Surat Cinta dari Mesir

Posted on April 1, 2014

0


Islamedia – Akhir-akhir ini, banyak pembahasan Mesir di jagad FB juga Twitter. Hal ini mungkin karena ada akar sejarah sangat kuat antara Mesir dan Indonesia. Teringat kisah utusan Indonesia -yang saat itu belum dikenal dan belum diakui internasional- yang ditanya “Are you Moslem?” ketika tiba di Mesir tahun 1947. Dengan serempak mereka menjawab “Yes”.

Lalu petugas berkumis Bandara itu bilang “Well, then, Ahlan Wa Sahlan, Welcome!”, dan H. Agus Salim, AR Baswedan, Mr Nazir & Prof Rasjidi lewat begitu saja tanpa diperiksa petugas bersiap menghadap perdana menteri Mesir, dan Raja Farouq. Dengan pakaian sederhana. 3 bulan lamanya
Mereka bernegosiasi, menjelaskan tentang Indonesia ke wartawan-wartawan, mencari dukungan, dll.

Nama Indonesia sayup-sayup muncul menghiasi media di Mesir. Hingga pada suatu malam mereka bertemu Raja Farouq dan raja berkata “Karena persaudaraan Islamlah, terutama, kami membantu dan mendorong Liga Arab untuk mengakui kedaulatan Bangsa Indonesia.”

Tanggal 10 Juni 1947, jam 9 pagi para delegasi RI tiba di ruang Kemenlu Mesir, sekaligus PM
Mesir Nokrashi Pasha. Namun mereka menunggu sekitar setengah jam, dan tiba – tiba keluar seorang -duta Besar Belanda- dari ruang PM Mesir. Belanda memprotes Mesir karena akan mendukung Indonesia.

Dengan tegas, PM Mesir bilang “Menyesal sekali kami menolak Tuan, sebab Mesir selaku negara berdaulat, dan sebagai negara yang berdasarkan Islam, tidak bisa tidak perjuangan bangsa Indonesia yang beragama Islam.”

Detik-detik itu digambarkan oleh AR Baswedan sangat mengharukan – kisah lengkapnya jk tdk berhalangan akan ditulis kemudian-, tak terlukiskan dengan kalimat. “Lega dan syukur kepada Allah, karena Republik Indonesia pada akhirnya mendapat pengakuan De Jure dalam dunia Internasional,” katanya.

Bulir- bulir bening membasahi pipi para delegasi. Bergetar tangan H.Agus Salim menandatangani perjanjian persahabatan antara RI dan Mesir 10 Juni itu. Kairo menjadi saksi, bahwa disanalah, tonggak RI dikenal, bahkan suaranya mulai didengar.

29 Juni Libanon mengakui kedaulatan RI, satu per satu pengakuan berdatangan. Pupus harapan Belanda yang menandatangani perjanjian Linggarjati maret 47, bahwa nanti akan membentuk Indonesia Serikat, akan dikuasai Belanda. Pengakuan Mesir telah menghancurkan harapan
tersebut. Tak lama, Juli 47 Belanda melancarkan Agresi pertama. Dengan dukungan Internasional, RI saat itu bisa bersuara di PBB, hingga diinisiasi perundingan Renvile – oleh PBB- yang akhirnya dilanggar Belanda sendiri pada Agresi Militer Belanda II.

Kini, Mesir kembali bergejolak. Ikatan batin itu mungkin terasa samar-samar. Kalau awal tahun 47, Abdul Mun’im (diplomat Mesir) datang bertaruh nyawa -menyelinap- menembus blokade Belanda, menyewa pesawat dari Singapura ke Yogyakarta bertemu Soekaeno, Sri Sultan, shalat Jumat

Bersama. Meminta Soekarno agar mendatangkan utusan ke Mesir -hingga 4 orang datang-. Mungkin saat ini, saat Mesir bergejolak, hanya doa yang terucap, yang bisa kita lakukan. Surat yang dibawa AR Baswedan, penandatangan pengakuan kedaulatan, yang sendirian ia bawa kembali ke Indonesia bertaruh nyawa, Surat Cinta ini melebur hingga RI dapat tegak, tempat kita berdiri sekarang…

Wartawan, aktif kajian sejarah di JIB (Jejak Islam (untuk) Bangsa)
Iklan
Posted in: Indonesia, Mesir