Anis Matta dan Kisah Rib’i bin Amir

Posted on Desember 8, 2013

0


By: Abdan Syakuro Lubis

Satu hal yang membuat saya menulis tulisan ini adalah tweet dari @dr_piprim yang berisi:

“Aneh juga ust Anis Matta ini, bicara di forum Guru Besar UI dg santai dan memukau. Padahal org lain bs grogi berat.”

Dari Tweet tersebut saya teringat dengan kisah Rib’i bin Amir ketika menemui Raja Persia yang bernama Rustum.

Pada masa itu Islam berada dalam kepimimpinan Khalifah Umar bin Khattab RA. Peristiwa ini terjadi sebelum pecahnya perang Qadisiyyah antara Ummat Muslim dengan Persia. Ummat muslim yang saat itu dipimpin oleh panglima perang Saad bin Abi Waqash mengutus seseorang untuk berunding dengan Rustum, sang raja Persia. Diutuslah salah seorang sahabat nabi yang bernama Rib’i bin Amir.

Pertemuan antara Rib’i dan Raja Rustum ini sangat menarik bagi saya. Rab’i datang kepada Raja Rustum dengan kondisi yang sangat sederhana. Kuda yang ia pakai sangatlah kurus dan pendek. Begitu juga dengan perisai dan pedang yang ia gunakan sangatlah pendek dan jelek. Bajunya pun sangatlah sederhana dan sudah lusuh.

Hal ini sangatlah bertolak belakang dengan kondisi Raja Rustum dan istana nya yang sangat besar dan megah saat itu. Istana persia saat itu penuh dengan perhiasan yang mahal dan menyilaukan mata. Di setiap ruangan diletakkan bantal-bantal bertahtakan emas dan beralaskan Sutra. Raja Rustum sendiri memakai mahkota dan sedang duduk di Ranjang yang terbuat dari Emas.

Yang menarik adalah Rib’i tidak gentar sedikitpun dengan apa yang telah ia lihat. Ini tergambar saat salah seorang pembesar Rustum berkata “Letakkan senjatamu” untuk menggertak Rib’i. Ia menjawab dengan santai, “Bukan aku yang ingin datang menemuimu, tetapi kamu sendirilah yang memanggilku untuk menemuimu. Jika engkau membiarkanku seperti ini, aku akan menunggu. Jika tidak, aku akan kembali”.

Mendengar hal tersebut Rustum meminta pembesarnya membiarkannya. Singkat cerita Rib’i menemui Rustum dan menjelaskan tujuannya datang yang tidak lain adalah untuk mendakwahinya untuk menyembah Allah. Bahasa yang ia gunakan sangatlah runut disertai argumen yang sangat kuat. Tidak ada rasa takut sedikitpun dari raut wajahnya. Kemampuan Rib’i berbicara tersebut benar-benar merubah anggapan mereka  diawal pada sosok Rib’i ini.

Hal yang saya garis bawahi dari kisah ini adalah self-confidence atau kepercayaan diri yang ditunjukkan oleh Rib’i bin Amir saat itu. Dan saya melihat pada Forum Guru Besar UI kemarin, Anis Matta membangkitkannya kembali dalam versi lain.

Saya menganalogikan kerajaan Persia dengan Forum Guru Besar UI yang sangat dihormati oleh orang banyak saat ini. Juga para Raja dan petinggi kerajaan sebagai para Guru besar dan Dosen-dosen yang sangatlah dihormati karena pencapaiannya di level akademik. Dan Anis Matta sebagai Rib’i masa kini. Ia yang notabene nya hanya bergelar S1 dengan Self-Confidence yang ia punya dapat menghancurkan sekat-sekat gelar dalam pendidikan  yang mereka miliki.

Anis Matta mampu memutar nalar mereka yang mendengarkannya untuk masuk kedalam sudut pandang berpikirnya. Ia mendefinisikan Indonesia dalam dua fase yang telah dilewati dan satu fase Indonesia masa depan. Mengeluarkan Bahasa-bahasa intelek namun dengan pembawaan yang tetap santai dan bersahabat Anis Matta berhasil memukau para audiens dengan mudahnya. Anis Matta menunjukkan kecemerlangan dirinya bukan karena gelar-gelar yang menempel di namanya, tapi dengan ide-ide besar tentang Indonesia di masa depan. Ya, Saat engkau mempunyai Allah, tidak ada yang terlalu besar bagimu.

“Nasib digariskan disini, dan sejarah hanya akan memotret dan mencatatnya. Tidak Lebih”, Anis Matta.

*penulis @rentos on twitter

Iklan
Posted in: Indonesia, Islam