Israel Raya, Diawali Penguasaan Sumber Air

Posted on November 28, 2013

0


Islamedia – Hiruk pikuk perpolitikan di wilayah Timur tengah, selalu menarik untuk dikaji. Lebih menarik lagi, karena peta geopolitik Timur tengah semakin meluas melingkupi wilayah yang berbatasan langsung dengan negara-negara yang di masa lalu berkonflik dengan Israel. Sebut saja Mesir, Syiria, Jordania, Saudi Arabia, Palestina.

Syahwat Israel untuk mendirikan Israel Raya (The Great of Israel) telah melalui kajian matang dan berlangsung puluhan tahun. Salah satu strategi yang sekarang benar-benar “matang” untuk diterapkan adalah: Yahudisasi wilayah-wilayah yang berdampak langsung ataupun tidak langsung dengan negara-negara yang berpotensi menjadi “musuh” Israel di kemudian hari.

Setelah tahun 1996, Israel membeli 2 pulau di dekat Eriteria yang berhadapan langsung dengan Yaman dan Saudi Arabia, kini Israel membidik Ethiopia untuk masuk ke dalam aliansi bersama Israel. Sudan Selatan dan Ethiopia memiliki posisi sangat strategis. Di antaranya:

1. Sudan dipecah menjadi Sudan Utara (induk) dan Sudan Selatan.

Pengakuan dan respon yang begitu cepat akan kemerdekaan Sudan Selatan, ditengarai berkat lobi dan suplai dana dari Yahudi/Israel kepada negara-negara PBB. Tak lama setelah referendum, Pada 14 Juli 2011, Sudan Selatan menjadi negara anggota PBB.

Sudan Selatan adalah negara yang memiliki hulu Sungai Nil Putih. Memiliki cadangan uranium dan kaya akan cadangan minyak.

2. Ethiopia adalah negeri tempat hulu Sungai Nil Biru.

Negeri-negeri yang sangat tergantung dengan aliran Nil Biru adalah: Sudan dan Mesir, yang tiada lain musuh abadi Israel.

Maka ketika 2 tahun lalu, PM Ethiopia melakukan peletakan batu pertama pembangunan Bendungan Renaisans Agung Ethiopia, menandai dimulainya pengalihan air dari Nil Biru, salah satu anak utama Sungai Nil.

Para pejabat Ethiopia mengatakan proyek yang berbiaya hampir $ 5 miliar itu tidak akan mengurangi persediaan air. Mereka juga mengatakan bahwa bendungan itu akan menyediakan aliran listrik bukan hanya untuk Ethiopia tetapi juga untuk negara-negara tetangga.

Baik Mesir maupun Sudan telah mengutarakan keprihatinan bahwa mereka tidak akan memperoleh cukup air untuk mendukung penduduk mereka.

Sikap Mesir, sebagai negara induk yang langsung berbatasan dengan Israel sebenarnya terlambat. Terutama sejak era rezim Mubarak, yang sempat belasan tahun membiarkan Ethiopia dan Sudan berada di ujung ketidakjelasan hubungan.

Sudah jamak diketahui, kendati Sudan berbatasan dengan Mesir, Mubarak sama sekali tidak pernah memberikan ruang khusus bagi Sudan baik di level negara maupun hubungan antar rakyat. Padahal Sudan dahulu bagian dari Anglo-Mesir. Jarak Sudan-Mesir via darat membutuhkan waktu 3 hari 2 malam. Sehingga kegiatan ekspor-impor kedua negara selalu tak harmoni.

Demikian juga dengan Ethiopia. Sejak peristiwa pencobaan pembunuhan terhadap Mubarak tahun 1995, praktis hubungan Mesir-Ethiopia di titik nadir.

Kekosongan perhatian Mesir terhadap Sudan dan Ethiopia ini, dimanfaatkan Israel untuk memperkuat basis lobi dan dukungan dengan proyek-proyek pembangaunannya yang mercusuar dan gelontoran dana bagi para pejabat di kedua negara tersebut.

Kini, Presiden Moursi yang ketiban getahnya. Ia memahami betul, fungsi strategis ke dua negara: Sudan Selatan plus Ethiopia. Maka di tengah serangan dalam negeri yang tak pernah berhenti, Moursi fokus memperkuat hubungan bilateral dengan beberapa negara yang memiliki Hulu Air Sungai Nil.

Maka prediksi saya adalah, perang Israel Raya tidak lagi masalah energi MINYAK tapi energi AIR. Memang ciri khas Yahudi adalah: berperang dalam silent operation (operasi diam). Tidak seperti umat Islam, teriak-teriak duluan, namun tak memiliki energi untuk bertahan lama.

Nandang Burhanudin

Iklan