Sosialisasi (Kondom) yang Keblinger

Posted on Desember 2, 2013

0


Islamedia – lihat foto di atas. itu adalah salah satu bentuk sosialisasi kondom di ujung timur wilayah negri ini. sengaja saya ambil langsung saat melewatinya, karena ‘menarik’ sekali tulisan yang ada di papan gapura. ‘sedikit’ tak mengapa, karena gapura unik itu adalah pintu gerbang menuju tempat lokalisasi. artinya, yang dihimbau adalah para lelaki yang ‘sakit’, sakit secara perilaku supaya tak berlanjut sakit secara fisik.
tapi, saat saya memasuki restoran padang (padang lho yaa…), dan sedang asyik melahap pesanan, tiba2 pandangan saya terantuk pada stiker di tembok, persis di depan saya. stiker singkat yang bertulisan:”KITORANG TAK LUPA PAKAI KONDOM”. huekkk, selera makan saya mendadak lenyap. apa maunya sih, di resto pun, resto padang pula, stiker macam begini kudu ditempel? saya rasa ini sosialisasi yg OD, overdosis.
saya tahu bahwa di daerah itu, tingkat penularan aids begitu tinggi hingga 300%. bahkan bayi2 pun banyak yang terlahir aids. tapi mbok ya dicari cara sosialisasi tentang AIDS yang lebih elegan, gak sekedar urusan kondom. bahkan, secara mengejutkan, saya dengar ada teman dosen di daerah setempat, yang membagi gratis kondom pada mahasiswa, sambil membagikan buku ajar. kondom terssebut diselipkan di halaman depan buku. weleh-weleh, mau nyuruh mahasiswa free sex dengan ‘aman’?

 

saya bukan anti kondom. untuk kalangan tertentu, mungkin AIDS bisa diminimalisir dengan kondom. Misalnya pada pasangan halal yang suaminya atau istrinya punya penyakit AIDS. meski itu juga gak menjamin bebas penularan. tapi, jika kondom dikampanyekan untuk semua orang, itu sungguh kebablasan.
hatta, untuk pasangan halal pun, saya masih mengernyitkan kening, saat ada seorang dokter perempuan bercerita, jika suaminya baru saja pulang dari luar negri atau luar kota, dia tak akan mau melayani (kebutuhan biologis) suaminya jika suaminya itu belum periksa ke dokter dan yakin tak ada masalah. atau jalan terakhirnya, pakai kondom. waduh! kesannya kok menuduh suami begitu ya? saya menduga, jika dengan suami sendiri saja sudah berasumsi bahwa ‘di luaran’ pasti jajan, ini pasti tak muncul tiba-tiba. istilahnya, pernah kepergok atau apalah, sementara ngajak suami tobat belum mungkin. yang dikuatirkan, maka lalu akan ada anggapan, premis secara umum (ini ungkapan dokter itu, saya hanya ngutip): “laki-laki itu sama saja dimana-mana. seperti anjing. di rumah dikasih makan dari piring emas dia mau. tapi di luar rumah, ada bau sisa makanan di tempat sampah, dia korek2 juga” (aduh, astaghfirullah, ngelus dada mendengarnya).
sekarang, ada pekan kondom nasional, yang dilakukan dengan bis khusus menuju kampus-kampus. kenapa harus ke kampus? bukankah disana mahasiswa-mahasiswa kita sebagain besar justru belum menikah? mengapa tidak ke tempat lain, ke pasien2 AIDS yang sudah menikah, yang ada di rumah sakit misalnya? bagi saya, ini sosialisasi kondom yang keblinger, sama persis dengan yang dilakukan dosen untuk para mahasiswanya di atas. bedanya, dosen itu melakukan kampanye atas inisiatif pribadi dan untuk kalangan dia sendiri, tetapi kalau pekan kondom sekarang ini? ini untuk skala nasional, digulirkan oleh pejabat yang berwenang. nasional mak, n-a-s-i-o-n-a-l!
padahal, dalam buku ‘Global Effect HIV/aids, Dimensi Psikoreligi’, dadang hawari menyatakan, menurut berbagai riset ditemukan bahwa: kondom terbukti gagal untuk mencegah menularnya virus HIV. secara ilmiah, untuk pencegahan kehamilan saja kondom tidak terbukti aman 100%. Kenapa? karena pori-poro kondom itu sebesar 1/60 mikron, jauh lebuh besar dari pori-pori virus HIV yang 1/250 mikron. Padahal kondom dibuat dari latex, karet senyawa hidrokarbaon dengan polimerisasi yang berarti akan memiliki serat dan pori-pori. Secara umum, proses pembuatan kondom pun memiliki lubang cacat mikroskopis (pinholes) sebesar 1 mikron. nah!
lalu, dimana pendidikan karakter, yang saat ini sedang sangat digembar-gemborkan? dimana peran agama untuk membentengi perilaku? saya rasa, tak hanya Islam, semua agama pun tak mengakui seks bebas. bahkan hukum adat di berbagai daerah pun banyak yang menentang keras pelaku seks bebas. seks bebas, yang dalam terminologi Islam disebut zina. jika kita mengaku sebagai umat beragama, saya yakin solusinya bukan kondom, tapi kembali pada aturan agama secara benar.
Allah, lindungi anak keturunan kami dari azab-Mu…..
Iklan
Posted in: Indonesia, Islam