Para Pejuang Kemanusiaan di Pengungsian

Posted on Januari 30, 2014

0


Islamedia – Jalanan sempit dan becek di siang itu. Tepat di tengah-tengah padatnya pemukiman yang berdekatan dengan kawasan industri tekstil, alat rumah tangga dan pabrik-pabrik lainnya. Memasuki kawasan ini,  gemuruh suara mesin dan kepulan asap dari pabrik tak menyurutkan semangat para relawan untuk membantu para korban bencana banjir di pemukiman wilayah Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat.
 
Siang itu, Senin (27/1) suasana kesibukan yang memburu amat terasa di PoskoDarurat Banjir ACT di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Letaknya sekitar lima kilometer arah timur Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Di tengah hawa panas mencekat khas wilayah pesisir utara Jakarta, tiga laki-laki tangguh terlihat berseragam Relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Sesekali menyeka peluh yang mengucur membasahi wajah mereka. Mereka adalah para pejuang kemanusiaan yang tak kenal lelah.
Mereka mengejar waktu. Menyiapkan pasokan konsumsi makan siang bagi ratusan pengungsi korban banjir Tegal Alur. Seorang relawan terlihat sibuk dengan tanggung jawabnya sebagai koki, merebus ratusan butir telur ayam, sedangkan dua orang relawan lainnya berjibaku mengangkat wajan besar berisi penuh 400 potong daging ayam siap disemur.
Mereka bekerja di Posko Darurat Banjir ACT ini selama 24 jam. Untuk menyiapkan makanan siap saji di posko ini, mereka mulai berbelanja bahan-bahan makanan sejak pukul 03.00 pagi. Kemudian, sebelum subuh relawan memasak di  Dapur Umum kerjasama ACT dengan mitra ADIRA Group (Adira Finance, Adira Kredit dan Adira Insurance). Masakan dibuat untuk tiga kali makan 400 pengungsi . Bayangkan! Untuk menyiapkan makan sebanyak itu dikerjakan oleh hanya tiga orang relawan.
“Tenaga relawan di sini, kami hanya bertiga, sangat tak memadai untuk menyiapkan dan mendistribusikan lebih dari 1.000 bungkus nasi tiap harinya,” jelas Debil, koordinator relawan Posko Banjir Tegal Alur.
Terhitung sejak Sabtu hingga Senin (25-27/1/2014), Posko ACT Tegal Alur hanya dibantu tiga orang relawan. Debil bersama dua relawan rekan kerjanya, Agung dan Rijal mau tak mau harus rela menyiapkan tenaga penuh, bahu membahu menghidupkan dapur umum. Tak kenal lelah, mereka  konsumsi bagi korban banjir Tegal Alur.
Kondisi yang terjadi di Posko Tegal Alur merupakan imbas dari minimnya jumlah tenaga relawan yang benar-benar siap menjadi relawan yang bertugas selama 24 jam danditempatkan di posko masing-masing. Kebutuhan tenaga relawan masih belum merata untukmengisi tiap-tiap posko darurat banjir yang didirikan ACT.
Menyadari kondisi yang terjadi, Debil tak mau menuntut lebih. Sambil menunggu tambahan tenaga relawan, ia harus berusaha membangun dapur umum ACT tetap mengepul.
“Sebisa mungkin semua urusan dapur umum kami kerjakan bertiga, mulai dari belanja bahan makanan, menanak nasi, memasak sayur, menyiapkan lauk-pauk, membungkus makanan, hingga proses distribusi,” ungkap Debil di sela-sela kepulan asap semur ayam yang menyeruakkan wangi khas rempah-rempah.
Menjadi relawan di tengah kondisi darurat bencana memang dituntut untuk memiliki ketangguhan di atas rata-rata. Meski berselubung kendala, segala usaha tetap harus dilakukan demi meringankan beban saudara-saudara kita yang terkena bencana alam. Debil, Agung, dan Rijal, tiga orang relawan yang bertugas di Dapur Umum Tegal Alur menjadi salah satu contoh orang-orang biasa dengan peran yang luar biasa.[act/Islamedia/YL]
Iklan
Posted in: Indonesia