Cerita Dibalik Rumah Megah “House of The Rising Sun” Ustadz Cahyadi Takariawan

Posted on Agustus 20, 2014

0


 

“Rumah Hadiah”

Oleh Ida Nurlaela ‘Cahyadi Takariawan’

Ini adalah tulisan ke empat. Yang pertama di sini, kedua di sini, ketiga di sini.

“Kami membangun rumah ini modalnya sejuta dik…” kata mbak Lilik.
“Hah…yang betul mbak?!” kataku penasaran.

“Iya betul. Mulanya uang sejuta saya titip ke toko besi yang saya percaya. Pak ini uang sejuta kalau beli semen dapat berapa sak? Tahun itu bisa dapat 40 sak. Jadi dicatatlah kami membeli semen. Saya minta diantar besok jika saya sudah siap membangun rumah…”

Begitulah tiap punya rejeki, mereka menitipkan uang yang dicatat sebagai pembelian semen, besi, kayu, kusen, paku dsb.

Beberapa tahun kemudian saat mereka punya tanah dan siap membangun, mereka tinggal minta dianterin bahan yang telah dibeli bertahun-tahun yang lalu….

Sekalipun sebenarnya harga barang saat diantar sudah jauh melambung dari saat akad, tapi pemilik telah sepakat untuk memberikan sesuai perjanjian jual beli di depan.

“….jadi dik, jangan takut untuk mulai membangun rumah. Mulai saja…nanti rejeki akan datang sendiri….Pokoknya harus yakin Allah Maha Kaya.

Cerita yang sungguh menginspirasi. Tinggal cari toko bahan bangunan yang bisa dipercaya untuk model pembelian seperti itu ya…

Anda yang ingin meniru, semoga menemukan toko yang tepat, yang pemiliknya baik dan amanah…

Bazar murah yang meriah di garasi rumah

Tapi kami tidak sepenuhnya meniru modus kakak senior itu.

Setelah menimbang-nimbang, kami memutuskan memindahkan tanah warisan jatah suami dengan membeli tanah di Jogja. Itu tahun 2003. Tentu sepersetujuan ibu mertua. Memang bapak mertua almarhum pernah berpesan bahwa anak-anak boleh memindahkan jatah tanahnya ke lokasi yang diinginkan.

Uang yang ada jika membeli di kawasan kota, hanya akan mendapat lahan yang sempit. Kami memilih di desa, dekat sawah, dekat masjid, tak jauh dari sekolah anak-anak, tak jauh dari Bandara dan terminal. Masih bonus view gunung Merapi. Alasan lain jika di desa masih terus bisa diperluas.

Itulah tanah cikal bakal rumah kami. Suamiku minta tolong temannya seorang pemborong yang sungguh baik hati untuk mengelola pembangunan rumah. Modalnya tabungan yang tidak begitu banyak dan hasil penjualan tanah yang pernah kami beli di lokasi yang kurang strategis sepuluh tahun sebelumnya..

Subhanallah ternyata butuh waktu dua tahun hingga rumah utama selesai dan bisa kami tempati. Kadang kami kehabisan uang dan suamiku bilang ke temannya untuk menghentikan sementara. Tapi temannya menolak.

“Biar kupinjami dulu bahan-bahannya, yang penting tolong carikan uang untuk bayaran tukang setiap hari Sabtu…”

Memang pemborong ini punya toko bahan bangunan juga. Subhanallah itu namanya pertolongan Allah yang datang dari tempat yang tidak disangka-sangka.

“Bagi saya kehormatan untuk membuatkan rumah pak Cah dan keluarga…” begitu kata sang pemborong.

Tahun 2004 kami mulai membangun rumah induk dan tahun 2006 telah kami tempati.
Sejak itu kami tidak berhenti membangun. Ada saja rejeki untuk ditempelkan jadi sesuatu. Tanah juga diperluas dari waktu ke waktu hingga menjadi 3 sertifikat. Gak perlu diceritakan bahwa kami juga harus menyekolahkan sertifikat untuk terus menyempurnakan fungsi-fungsi rumah.

Pertolongan dari Allah adalah terus berdatangan order pelatihan dari perusahaan-perusahaan besar atau kecil, bahkan yang gratisan…alhamdulillah.

Sepuluh tahun sudah sejak kami meletakkan batu pertama, ternyata terus saja tak bisa dihentikan. Hari ini kami membangun 3 kamar mandi lagi, bersiap menghadapi rombongan yang akan menginap akhir bulan ini.

Di Garasi mereka mengantri menyetorkan hafalan Qur’an

Maka jika mengenalkan bagian rumah kepada tetamu untuk memotivasi agar mereka mau berkarya dengan menulis, suamiku bilang:

“Ini garasi Amerika…karena dibangun sepulang saya diundang sebulan ke Amerika….ini paviliun Jepang, karena saya dapat sepulang dari tiga minggu di Jepang…Ini area Korea, Ustrali…..dst…”

Ada seorang tukang yang bahkan terus bersama dengan kami membangun rumah itu, yang pernah kuceritakan di sini.

Kalau sekarang orang yang baru mengenal kami dan tidak tahu cerita dibalik house of the rising sun…semoga sekarang lebih bisa melihat runtutannya. Itu pula yang membuat kami memilih rumah tak berpagar dengan halaman yang mengundang.

Merasa bahwa ini bukan milik kami sepenuhnya, ini adalah rumah hadiah dari Allah, maka kami selalu menawarkan kepada siapapun yang membutuhkan tempat transit, tempat menginap atau tempat beraktivitas.

Silahkan menggunakan fasilitas yang disediakan Allah. Kami masih ingin terus meluaskan, membaguskan dan membuat nyaman untuk bisa memberikan keberkahan kepada lebih banyak orang.

Komunitas Toekangphoto pernah manjadi tamuku

Sejak berdiri tak henti kami menerima tamu, hanya sekedar beraktivitas atau numpang menginap. Seperti komunitas toekang photo dalam cerita ini.

Bulan Ramadhan garasi menjadi tempat tarawih remaja dan anak, serta aktvitas tahfidz dan pengajian. Saat lebaran digelar open house menjamu para tetangga yang berkunjung.

Open house lebaran

Awal Agustus ini juga ada odojer dari Jadebotabek yang transit tiga hari dalam perjalanan wisata religi mereka. Akhir bulan nanti juga ada rombongan yang akan transit menginap beberapa hari dari Bekasi.

Kepada semua yang yang menginginkan rumah besar dan berkah, pertama yakinlah bahwa Allah Maha Kaya. Jangan hanya bertumpu pada hitungan manusiawi kita. Terus bekerja, terus berusaha, beramal dan berdoa. Allah akan mudahkan kita mewujudkan impian. Yang namanya menabung, bukanlah semata menabung uang, tetapi memperluas silatrurahmi, menabur amal kebaikan juga bagian dari tabungan.

Jika kita mempermudah urusan orang lain, semoga Allah mempermudah urusan kita dunia akhirat.

Yang paling penting…niatkan sebanyak mungkin kebaikan dalam memfungsikan rumah impian…biar jadi amal dunia akhirat.

Bismillah …semangaat!

Kuceritakan semua ini apa adanya untuk menjadi inspirasi bagi siapa saja yang menginginkan rumah impian. Ya Allah jauhkan kami dari sifat sombong dan riya’, dan jadikan kami hamba yang pandai mensyukuri nikmatmu, amiin.

Tunggu tulisan selanjutnya tentang menabung amal berbuah fasilitas kehidupan.

Pengobatan gratis juga di Garasi

Ditulis 10 Agustus 2014

*sumber: http://ida-nurlaila.blogspot.com/2014/08/rumah-hadiah.html

Iklan
Posted in: Indonesia, Islam