“Memenangkan PKS dari Balik Setir Taxi” | Cerita Sang Mas’ul

Posted on Desember 8, 2013

0


Di Kota Jakarta, Taxi bukan lagi barang mewah, atau angkutan mewah, tetapi taxi sekarang sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat.

Di Perusahaan tempat saya bekerja, sekitar 3000 order tiap harinya belum bisa kami layani karena kekurangan armada, padahal kami adalah perushaan taxi terbesar di Indonesia.

Dan dari pengalaman kami di jalan, pengguna taxi kami bukan hanya orang-orang kaya, tetapi dari semua kelas dan profesi, pembantu rumah tangga, kuli bangunan, supir, ibu rumah tangga, anak sekolah, sampai eksekutif.

Taxi sekarang sudah menjadi kebutuhan masyarakat Jakarta. Dari sisi penghasilan, bisa jadi dengan ketekuan, perencanaan bekerja yang matang seorang pengemudi taxi bisa mendapatkan penghasilan 2x atau 3x UMR.

Bagi Saya, menjadi pengemudi taxi bukan sekedar bekerja (maisyah-menghidupi keluarga) tetapi juga sarana untuk belajar dan merencanakan pemenangan PKS.

Belajar dan merencanakan Pemenangan PKS? Bisakah dari balik setir taxi? Mungkin itu pertanyaan dari sebagian antum ketika membaca judul diatas. Tetapi itulah yang bisa Saya simpulkan dari pengalaman-pengalaman Saya “on the street”. Penasaran? Akan Saya jelaskan dan mudah-mudahan jadi inspirasi untuk antum semua.

1. Di Taxi Saya belajar logika ibadah dan rizki.

Mengapa Saya belajar ibadah dan rizki? Karena menjadi pengemudi taxi rizki rupiah antum di tentukan dengan jumlah tamu/penumpang yang akan kita bawa, sedangkan pengemudi taxi tidak bisa menentukan atau memilih tamu untuk dia bawa.

Setiap orang yang melambaikan tangan menyetop taxi Saya, maka itu adalah tamu yang harus Saya layani berapa-pun jarak tempuh dan jumlah nominal argo-nya. Saya belajar tawakal 100% kepada Allah SWT, karena Allah-lah yang sudah menentukan rizki Saya hari itu. Saya hanya bisa keliling di jalanan, tetapi Saya tidak bisa menentukan tamu yang Saya bawa, dia yang melambaikan tangan dia yang Saya bawa, dan jumlah rupiah yang akan Saya bawa hari itu hanya Allah yang tahu.

Di jalanan kita akan bertarung dengan waktu, antara menerima tamu atau mengejar sholat tepat waktu, itu pilihan. Sewaktu-waktu Saya pernah memilih tamu daripada sholat tepat waktu, karena waktu dhuhur adalah waktu-waktu ramai orang butuh taxi, apalagi sekitar jalan Sudriman-Thamrin, Taxi menjadi kebutuhan saat itu.

Ternyata ketika Saya memilih tidak sholat tepat waktu dan mendahulukan tamu, rupiah yang Saya terima tidak seperti yang Saya bayangkan. Akhirnya Saya merenung, mungkin ini teguran dari Allah untuk Saya.

Waktu sholat ashar tiba, Saya langsung cari Masjid atau Mushola terdekat, selama Saya mencari Masjid dan Mushola sekitar 2-3 tamu yang melambai dan Saya lewati, karena Saya sedang mengejar sholat tepat waktu dan berjamaah di Masjid.

Setelah Sholat Ashar tidak jauh dari Masjid, ada tamu yang melambai ke Saya dan ternyata minta di antar ke Bandara…Subhanallah, thamrin-bandara argo-nya kurang lebih antara 150.000-200.000. Ketika kita mengejar akhirat ternyata dunia “ngikut”. Allahu Akbar.

2. Memahami karakter dasar manusia, belajar dari karakter tamu untuk memenangkan PKS.

Sekitar 15 jam Saya operasi di jalanan tiap harinya, maka Saya akan banyak menemukan berbagai macam tipe tamu; ada yang ramah memberikan salam ketika masuk ke taxi, ada yang jutek wajahnya, ada yang ketus, ada yang terburu-buru, dll.

Memahami penumpang taxi sama juga kita memahami “konstituen” kita, yang akan coba kita arahkan suaranya ke PKS. Dari berbagai macam tipe yang Saya pahami dari penumpang taxi hanya ada satu yang bisa menaklukkan mereka; yang ramah menjadi akrab dengan kita, yang jutek bisa jadi ramah, yang buru-buru bisa jati tenang hanya dengan satu cara : MELAYANI.

Semua penumpang yang mendapatkan pelayanan prima (dengan tulus dan dengan hati) dari pengemudi taxi mereka akan merasa nyaman dan senang, energi positif akan muncul apabila pengemudi bisa melayani dengan prima.

Itu yang akhirnya Saya implementasikan dalam program-program pemenangan PKS di territorial Saya : MELAYANI. Seangkuh apapun orang, sebenci apapun orang terhadap PKS, ketika mereka merasa dilayani oleh PKS maka itu bisa menggugurkan keangkuhan dan kebencian mereka. Yakin itu, dan Saya membuktikannya dari balik setir taxi.

Pada suatu waktu, Saya di malam hari sekitar jam 23.30 membawa tamu seorang laki-laki warga Negara asing, yang baru selesai dugem dan dalam kondisi mabuk. Sepanjang perjalanan dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata ngajak ngobrol saya, dan tema obrolannya tidak saya pahami (maklum lagi mabuk) tetapi Saya dengan terus bersabar melayani obrolan tamu ini, lama-kelamaan mulai nyambung dikit-dikit, setelah muter-muter karena tamu ini juga lupa rute ke arah apartement-nya, tiba-tiba tamu ini lapar dan minta di anter ke restaurant dan mengajak Saya untuk menemani makan di sebuah Restaurant Padang di daerah Blok M.

Akhirnya Saya temani, setelah makan, Saya coba tanya-tanya tanda-tanda yang dikasih tahu oleh tamu Saya dan Alhamdulillah akhirnya ketemu juga apartemen tempat tinggal tamu Saya, dia berterima kasih dan memberikan tips yang lebih kepada Saya…Alhamdulillah…orang mabuk saja ketika kita layani maka logika kemanusiaannya akan hidup, apalagi yang normal.

3. Jangan remehkan rizki yang kecil. 

Suatu waktu Saya narik di sekitar kuningan, Saya dapat tamu dari depan kantor KPK dan minta dianter ke Pasar Festival. Jarak kantor KPK-Pasar Festival sangat dekat, argo hanya menunjukkan angka Rp 8000, mungkin awalnya kita berfikir argo-nya ngga seberapa, tetapi kewajiban Saya untuk anter tamu sampai ke tujuan, ternyata Allah Maha Bijaksana.

Setelah sampai di Pasar Festival tamu membayar 8000 pas, tetapi setelah tamu turun Saya langsung dapat tamu lagi yang minta dianter ke Bandara…(argo sekitar 150.000-200.000). Di sini Saya dapat pelajaran, kalau kita tidak terima rizki yang kecil maka ngga akan dapat rizki yang besar.

Baru Saya pahami makna yang terkandung di Surat Abasa, ketika Rasulullah SAW bermuka masam ketika berhadapan dengan ummat dari golongan dhuafa. Meremehkan orang-orang kecil buruk akibatnya untuk dakwah.

Makanya PKS tetap harus menjadi partai yang terdepan dalam memikirkan orang-orang kecil, memang dakwah sudah memasuki wilayah pengusaha dan birokrasi, tetapi bukan berarti kita melupakan orang-orang kecil di sekitar kita. Bagaimana-pun orang-orang kecil masih menjadi mayoritas di negeri kita.

Masih banyak pelajaran yang bisa Saya ambil dari balik setir taxi untuk pemenangan PKS. 3 point diatas hanyalah bagian kecil dari pelajaran-pelajaran yang bisa Saya dapatkan.

Dari 3 point diatas maka Saya dapat merencanakan kemenangan PKS di DPC dimana saya diamanahi sebagai Ketuanya :

1. Semua upaya kita dalam memenangkan PKS hasilnya tetap Allah Yang Menentukan. 

Kita sebagai manusia hanya diperintah untuk berkontribusi dalam proyek pemenangan ini, karena kita meyakini proyek pemenangan PKS adalah proyek pemenangan dakwah.

Kedekatan dan ketaatan kita kepada Allah adalah kunci pembuka pintu rizki, bukankah kemenangan adalah rizki dari Allah SWT.

Ketika kader PKS malas sholat berjamaah di Masjid, malas datang ke majelis-majelis ilmu, jarang hadir di usroh dan halaqoh, malamnya tidak terbiasa dengan Sholat malam, siangnya tidak terbiasa dengan lapar dan haus (shaum senin-kamis/ayyamul bid), ngejar setoran dunia lebih dipentingkan dari ngejar setoran akhirat, maka kemenangan itu akan jauh walaupun PKS berlimpah uang dan logistic.

Bagaimana mungkin Allah akan memberikan kemenangan kepada kita kalau target rupiah kita mengalahkan target ruhiyah kita? Target “one day one juz” lebih dikalahkan dengan “one day one client” misalnya, atau target-target lain di kantor, di pekerjaan dll.

Saya teringat dengan pesan Syaikh Tarbiyah (Alm Ust Rahmat Abdullah) : “Kalo antum kejar dunia, akhirat bisa lewat, tapi kalo antum kejar akhirat, dunia ngikut…” begitulah salah satu wejangan Syaikh Tarbiyah kita.

2. PKS akan menang ketika PKS, kader-nya, CAD-nya, dan Qiyadah-nya selalu melakukan pelayanan sesuai dengan tanggung jawab dan wilayah kerjanya masing-masing. 

Hasil survey anggap aja penonton di lapangan sepak bola, sebagai pemain kita tetap focus mencetak GOL. Jangan gara-gara hasil survey CAD nomor sepatu jadi gelisah, jangan gara-gara hasil survey qiyadah saling menyalahkan, jangan gara-gara hasil survey CAD incumbent merasa “terancam” dengan “new comer”.

MELAYANI!!! Itulah proyek kita, semua orang “senang” kalau di layani. Amal khidami adalah amal  pemenangan. Biarkan orang dengan logistic yang berlimpah mencoba membeli suara rakyat, tetapi kita yakin rakyat masih membutuhkan pelayanan kita.

Argo taxi Saya adalah argo termahal di Jakarta, banyak taxi merek lain yang tarif bawah dan lebih murah, tetapi kenapa banyak orang tetap memilih naik taxi perusahaan Saya? (mohon maaf ya yang merek lain) karena satu prinsip tadi “MELAYANI”.

3. Pekerjaan memenangkan PKS adalah sebuah kerja besar, tetapi kerja besar ini tidak akan berhasil apabila tidak ada kerja-kerja kecil. 

Justru kerja-kerja kecil-lah yang membuat kerja-kerja besar menjadi berhasil. Jangan pernah remehkan kerja kecil. Memasang bendera di jalan dengan bermodal bamboo dan kawat itu mungkin kerja kecil, tetapi kalau tidak ada kerja kecil itu tidak mungkin masyarakat kenal lambang dan nomor PKS.

Sekedar menyapa dan silaturahim ke tetangga mungkin juga hanya kerja kecil, tetapi dengan kerja kecil itu satu-satu masyarakat berkomitmen coblos PKS.

Sekedar infaq untuk beli stik gula darah dan asam urat mungkin kerja kecil, tetapi dengan kerja kecil itu PKS sudah berkontribusi menjaga kesehatan masyarakat.

Ngga usah “ngiri” dengan Jokowi yang selalu dimuat di media massa, PKS di Jakarta punya 23.000 kader dan ratusan ribu simpatisan, mereka semua adalah agen-agen kebaikan yang bisa menyampaikan misi mulia PKS ke masyarakat dan selalu berusaha melayani dan mendakwahkan masyarakat, apakah kita masih ragu menyambut kemenangan ini???

*by Ketua DPC PKS di DKI (Supir Taxi) 

Iklan
Posted in: Indonesia, Islam