[#AYTKTM] Belajar dari Bu Rusmiati

Posted on Desember 13, 2013

0


Islamedia – Mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an adalah pekerjaan yang sangat mulia di hadapan Allah swt. belajar Al Qur’an pun tidak pernah dibatasi oleh usia. Berapapun usia seseorang, ia masih bisa untuk mempelajari Al-Qur’an selagi ajal belum datang menjemput. Bu Rusmiati namanya, Ia adalah salah satu orang yang tidak dibatasi usia. Ia merupakan peserta baca Al Qur’an di Majlis Taklim Abatasa yang terletak dikawasan Kemandoran, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Keinginan ibu-ibu dikawasan komplek TVRI Kemandoran untuk belajar Al-Qur’an menjadi salah satu latar belakang didirikannya Majlis Taklim Abatasa dikawasan Komplek TVRI.
 
Ibu-ibu kontrakan adalah sebutan untuk ibu-ibu yang mengontrak disekitar Komplek TVRI. Mereka selalu datang secara bersama-sama ke Majlis Taklim Abatasa dua kali sepekan yakni hari selasa dan rabu, seusai menunaikan ibadah Shalat Magrib sampai pukul 21.00 WIB dan tidak terkecuali bu Rusmiati pun ikut dalam rombongan tersebut.
Beda dengan ibu-ibu yang lain, Bu Rusmiati belajar tiga kali sepekan yaitu setiap selasa, rabu dan minggu. Ia pun pergi ke tempat belajar Al-Qur’an dengan berjalan kaki kurang lebih setengah kilo dengan membawa tas kecil berwarna coklat yang berisi buku Iqro’ dan buku pemantau Iqro.
Bu Rusmiati sangat berbeda sekali dengan ibu-ibu yang lain, tingkat kecerdasan bu Rusmini tidaklah sama dengan peserta lainnya. Kecerdasannya bisa dibilang sangatlah lemah sehingga kerap kali salah dalam mengucapkan huruf-huruf hijaiyah dan mengingat bentuk-bentuk hurufnya. Hampir setiap dua huruf ia baru bisa menghafalnya dalam jangka dua sampai tiga minggu. Itupun tidak lantas membuat dia hafal betul. Ketika berpindah dari satu huruf ke huruf , dari satu halaman ke halaman yang lain, ia lupa lagi dengan huruf yang sebelumnya.  Kita tidak bisa bayangkan seandainya hal yang demikian itu terjadi pada diri kita, mungkin kita akan mudah berputus asa dan mengatakan bahwa saya tidak akan bisa membaca Al-Qur’an.
Bu Rusmiati dengan semangatnya yang tinggi, menjadikan dirinya murid teladan di Majlis Taklim itu, bahkan bu Rusmiati menjadi peserta yang paling tua karena umurnya yang sudah mencapai 71 tahun . Semangatnya untuk mempelajari Al-Qur’an tidak pernah padam ditelan oleh usia. Ketika musim hujan tiba, biasanya rasa malas sering menimpa kita.  Namun, berbeda lagi dengan bu Rusmiati, ia selalu hadir meskipun hujan turun dengan derasnya.
Kesabaran dan kesungguhannya dalam mempelajari kitab suci, bisa kita bayangkan dari jilid yang dia selesaikan, bahwa hampir satu tahun bu Rusmiati mempelajari Al Qur’an tapi baru sampai pada huruf ya’. Namun ia terus berusaha semaksimal mungkin agar ia benar-benar bisa membaca Al Qur’an seperti teman-temannya. Umurnya yang sudah 71 tahun tentu tidak mudah bagi seseorang mempelajari Al Qur’an tapi keyakinannya bahwa setiap usaha pasti ada imbalannya membuat ia bertahan sampai sekarang ini. Mudah-mudahan kita bisa belajar dan mengambil manfaat dari bu Rusmiati. Harapan itu masih ada.

Lalu Ismul Hakiki 
Grogol Selatan,Kebayoran Lama Jaksel

Iklan
Posted in: Indonesia