Paris : Tak Maukah Anda Baca Yang Satu Ini

Posted on November 21, 2015

0


Islamedia – Tak maukah anda membaca ini, dan aku sama sekali tak senang menulisnya, dan tak seorangpun benar-benar mau dengar juga saat ini. Tapi aku yakin memang mesti diungkapkan.

Aku ikut bergabung dalam duka dunia atas kematian di Paris. Aku sudah berduka pada semua yang mati sejak 9/11 dan seterusnya—orang-orang Australia yang mati dalam serangan Bom Bali di tahun 2002, orang-orang London yang mati karena serangan teror di tahun 2005, warga Perancis yang mati dalam serangan Charlie Hebdo di bulan Januari tahun ini, orang-orang Rusia yang pesawatnya jatuh di Sinai sekitar beberapa minggu lalu. Banyak lagi kematian non-western yang nyaris tak diketahui di media AS. Aku juga berduka pada mereka yang terbunuh dalam serangan-serangan lebih kecil yang sudah menyungsep masuk ke dalam kerumitan memory kita.

Dan kita juga ramai di Twitter dengan tagar dan frase-frase dan memosting GIFs ke facebook. Kita tahu apa yang kita lakukan; karena kita juga sudah lakukan ini sebelumnya.

Tapi mesti dikatakan, khususnya menyaksikan pengulangan yang bikin muak dari cerita yang sama, bahwa setelah 14 tahun lebih perang teror, teror tampaknya malah bertahan tinggal bersama kita, bahkan berkembang lebih besar. Saatnya untuk memikirkan ulang apa yang sudah kita lakukan dan sedang lakukan.

Sejak hari di tahun 2001 itu, peristiwa yang membuat langit New York bercahaya api, kita sudah memata-matai dunia, warga Amerika di dalam negeri dan orang-orang asing di luar negeri, masih saja tak seorangpun sanggup mendeteksi apapun yang dapat menghentikan serangan Paris. Kita mengorbankan banyak untuk mata-mematai itu dan tak dapat imbal hasil apa-apa.

Sejak 2001, AS sudah memimpin negara-negara seperti Inggris, Perancis, Australia, dan lainnya dalam perang di Irak, Afganistan, Libya dan Suriah, dengan serangan drone pada rakyat dari Filipina sampai Pakistan hingga penjuru Afrika. Nyaris tak ada yang patut kita pertontonkan.

Sejak 2001 AS sudah menghabiskan berbagai cara untuk membunuh sejumlah orang—bin Laden, al-Zarqawi, al-Awlaki, dan minggu ini, Jihadi John, dan lainnya tanpa nama, dibunuh diluar perhatian media, atau disiksa sampai mati, atau dibiarkan membusuk di daratan koloni pidana Guantanamo, atau di neraka jahanam di Salt Pit Afghanistan.

Dan tak ada hasil, dan Paris minggu ini, dan yang berikutnya lagi entah dimana dan kapan, adalah bukti saja.

Kita serahkan banyak sekali kebebasan kita di Amerika untuk mengalahkan para teroris. Tidak berhasil. Kita sembahkan hidup lebih dari 4000 laki-laki dan perempuan di Irak, dan ribuan lainnya di Afghanistan, untuk mengalahkan teroris, dan menolak bertanya untuk apa mereka mati.

Kita membunuh puluhan ribu bahkan lebih orang di negeri-negeri itu. Tidak juga berhasil. Kita berangkat perang lagi dengan Irak, dan sekarang Suriah, sebelumnya Libya, dan hanya menciptakan lebih banyak negara gagal dan ruang-ruang tak berpemerintahan yang memberi ruang surga bagi para teroris dan menumpahkan teror seperti cat tumpah di sepanjang perbatasan. Kita lecehkan dan diskriminasikan penduduk Muslim kita sendiri dan berdiri terbengong-bengong ketika mereka menjadi lebih teradikalisir, lalu yang kita lakukan menyalahkan ISIS karena berkicau di Twitter.

Katakanlah itu merupakan strategi teror Islamis untuk memicu crackdown di Perancis sehingga meradikalisir para Muslim Perancis. Ratusan penduduk Perancis sudah berangkat ke Suriah untuk bertarung bersama kelompok-kelompok seperti ISIS.

Seperti yang dikatakan komentator terpandai dalam bidang ini, Bill Johnson, terorisme adalah soal membunuh pion untuk menyasar raja. Serangan di Paris bukan soal pembunuhan 150 orang-orang tak bersalah. Ya ampun, sejumlah itulah tiap hari orang-orang mati di Irak dan Suriah. Uji sebenarnya untuk Perancis adalah bagaimana mereka merespon serangan teror ini dalam permainan jangka panjang—itulah yang sebenarnya raja dalam permainan ini. Amerika gagal ujian ini pasca 9/11; tetapi tampaknya Perancis juga tidak lebih paham dari Amerika.

“Kami akan memimpin perang yang bengis,”demikian Presiden Hollande bilang di depan gedung konser Bataclan, tempat kejadian yang paling berdarah.

Jika aku punya strategi lebih bagus, aku pasti akan kasih tahu kalian, aku pasti sudah mencoba dan bilang pada orang-orang di Washington dan Paris dan dimanapun juga. Tetapi aku tidak punya skenario pasti apa yang mesti kita lakukan, dan juga aku ragu mereka mau mendengarkan.

Tetapi aku pikir lebih baik begini: hentikan semua yang sudah kita lakukan selama 14 tahun ini. Sudah tidak berhasil. Tak satupun lagi menunjukkan strategi itu bisa berhasil. Whack-a-mole[1] itu permainan, bukan perencanaan. Biarkan Timur Tengah mengurus dirinya sendiri. Hentikan membentuk negara gagal. Hentikan buang-buang percuma kebebasan di dalam negeri atas nama kebohongan. Hentikan memuntungi hak-hak kewargaan Muslim yang hidup bersama kita. Pahami perang, seperti apa adanya, yaitu melawan seperangkat ide—keagamaan, anti-barat, anti imperialis—dan kau tak bisa membom ide. Menempatkan tentara-tentara barat di lapangan Timur Tengah dan pesawat-pesawat barat di angkasa hanya mengipasi nyala api. Balas dendam tidak bisa dan tak akan bisa memadamkan sebuah ide.

Mulailah dengan hal-hal tadi dan kita lihat jika ada perbaikan, meski kau tak beri 14 tahun yang sama untuk uji keberhasilan. Lagipula, aku tak punya bayangan tindakan apa lagi yang akan lebih buruk, selain angka kematian yang semakin banyak.

Peter Van Buren
‘Menghabiskan setahun di Iraq sebagai State Department Foreign Service Officer bertugas sebagai Team Leader untuk dua Provincial Reconstruction Teams (PRTs)’

Posted in: Perancis