Perjuangan Intifadhah Dari Batu Hingga Rudal

Posted on Desember 9, 2013

0


Islamedia – Beberapa gambar kenangan mengembalikan pikiran orang-orang Palestina pada hari-hari dalam perlawanan menghadapi penjajah Zionis. Batu yang dileparkan ke patroli Zionis kini menjadi rudal yang mengedor kota-kota Zionis dan menjangkau puluhan kilometer.

Ini jelas memperkuat budaya yang ingin dihancurkan oleh proses perundingan dan normalisasi dengan entitas Zionis. Angin yang tidak diinginkan oleh proses perundingan itu telah datang dengan rudal-rudal tersebut.

Memori Orang Merdeka
 
Dengan mendengarkan cerita yang penuturan para orang tua yang mengalami intifadhah, kita temukan sebab kontinyuitas intifadhah, perkembangannya dan pengaruhnya. Termasuk untaian jalinan militer, keamanan, sosial dan tarbiyah (pendidikan).

Kepada koresponden Pusat Informasi Palestina, Abu Sulaim dari Hebron menuturkan, “Saya termasuk di antara para pemuda yang tergabung dalam barisan gerakan Hamas. Kami menyebutnya keluar dalam tugas melempar batu atau menulis slogan-slogan atau parade militer adalah misi. Misi ini ditugasi banyak perencanaan dan langkah. Ada kelompok yang bertugas mengintai daerah yang akan menjadi aktivitas, ada kelompok yang mengamankan di belakang kami. Di antaranya kami ada yang memiliki tulisan (khat) bagus, ada pelatih, pemilik fitnes, yang lainnya mahir dalam menabuh drum dan lain-lain seperti pemanjat tembok. Sehingga tulisan yang kami buat membentuk jaring laba-laba tentang pengumuman mogok umum dan kami menulis pernyataan-pernyataan di tembok-tembok dan kami tempelkan di jam-jam tangan.”

Abu Sulaim menyatakan bahwa di awal intifadhah, faksi-faksi Palestina khususnya gerakan Hamas, inovatif dalam mennggalang massa. Sampai-sampai sebagian pernyataan ditempel di mimbar-mimbar masjid.

Sementara itu Ahmad Husain menuturkan kepada koresponden Pusat Informasi Palestina, “Orang tang bertopeng (cadar) memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Dia menjadi semacam gubernur di wilayah tersebut atau sebagai pemimpin yang bersama rekan-rekannya menentukan perilaku sehari-hari sesuai langkah-langkah politik. Mogok menyeluruh, pembakaran ban-ban, penutupan toko-toko, menghadang serdadu Zionis dalam konfrontasi-konfrontasi, melempar molotov ke para mata-mata dan patroli Zionis, semuanya adalah aktivitas sehari-hari yang tergantung pada pribadi yang dicintai di antara masyarakat, yaitu orang yang bercadar.”

Bangunan Memperkuat
 
Banyak yang menilai bahwa tahap-tahap pembebasan Palestina berputar lebih cepat dan lebih kuat daripada revolusi dan gerakan-gerakan pembebasan yang terjadi di dunia. Setelah 26 tahun perlawanan militer di satu sisi dan penolakan perjanjian bernama Oslo di sisi lain, rakyat Palestina yang bebas memiliki roket perlawanan yang menggedor Tel Aviv dan tempat berlindung para pemimpin entitas Zionis.

Marwa Sulaiman mengatakan kepada koresponden Pusat Informasi Palestina, “Usia saya 25 tahun. Artinya saya dilahirkan setahun setelah meletus intifadhah batu. Saya tidak tahu tentang intifadhah itu kecuali gambar-gambar dan video serta penuturan keluarga saya pada saya. Saya pernah berharap ada di hari-hari intifadhah tersebut. Dan betul, meski usia saya masih anak-anak ketika meletus intifadhah al Aqsha (tahun 2000, red) namun saya menyaksikan batu dan ikat pinggang bom. Hari ini, atas karunia Allah, saya bisa menyaksikan rudal M75 yang menggempur target-target penjajah Zionis di ‘Jerusalem’ (al Quds) dan di dalam wilayah pendudukan 1948. Ini merupakan gaung batu yang saya belum pernah melihatnya pada tahun 1987.”

Marwa Sulaiman menyatakan bahwa intifadhah ketika diprediksi bakan terjadi. Ini menilik apa yang terjadi di tanah Palestina. Rakyat sudah marah akibat praktek-praktek penjajah Zionis. Namun sampai saat ini belum tiba dan sarana konfrontasi yang akan terjadi akan lebih kuat dari sebelumnya.

Meskipun ada pendistorsian yang terus dilakukan terhadap perlawanan, yang bermula dari batu, dan upaya untuk menghilangkan kepercayaan kepada orang bercadar sebagai upaya untuk merusak revolusi rakyat, dengan mengaitkan orang bercadar dengan narkoba, kejahatan dan cap-cap negatif lainnya, namun orang bercadar itu tetap keluar dalam parade militer membawa rudal-rudal yang diperolehnya setelah perjalanan dua setengah dekade perlawanan, yang bisa menghapus kegagalan yang dibawa PLO dari Beitur ke Tunisia dan Yordania sampai ke perjanjian Oslo. [asw/PIP/YL/Islamedia]

Iklan
Posted in: Islam, Palestina, Zionis