Penuhilah Janjimu

Posted on Desember 9, 2013

0


Islamedia – Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan janganlah kalian campur adukkan yang haq dengan yang batil dan janganlah kalian sembunyikan yang haq itu, sedang kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 42) 

Ikhwan sekalian, rangkaian ayat-ayat yang mulia ini sesuai dengan keadaan yang kita alami sekarang. Al-Qur’anul Karim sering memaparkan dirinya dan memberikan peringatan kepada diri anak-anak Adam. “Alif lam mim, kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya,” (QS. Al- Baqarah: 1-2) 

Kemudian menjelaskan dirinya kepada orang-orangberiman, “Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib.” (QS. Al-Baqarah: 2-3). 

Kemudian kepadaorang-orang kafir, “Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.” (QS. Al-Baqarah: 6) 

Selanjutnya kepada orang-orang munafik, “Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 8) 

Kemudian menjelaskan tentang Pencipta, “Hai manusia sembahlah Tuhan kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 21) 

Kemudian menjelaskan keadaan penciptaan, “Mengapa kalian kafir kepada Allah padahal tadinya kalian mati, lalu Allah menghidupkan kalian.” (QS. Al-Baqarah: 28) 

Kemudian menjelaskan status manusia sebagai khalifah, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30) 

Kemudian Al-Qur’an memaparkan risalah sebuah bangsa, yang merupakan salah satu bangsa paling tua di bumi yang penuh pertentangan dan masih menjadi penyakit hingga kini, yaitu bangsa Yahudi. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala hendak memaparkan kondisi bangsa-bangsa dan risalah, Dia tidak memaparkan umat Nabi Nuh atau Syaits, karena umat tersebut telah punah dan sikap-sikapnya pun biasa. Dia mendatangkan pemaparan tentang sebuah bangsa yang telah dikutuk dan masih terus dikutuk, yaitu bangsa Yahudi yang telah menyalakan api fitnah dan masih terus menyalakannya sepanjang perkembangan kehidupannya: pada Perang Dunia Pertama, Perang Dunia Kedua, dan akan menyalakan api fitnah tersebut pada Perang Dunia Ketiga, tetapi insya Allah di sana ia sendiri yang akan menjadi bahan bakarnya. Ia merupakan kejahatan di mana pun berada dan menjadi bencana di mana pun didapati. Kadar kejahatannya di masa akhir seimbang dengan kadar kemuliaannya di masa awal. 

Ikhwan sekalian, Al-Qur’anul Karim mengisyaratkan keutamaan bangsa ini, “Dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.” (QS. Al-Maidah: 20) 

Allah telah memberikan kelebihan berupa kenabian dan kerajaan kepada mereka. Al-Qur’an mulai memaparkan kisah mereka dengan menyebutkan keutamaan tersebut. “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 40). Allah telah memberikan nikmat kepada mereka berupa asal-usul yang mulia dan garis keturunan yang mulia. Ayah mereka adalah Ya’kub alayhissalaam, putra Ishaq alayhissalaam, putra Ibrahim alayhissalaam. 

Allah telah memberikan nikmat kepada mereka berupa agama dan dunia. Berupa agama dengan menurunkan kitab. “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya ada petunjuk dan cahaya.” (QS. Al-Maidah: 44). Sedangkan berupa dunia yaitu kerajaan dan kekuasaan. “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kalian atas segala umat.” (QS. Al-Baqarah: 47) 

Ikhwan sekalian, Allah menghendaki kebaikan untuk mereka jika mereka taat. “Dan penuhilah janji kalian kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 40) 

Kemudian Allah mengingatkan mereka kepada perjanjian umum umat manusia. “Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian, wahai Bani Adam, supaya kalian tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian,’ dan hendaklah kalian menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Yasin: 60-61) 

Kemudian Allah mengingatkan mereka kepada perjanjian khusus ketika Allah mewasiatkan kepada mereka tanda-tanda kerasulan Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam, “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 146) 

Yahudi Nashuria berkata, “Demi Allah, aku sungguh mengenal Muhammad lebih dari mengenal anakku, karena aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh para wanita.” 

Meskipun demikian ia tetap berkata, “Apakah kenabian itu datang kepada seseorang di luar kalangan Bani Israil? Ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin.” 

Lihatlah Abdullah bin Salam yang telah beriman kepada Rasul shalallahu ‘alayhi wa sallam dan menunjukkan sifat beliau yang disebutkan di dalam Taurat. Ia berkata kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, “Jika engkau ingin mengetahui isi hati orang-orang Yahudi, saya akan melakukannya.” Maka beliau bersabda, “Lakukan!” Ia berkata, “Sembunyikan saya, kemudian bertanyalah kepada mereka mengenai diri saya, niscaya mereka akan berkomentar baik mengenai diri saya.” Lantas Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam mendatangkan mereka dan bertanya, “Bagaimana pendapat kalian tentang Abdullah bin Salam?” 

Mereka menjawab, “Dia pemimpin kami dan putra dari pemimpin kami.” Maka Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Berbicaralah kepada mereka, Abdullah!” Lantas Abdullah bercerita tentang sifat-sifat Nabi yang memang sangat diketahuinya. Mereka lantas berkata, “Abdullah telah murtad.” Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Dan seorang saksi dari Bani Israil mengetahui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur’an lalu dia beriman, tetapi kalian menyombongkan diri.” (QS. Al-Ahqaf: 10) 

Ikhwan sekalian, bahkan Allah telah mengambil perjanjian dari seluruh Nabi supaya beriman kepada beliau. “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berfirman, ‘Apakah kalian mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakui.’ Allah berfirman, ‘Kalau begitu saksikanlah (wahai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian.’” (QS. Ali Imran: 81) 

Sifat beliau disebutkan di Taurat sebagai berikut: “Wahai Bani Isra’il, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (QS. Ash-Shaf: 6) 

Hakikat ini merupakan perjanjian yang diambil Allah dari orang-orang Yahudi agar mereka memenuhinya dan mengimani kandungannya, jika mereka memenuhi perjanjian itu, maka Allah akan menepati janji-Nya kepada mereka. “Dan penuhilah janji kalian kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 40) 

Anehnya, salah satu karakter orang-orang Yahudi adalah tamak, sampai-sampai karakter ini menjadi permisalan di tengah-tengah mereka. Salah satu akibat dari ketamakan ini adalah sifat pengecut, penakut, dan rendah diri, sehingga berakibat kepada pengharaman bagi mereka. “Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik yang (dulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi manusia dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil.” (QS. An-Nisa: 160) 

Kezhaliman yang mereka lakukan telah menjadikan mereka orang-orang hina, nista, dan rendah. “Lalu ditimpakan kepada mereka kenistaan dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah.” (QS. Al-Baqarah: 61). Itu merupakan sumber penyakit hati yang melekat pada mereka, dan selama hati sakit, maka rasa takut kepada selain Allah mendominasinya. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan hanya kepada-Ku-lah kalian harus takut (tunduk).” (QS. Al-Baqarah: 40). Jangan takut kepada seorang pun, baik itu tokoh dunia maupun tokoh agama. Ayat ini mengabadikan orang-orang Yahudi yang menyelisihi perintah Tuhan mereka dan mengingatkan mereka terhadap perjanjian dan hak Allah atas mereka. 

Kemudian Al-Qur’an beralih kepada aspek praktis dan mengingatkan mereka kepada Dzat Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyiapkan mereka. “Dan berimanlah kepada apa yang telah Aku turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat).” (QS. Al-Baqarah: 41). Jika Al-Qur’an datang untuk membenarkan dan menguatkan apa yang ada pada kalian, maka mengapa kalian kafir dan tidak beriman kepadanya? Apakah yang kalian inginkan setelah ini? 

Jika masalahnya adalah masalah figuritas, maka Allah akan melaknat figur-figur yrang telah menghalangi pengakuan kepada kebenaran ini. Al-Qur’an mengatakan, “Kembalilah kalian sekalian kepada diri kalian sendiri, ingatlah perjanjian dan pahala Allah di akhirat.” Figur-figur yang kalian ikuti itu tidak mampu memberikan madharat dan manfaat kepada kalian, maka berimanlah. “Dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama kali kafir kepadanya.” (QS. Al-Baqarah: 41) 

Jika penyebabnya adalah harta, maka ketahuilah bahwa harta adalah kenikmatan yang akan binasa dan harganya sangat murah. “Dan janganlah kalian menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Aku-lah kalian harus bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 41) 

Al-Qur’an melarang mereka mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan atau menggambarkannya dalam gambaran yang menjadikan kebenaran itu rancu dan ruwet, sehingga tidak tampak perbedaan antara kebenaran dan kebatilan sebagaimana Al-Qur’an melarang mereka menyembunyikan kebenaran itu. Mereka mengatakan, “Tanda-tanda kenabian yang ada di Taurat bukanlah berkenaan tentang Muhammad, tetapi tentang orang lain yang akan datang kelak.” Mereka menyembunyikan banyak hukum dan menutupi ampunan. ‘Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahibnya sebagai Tuhan selain Allah.’ (QS. At-Taubah: 31) 

Kemudian Al-Qur’an meminta mereka melakukan bukti praktis. “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang ruku.” (QS. Al-Baqarah: 43) 

Laksanakan amalan-amalan Islam sebagai bukti nyata dari keimanan kalian. Allah berfirman, “Dan ruku’-lah!” setelah memerintahkan didirikannya shalat, padahal ruku’ adalah bagian dari shalat itu sendiri. Hal ini karena perintah pelaksanaan shalat itu berkaitan dengan kehadiran hati, sedangkan perintah rukuk berkaitan dengan bentuk lahir yang indah. Di antara konsekuensi shalat yang lengkap adalah kehadiran hati dan lahirnya sekaligus.

 
dikutip dari hasanalbanna.com 
Iklan
Posted in: Indonesia, Islam