembunyi dari Israel ini, Rusia kali ini menghunus masalah yang sangat keras. Rusia menegaskan bahwa pasukannya akan membangun pangkalan militer darat di Suriah sebagai langkah langsung menyembelih leher Amerika Serikat karena dianggap ambisi memasang satelit pemantau di sejumlah negara bagian Uni Saoviet dan mencekik Moskow.

Komandan Besar di pasukan udara Israel mengakui kemampuan Hizbullah yang loyal kepada Iran dan didukung Suriah yang berkoalisi dengan Rusia untuk menyerang pesawat-pesawat Israel yang menyerang wilayah udara Libanon. Komandan ini juga menegaskan kegelisahannya atas Hizbullah jika menggunakan rudal anti pesawat produksi Rusia yang sudah dikembangkan di Libanon.

Pejabat-pejabat dan komandan di militer Israel belakangan melakaukan pembicaraan soal sekenario-sekenario tersebut. sebagian yang ikut menyebut pangkalan darat anti roket sebagai “garis merah” dan Israel harus membalasnya dengan kuat.

Sekilas kembali ke belakang, tepatnya di musim semi 2005. PM Ariel Sharon dengan keras mengkritik Vlandemir Puttin, Presiden Rusia saat itu dan meminta kepadanya untuk mengkaji kembali kerjasama antara Damaskus dengan Moskow.

Berdasarkan informasi yang diterima Israel, Rusia ingin menjual roket-roket bersirip depan jenis SA-18 kepada Suriah. Perjanjian ini mencakup rudal balastik yang mampu menyerang setiap titik di Israel.

Ketakutan Israel terfokus kepada kemungkinan roket-roket sampai kepada Hizbullah Syiah di Libanon yang merupakan anak kesayangan Iran dan sekutu Suriah. Sehingga Sharon mengingatkan Puttin dengan janjinya tidak akan menjual roket kepada Suriah. Yakni jenis roket bersirip yang mampua menjatuhkan pesawat tempur Tel Aviv. Di tengah kunjungan Sharon terakhir ke Rusia, Puttin berjanji dua kali tidak menjual rudal SA-18 kepada negara musuh, mengisyaratkan Suriah.

Sharon berteriak sebelum ia hilang kesadaran selemanya bahwa Puttin melanggar janjinya yang lalu. Sharon mengingatkan bahwa jika rudal Rusia sampai di kawasan Timteng maka akan mengancam keamanana Israel.

Hal ini didukung dengan pemberitaan media beberapa hari lalu mengutip dubes Rusia di NATO, Dmitry Rogozin soal kesepakatan Polandia Amerika soal penyebaran satelit luar angkasa di Polandia dimana ia menegaskan bahwa kesepakatan ini mengalihkana dari tujuan utama karena harus berhadapan langsung dengan Rusia.

Sudah menjadi aksioma jika dikatakan bahwa Georgia masuk dalam kancah peperangan mewakili Amerika, NATO dan Israel. Georgia hanya meniup balon dan menerbangkannya untuk menunggu reaksi Moskow sebelum Georgia dan Koalisi Eropa Timur ikut bergabung dan menyempurnakan tembok satelit ruang angkasa Amerika.

Akhirnya, Rusia menilai semua negara-negara yang pernah menjadi negara bagian Uni Soviet masih menjadi miliknya. Pembelotan terhadap saudara besarnya adalah terlarang. Bergabung dengan NATO adalah larangana keras. Berpihak kepada Amerika adalah kesalahan tak terampuni. (bn-bsyr)

Iklan
Posted in: Georgia, Rusia, Zionis