Usai Debat, Mengapa Elektabilitas Prabowo Menguat?

Posted on Juni 17, 2014

0


Suka atau tidak suka, sejak debat capres pertama digelar, tingkat popularitas dan elektabilitas Prabowo Subianto terus menguat tajam. Bahkan di Facebook, Mantan Danjen Kopassus itu menjadi politisi Indonesia dengan ‘like’ terbanyak yakni 5,7 juta orang. Tak hanya itu, berbagai lembaga survei mengakui peningkatan tajam elektabilitasnya.

Tak mengherankan kalau tokoh Islam Liberal yang juga aktivis NU Ulil Abshar Abdala, menilai capres nomor urut satu Prabowo Subianto unggul atas Joko Widodo dalam debat calon presiden (capres) 15 Juni kemarin. Meski Ulil Abshar sendiri mendukung Jokowi sebagai capres pada Pilpres 2014.

“Sejak acara debat pertama, popularitas Prabowo Subianto terus meningkat dan mulai bergerak dari posisi kelima ke posisi keempat politisi yang paling banyak di-‘like’ secara global,” tulis pernyataannya di Facebook.

Ulil Abshar juga melakukan kritik untuk Jokowi yang bertanya soal TPID kepada Prabowo, tanpa diberikan konteks dan penjelasan, sehingga nadanya seperti mau menjebak. “Itu kurang etis,” ujarnya.

Prabowo memang terus naik daun. Apalagi legenda bola Diego Maradona mendukung pencapresannya, yang menjadi bukti Prabowo punya ‘gaul’ kelas dunia. Facebook pun kemarin menggambarkan Prabowo sebagai politisi dari seluruh dunia yang mendapat ‘jempol’ terbanyak.

Sejauh ini, Facebook dipuncaki Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Perdana Menteri India Narendra Modi dan Politisi Amerika Serikat Mitt Romney. Prabowo berada di posisi keempat, tepat di atas politisi asal India Arvind Kejriwal. Menurut Facebook, Prabowo menjadi satu-satunya politisi Indonesia yang mendapat ‘jempol’ hingga 5,7 juta orang.

Para analis menilai, setelah dilakukan evaluasi debat pertama yang kurang greget pekan lalu, debat kemarin malam yang dirancang head to head berlangsung lebih hidup. Sebab, lebih banyak sesi saling tanya dan menanggapi diwarnai spontanitas Prabowo yang membuat suasana lebih cair dari debat pertama.

Dalam debat putaran kedua, Jokowi lebih banyak mengandalkan pendekatan mikro, program berbasis kartu jaminan, sementara Prabowo menitikberatkan pada pendekatan makro dan upaya menyetop kebocoran anggaran yang mencapai setidaknya Rp1000 triliun.

Secara terpisah, Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) M Afifuddin menilai dalam debat Prabowo telihat berwibawa menyampaikan gagasan, sedangkan Jokowi lebih cerdik dengan menanyakan hal-hal yang dia kuasai namun tidak dikuasai Prabowo seperti soal tim pengendali inflasi daerah (TPID).

Dan dalam pernyataan penutup, Prabowo juga berhasil menarik perhatian karena akan membuat wong cilik bisa gemuyu, dan kembali menekankan penguasaan kekayaan alam untuk memakmurkan rakyat. Prabowo juga menekankan pentingnya Indonesia disegani bangsa lain karena rakyatnya sejahtera.

Di sisi lain Prabowo juga berusaha menyerang Jokowi soal kontrak karya, yang dijawab Jokowi dengan normatif saja. Tidak ada kejutan. Akibatnya, kubu Prabowo-Hatta terus melejit, mengejar elektabilitas Jokowi-Jusuf Kalla pada posisi seimbang sekarang.

Walhasil, melejitnya Prabowo pasca debat capres dengan Jokowi, mengisyaratkan kekuatan gagasan dan visi-misinya ke depan, yang selayaknya tidak diabaikan dan disepelekan oleh segenap kubu Jokowi yang berseberangan. [berbagai sumber]

*http://nasional.inilah.com/read/detail/2110297/usai-debat-mengapa-elektabilitas-prabowo-menguat#.U58L5kDeNc0

Iklan
Posted in: Indonesia