Kisah Theresa Corbin, Feminis yang Masuk Islam

Posted on Oktober 26, 2014

0


Islamedia.co –  Usianya masih 21 tahun saat dia memutuskan untuk menjadi seorang mualaf. Usia yang relatif muda bagi seorang perempuan yang berani mengambil keputusan untuk pindah agama. Dia adalah Theresa Corbin. Seorang feminis yang berasal dari Baton Rouge, Lousisiana.

Kepada CNN dalam sebuah artikel yang dikutip Islamedia.co dari Kompas, Corbin menceritakan kisahnya saat memutuskan menjadi seorang mualaf dan perjalanan hidupnya sebagai seorang muslimah. Corbin menjadi Mualaf pada November 2001, atau dua bulan setelah tragedi runtuhnya Gedung World Trade Centre pada 9 September 2001.

Menurut dia, saat itu adalah waktu yang buruk untuk menjadi seorang muslim. Tapi, setelah empat tahun mempelajari Islam, dia memutuskan untuk mengambil resiko. Corbin merupakan perempuan yang dilahirkan dari keluarga Katolik dan atheis.

Perjalanannya menuju Islam dimulai saat dia berusia sekitar 15 tahun. Saat itu, dia memiliki pertanyaan mengenai iman yang diyakininya. Dia mulai menanyakan mengenai hal tersebut kepada guru dan pendeta-pendeta, namun jawaban dari mereka tidak memuaskan Corbin.

Setelah bertanya tentang segala sesuatu yang telah dia pelajari untuk menjadi sebuah kebenaran, dan menggali melalui retorika, sejarah, dan dogma, Corbin menemukan sesuatu hal yang berbeda tentang Islam. Dia belajar bahwa Islam bukanlah budaya atau sekte yang sesat. Islam juga tidak dapat disebut mewakili satu bagian dari dunia, tapi seluruh dunia.

“Saya menyadari Islam adalah agama dunia yang mengajarkan toleransi, keadilan, dan kehormatan dan memperkenalkan kesabaran, kerendahan hati, dan keseimbangan,” ucap Corbin.

Ketika dia mempelajari tentang keimanan di Islam, dia sangat senang karena menemukan fakta bahwa Islam mengajarkan pemeluknya untuk menghormati semua nabi, termasuk dari Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad. Islam mengajarkan manusia untuk menyembah satu Tuhan dan bertingkah laku dengan tujuan menjadi manusia yang lebih baik.

Corbin sangat tertarik dengan Islam setelah mendengar seruan tentang kecerdasan dan sikap berbesar hati yang disabdakan oleh Nabi Muhammad. Seruan itu berbunyi “Pengetahuan adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki atau perempuan.”

Dia terkejut tentang ilmu pengetahuan dan rasionalitas yang dimiliki oleh pemikir-pemikir muslim, seperti. Al-Khawarizmi yang menemukan aljabar, Ibnu Firnas yang mengembangkan mekanisme penerbangan sebelum Leonardo da Vinci, dan Abu al-Qasim al-Zahrawi, yang merupakan ayah dari operasi modern.

“Disini (Islam) agama lah yang memberitahu saya untuk mencari jawaban dan menggunakan kecerdasan saya untuk mempertanyakan dunia di sekitar saya,” ucap Corbin. [gie/islamedia/kmps]
Posted in: Amerika, Islam