Mitos dan Sejarah: Dari SBY ke Jokowi

Posted on April 28, 2014

0



Islamedia.co – Suasana jelang Pilpres 2014 menguak kenangan lama 10 tahun silam. Saat itu, saya masih ingat betul, menjelang pemilu 2004, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) banjir pujian dari hampir semua orang di negeri ini. SBY menjadi anak emas seluruh media massa: dari cetak hingga elektronik. SBY menjadi media darling. Setiap gerak-gerik yang dilakukan SBY menjadi santapan media dengan cita rasa positif. Setiap tindak tanduknya menjadi berita utama. Singkat kata: SBY bak malaikat yang diyakini bisa menyelesaikan persoalan di Tanah Air.
 
Sisi human interest pun tak luput diberitakan untuk menambah dramatisasi suasana psikologis publik. Karena itu, ketika Taufik Kiemas menyebut SBY sebagai “Jenderal kok kayak anak kecil”– untuk menjawab pertanyaan watawan seputar pengunduran diri SBY sebagai menkopolhukam—serta merta media pun menjadikan ini sebagai headline. Jadilah SBY sosok yang dizalimi sehingga menarik simpati luar biasa dari masyarakat.
 
Pencitraan tersebut akhirnya berujung pada kesuksesan SBY meraih posisi RI 1 dengan Jusuf Kalla sebagai pendampingnya. Suasana gegap gempita meruak. Metro TV yang kini kerap menjelekkan SBY, kala itu secara langsung menayangkan euphoria detik-detik kemenangan SBY.
 
Kini, fenomena tersebut terulang jelang Pilpres 2014. Jokowi sekarang menjadi SBY baru. Jokowi menjadi media darling. Apapun tentang Jokowi diberitakan positif oleh seluruh media. Jokowi mendadak menjadi ikon perubahan yang dicitrakan mampu menyelesaikan persoalan di Indonesia. Gaya kepemimpinanya, kesederhanaannya, kepolosannya dan blusukannya terus diberitakan dan dianggap sesuai dengan kebutuhan bangsa ini.
 
Saya mengistilahkan fenomena ini dengan mitos. Mitos adalah sesuatu yang belum tentu benar tapi telah terlanjur dianggap kebenaran oleh masyarakat. Dan media memiliki peran sangat luar biasa besar dalam melakukan mitosisasi tersebut.
 
Media dengan semangat mencitrakan bahwa SBY dan Jokowi adalah sosok yang mampu membawa perubahan. Pencitraan ini belum tentu benar namun karena setiap hari media massa memborbardir publik dengan berita positif SBY dan Jokowi, maka masyarakat akhirnya terpengaruh dan terbentuk opininya. Tahun 2004, media menjadikan SBY sebagai mitos dan berhasil. Tahun 2014 mitos itu diarahkan kepada Jokowi.
 
Publik baru tersadar jika SBY selama ini hanyalah mitos ketika melihat kinerjanya sebagai presiden. Ternyata, SBY tak se luar biasa yang diberitakan. Ternyata SBY tak segemerlap yang diinformasikan. Ternyata SBY tak sebaik yang dikatakan media. Dan akhirnya, setelah mitos itu tak terbukti, publik ramai-ramai menghujat SBY, tak terkecuali media massa yang ironisnya justru menjadi pihak yang paling gencar.
 
Mitosisasi sangat berbahaya karena subeyktif, tak ada ruang untuk bersikap kritis dan terkesan memaksa publik untuk memilih orang sesuai dengan selera media.
 
Ada dua pertanyaan tersisa terkait fenomena mitosisasi ini. Pertama, Apakah Jokowi akan mengalami nasib setali tiga uang dengan SBY? Dielu-elukan di awal lalu kemudian dicampakkan di kemudian hari?  Ruang untuk itu selalu tersedia jika ketika Jokowi terpilih sebagai presiden. Karena, saat Jokowi menjadi presiden, ia telah berubah dari makhluk mitos menjadi makhluk sejarah.
 
Sebagai makhluk sejarah, kita bisa mengukur kemampuan Jokowi: kinerjanya, prestasinya, kebijakannya, sikapnya, dan sebagainya. Dan ketika semua itu tak berbanding lurus dengan mitos yang dicitrakan secara massif, maka hujatan pun akan datang bertubi-tubi. Persis seperti yang dialami SBY.
 
Persoalannya, apakah bangsa ini harus tercebur ke dalam lubang yang sama untuk kali kedua? Apalagi jika kita melihat Jokowi yang sesungguhnya telah menjadi makhluk sejarah saat ia menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta. Berbagai persoalan ibukota tak kunjung selesai bahkan justru kian parah.
 
Apakah Jokowi akan mengikuti jejak SBY? Semuanya ditentukan di bilik mungil saat rakyat menggerakkan paku di tangannya untuk mencoblos pemimpin pilihannya pada 9 Juli nanti.
 
 
@Erwyn2002
Iklan
Posted in: Indonesia