#IndonesiaMengaji, Me-Ramadhankan Tilawah Berkat ODOJ

Posted on Januari 2, 2014

0


Islamedia – “Ah kok cuma baca? Jadi kesannya cuma kejar target baca Qur’an doang, tapi gak paham maksudnya. Nggak efektif lah grup begitu”

Iya, bener. Memang yang paling bagus mengamalkan Qur’an, seperti Rasulullah, “kana khuluquhu quran“, akhlaqnya seperti Al-Quran. Tetapi, bukankah mengajak orang berbuat baik perlu bertahap? Pun kaitannya dengan tilawah, justru mengejar target bacaan tetap perlu dong. Bukankah tuntunan Rasul, setiap muslim diminta mengkhatamkan Quran dalam sebulan? Itu artinya ada target bacaan. Selanjutnya, tentu target pemahaman, penghafalan, pengamalan, seperti komentar di atas. Bukankah Rasul juga mengajarkan untuk mengajak orang secara bertahap, supaya orang merasa mampu dulu, tidak langsungnggeblag terus lari kencang menghindar jauh, karena target yg kita tuntut padanya terlalu tinggi.  Masyhur ucapan Ali bin Abi Thalib, “khotibunnasa ‘ala qodri u’qulihim” berbicaralah pada seseorang sesuai kapasitas intelektualnya. Mengajarkan suatu keahlian pada anak pun, dilakukan secara bertahap. Anak bisa memanjat pohon, diawali dari belajar dari nungging, lalu merambat, lalu berjalan dengan dititah, lalu mampu berjalan tanpa dibantu meski terhuyung, lalu berjalan dengan stabil, lalu berlari, mendaki, menurun, baru bisa memanjat. Hebat kalau ada anak-anak yang belum bisa berjalan dengan stabil, tahu-tahu bisa diajarkan untuk memanjat pohon.
“Saya sih sudah biasa kalau tilawah 1 juz sehari. Kan memang kewajiban tarbawi begitu, tilawah 1 juz per hari. Rasanya tak perlu lagi ikut grup ODOJ“.
Jujur, seperti itu juga yang pernah ada di lintasan hati saya. Bukankah tuntutan itu pula yang selama ini ditekankan saat bergabung di lingkaran beraroma surga, bahwa target bacaan tilawah yang harus diisi setiap pekannya ya 7 juz, atau 1 juz setiap hari? Namun, kemudian saya berpikir lagi. Bukankah dalam kenyataannya, jujur saja, kadang saya meleset dari target, tidak mampu tilawah 1 juz per hari sesuai tuntutan? Apalagi jika kondisi tidak memungkinkan seperti anak dan suami sakit, sedang bertumpuknya tugas di kantor, atau dalam perjalanan jauh… kondisi-kondisi itu sering ‘sukses’ menggoda saya untuk tak memenuhi target tilawah 1 juz per hari. Nah, mungkin dengan bergabung ke grup odoj, saya akan memiliki motivasi yang lebih kuat untuk tilawah setiap hari. Kekuatan yang sedikit memaksa, karena harus melaporkan pada jam tertentu, dan jika tidak disiplin akhirnya dikeluarkan. Mungkin memang perlu dipaksa semacam itu.
Memang intinya adalah kewajiban untuk mengaji 1 juz per hari. Mau bergabung dengan grup ODOJ atau tidak, ya monggo. Tetapi, amal shalih itu banyak kreasinya kok. Dengan bergabung, orang yang sudah biasa tilawah 1 juz sehari bisa mengambil lelangan banyak-banyak, bisa juga menyemangati yang lain, termasuk menambah saudara di seluruh dunia, dan saling sharing tentang keislaman. Itu juga pahala, kita maju bersama-sama, masuk surga bersama-sama, bismillah.
Ketentuan tentang lelang pun menarik hati saya. Artinya, saya bisa membaca lebih dari 1 juz setiap harinya jika sanggup. Sempat terbersit di hati saya: Bagaimana jika saya bergabung lalu konsisten mengambil lelangan? Syukur-syukur bisa mengambil lelang hingga 3 juz seperti gambar ini
Gambar
Benar saja, saat saya mulai bergabung dengan ODOJ, yang memang pesertanya muslimah semua, ada semangat yang luar biasa untuk segera menuntaskan kewajiban tilawah 1 juz. Lalu ada semangat serupa untuk mengambil lelang.
Karena ini grup muslimah, memang selalu ada yang dilelang setiap harinya karena ada peserta yang udzur bulanan. Bahkan kadang yang dilelang hingga 10 juz, selama berhari-hari. Biasanya, saya menuntaskan bacaan wajib segera usai sholat subuh, lalu berinisiatif mengambil lelang. Harus cepat-cepat, karena kalau kalah cepat keburu lelangnya diambil orang. Lelang pertama ini biasanya tuntas usai sholat dzuhur atau ashar, atau kadang jika waktu luang juga tuntas di pagi hari. Nah, setelah itu bisa mengambil lelang lagi, jika ada jatah yang belum terambil. Ini serrru! Saya juga heran, mengapa jadi memiliki energi yang luar biasa untuk tilawah, hampir seperti ramadhan. Jika dulu, tiap usai sholat paling mampu membaca 2 lembar, sehingga untuk 5 kali sholat genaplah tilawah 1 juz.
Maka, sejak bergabung dengan ODOJ, usai sholat bisa langsung tilawah nggeber1 juz. Setelah menamatkan SBW (setoran bacaan wajib) 1 juz usai subuh, siap- siap mengejar lelang. Sampai ada istilah ‘pejuang lelang’ di grup kami.
Dillihat dari kuantitas juz yang dibaca, akhirnya benar-benar bernuansa Ramadhan setiap hari, karena tilawah bisa 2-5 juz setiap harinya, dan anehnya tidak ada kelelahan tersisa. Subhanallah!
Dulu, usai sholat tahajjud menunggu subuh itu adalah perjuangan melawan ngantuk, sekarang sejak bergabung dengan ODOJ, tak mengantuk lagi, justru semangat menunggu subuh dengan tilawah sambil menuntaskan SBW. Dan, kenyataan satu ini juga penting. Dulu, interaksi dengan smartphone atau media sosial begitu tinggi, kemana-mana mencari: di mana BB saya? Sekarang sejak bergabung dengan ODOJ, yang pertama dicari adalah: di mana mushaf Quran saya? Benar-benar mampu mengalihkan perhatian dari hal-hal yang sia-sia. Dulu, jika dalam perjalanan naik mobil agak lama cenderung mengantuk atau sambil mengobrol, sekarang menjadi terbiasa untuk mengisi waktu dengan tilawah, minimal 1 juz. Ini mengingatkan saya pada almarhumah Ustzh Yoyoh Yusroh, Allahu yarham, yang mempunyai pojok tilawah di mobilnya, pun hingga ajalnya. Semoga kita juga mampu menirunya.
Suatu kali, Ust Abdul Aziz Abdur Rauf, MA (alhafidz),  saat saya masih di LTQ Al-Hikmah Jalan Bangka, pernah memberikan nasehat, untuk urusan Qur’an jangan qona’ah pasrah, tapi harus ngoyo. Beliau mengibaratkan makan, “Apa nggak bosen makan tempeee terus tiap kali makan? Tentu pengin variasi, sekali-kali daging, lain kali ikan, besok lagi bothok, dll. Begitu juga dengan hafalan dan bacaan Quran, apa nggak pengin nambah? Masak hafalannya juz 30 terus, masak bacaannya setiap hari kurang dari 1 juz terus?”
Alhamdulillah sekarang ada ODOJ. Komunitas yang sangat membantu agar kita terpacu untuk menunaikan kewajiban tilawah minimal 1 juz per hari. Komunitas  yang ‘memaksa’ kita untuk tilawah 1 juz per hari. Memang, kebaikan itu kadang harus dipaksa, awalnya. Lalu menjadi terbiasa.
Mungkin ada yang berpikir, “Waduh, berat nih kalau tilawah 1 juz per hari. Belum sanggup kayaknya”
Mari dicoba dulu yuk. Jangan bilang ‘berat, tidak bisa’ kalau belum mencobanya. Hmm, karena ini awal tahun, bagaimana kalau tilawah (minimal) 1 juz per hari via ODOJ bisa dijadikan salah satu resolusi mulai 2014?
Love #ODOJ, semoga mengalir pahala bagi penggagasnya, dan bagi kita semua

Member ODOJ464
Muktia Farid,
@muktiamini
Iklan
Posted in: Indonesia